Bisakah Game Sebabkan Kekerasan? Wacana Pelarangan PUBG

0
400
Ilustrasi game PUBG.
Ilustrasi game PUBG.

Nawacita – SETELAH serangan bersenjata di dua masjid Selandia Baru yang menyebabkan 50 orang meninggal dunia, muncul usulan agar game daring PlayerUnknown’s Battleground (PUBG) dilarang, karena dinilai dapat mendorong generasi muda ke arah terorisme.

Di Malaysia, seorang ulama mengusulkan kepada pemerintah agar menutup permainan online itu karena dianggapnya dapat “mendorong generasi muda ke arah terorisme”.

Senada dengan ulama Malaysia itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus mempelajari game tersebut, dan tidak menutup kemungkinan mengeluarkan fatwa terhadap keberadaannya.

“Kita akan pelajari, kalau memang ditemukan efek kuat game itu memengaruhi orang, sehingga bisa mengubah karakternya atau membuat orang jadi hobi pada sesuatu yang buruk,” kata Wasekjen MUI Pusat Muhammad Zaitun kepada BBC News Indonesia, Kamis 21 Maret 2019.

“Seperti teroris di New Zealand, itu kan seperti berdarah dingin betul. Ini juga kemungkinan karena game,” tambah dia.

Zaitun menambahkan, MUI mengundang masyarakat untuk memberikan masukan dan informasi lebih lanjut tentang dampak game PUBG terhadap pemainnya.

Sementara Pemerintah Indonesia melalui Plt Kepala Biro Humas Kemenkominfo Ferdinandus Setu menyatakan tidak ada masalah dengan PUBG asal dimainkan sesuai umur.

“Ya menurut kami orang bisa terinspirasi oleh apa saja. Kita jangan terlalu latah untuk ikut-ikutan menganggap game ini menjadi pemicu (aksi terorisme),” ujar Ferdinandus kepada BBC News Indonesia, Kamis 21 Maret 2019.

Ia mengatakan kementerian sudah mengeluarkan peraturan yang mengatur klasifikasi umur untuk bermain game. Ferdinandus mengatakan setidaknya PUBG dimainkan oleh pemain di atas 13 tahun.

Pemerintah, lanjut Ferdinandus, berusaha untuk tidak terlalu mengatur industri game di Indonesia. “Kita jangan terlalu mengatur industri game karena mereka masih mencari bentuk seperti apa di Indonesia,” katanya.

Dalam wawancara dengan BBC News Indonesia, Zaitun mengatakan MUI akan sangat berhati-hati sebelum mengeluarkan fatwa.

“MUI selalu hati-hati karena hal-hal seperti ini tidak boleh sembarangan. Kita harus kaji mendalam. Jadi kita ada komisi pengkajian dulu, baru masuk ke komisi fatwa, baru difatwakan,” ucapnya.

Wacana yang Sama Berembus di Malaysia

Di Malaysia, Mufti Negri Sembilan Datuk Mohd Yusof Ahmad mendesak pemerintah melarang PUBG karena menurutnya game itu memiliki dampak negatif kepada anak-anak dan remaja serta dapat mendorong generasi muda ke arah terorisme.

Namun, Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia Syed Saddiq mengatakan tidak setuju jika PUBG dilarang. Ia mengatakan di Malaysia saja terdapat 1 juta pemain PUBG, namun mereka tidak melakukan tindakan terorisme.

Dalam video yang diunggah melalui akun pribadinya di media sosial Twitter, ia mengatakan yang terpenting anak-anak muda tidak ketagihan bermain game.

Sementara, pekan lalu, Negara Bagian Gujarat di India sudah melarang PUBG dengan alasan game itu dapat menyebarkan perilaku kekerasan.

Kantor berita Reuters mengabarkan polisi Gujarat bahkan sempat menangkap belasan pemuda yang ketahuan main PUBG.

Apa Itu PUBG dan Apa Reaksi Para Pemain?

PUBG adalah game dengan genre battle royale. Beberapa pemain dipertemukan dalam satu wilayah untuk kemudian saling menyerang agar bisa menjadi pemain terakhir.

Game yang mulai populer di Indonesia sejak 2018 itu dinobatkan sebagai “Game of the Year 2018” oleh platform distribusi game digital Steam. Pada pertengahan tahun lalu, dikabarkan bahwa terdapat 400 juta pemain PUBG di seluruh dunia.

Uniknya, game yang dikembangkan PUBG Corporation ini tidak hanya menarik perhatian anak muda dan remaja, tapi para pemain dewasa

Ibu dua anak bernama Syifa Ristina (35) mengatakan sering bermain PUBG untuk refreshing semata. Ia mengaku kerap memainkan PUBG bersama suami dan kawan-kawannya karena permainan itu menyenangkan.

Ia mengatakan kalau sekadar untuk bermain, game PUBG tidak akan membuat seseorang berperilaku buruk.

“Kalau memang pemain yang terlalu menjiwai banget, kayaknya bisa jadi ada perubahan psikologinya ya. Tapi kalau aku lihat, gamenya cuma sekadar tembak-tembakan lah,” katanya.

Meski begitu, Syifa mengatakan game ini lebih cocok dimainkan oleh pemain berusia di atas 21 tahun karena sudah bisa lebih bijaksana dalam membedakan dunia nyata dan maya.

Apa Benar Game Memengaruhi Perilaku Seseorang?

Anna Surti Ariani, psikolog anak dan keluarga, mengatakan game sebetulnya mempunyai banyak manfaat, seperti membantu kemampuan seseorang untuk berpikir strategis dan kemampuan berpikir spesial.

Kemudian dikarenakan kebanyakan game berbahasa Inggris, kata Anna, para pemain pun bisa melatih kemampuan berbahasa saat bermain. Namun, lanjut dia, tidak dipungkiri ada game yang memiliki risiko karena konten yang agresif.

Anna mengatakan, seringkali game menjadi referensi perilaku atau kata-kata yang negatif, tapi belum tentu pemain akan meniru hal negatif itu.

“Ya, oke dari game ada risiko, tapi konten agresif enggak hanya dari game. Orang-orang kita kalau ngobrol saja kadang agresif lho. Jadi, jangan hanya menyalahkan game,” katanya.

Ia mengatakan, bisa saja game memicu seseorang melakukan perbuatan negatif, tapi itu kemungkinan besar tidak terlepas dari masalah-masalah lain yang dihadapi orang tersebut.

“Contohnya, dari kecil ada orang yang agresif banget, hubungan dengan keluarga buruk, hubungan sosial kacau banget, dan dia enggak ada uang. Maka orang ini akan jadi lebih agresif. Kalau ditambah game ya ‘jadi’,” ujar Anna.

Ia menambahkan dalam kondisi normal, sekadar bermain game tidak akan membuat orang terpicu untuk melakukan kejahatan.

sdnws.

LEAVE A REPLY