Taktik 10 Years Challenge Ma’ruf Amin vs Taktik Kolaborasi Sandi

0
194
Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno.
Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno.

Jakarta,Nawacita – Perdebatan cukup seru yang muncul di debat cawapres yakni soal pendidikan dan riset. Ma’ruf Amin punya taktik ’10 years challenge’ dan Sandiaga Uno yang mengusung taktik kolaborasi.

Taktik 10 years challenge Ma’ruf mencakup tiga hal yakni riset, pendidikan, dan kebudayaan. Taktik ini tak terlepas dari semangat untuk meneruskan program yang sudah dijalankan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK).

Ma’ruf berbicara tentang rencana membangun Badan Riset Nasional untuk memperkuat riset untuk memajukan Indonesia. Hal ini ditambahkan dengan ketersediaan dana abadi agar Indonesia bisa menghasilkan riset teknologi dan inovasi.

“Akan kami bentuk Badan Riset Nasional,” ucap Ma’ruf di panggung debat di The Sultan Hotel, Jakarta, Minggu (17/3/2019).

Badan Riset Nasional (BRN) dibentuk karena saat ini riset masih terbagi di lingkup kementerian. BRN ini diharapkan bisa membuat kerja riset lebih efisien.

“Dengan demikian, riset akan semakin berkembang ke depan. Bisa menjadi riset yang membangun Indonesia ke depan. Sekali lagi kita persiapkan untuk 10 years challenge,” kata Ma’ruf.

Ma’ruf memaparkan taktik ’10 years challenge’ saat menjawab pertanyaan panelis mengenai pendapatan domestik bruto Indonesia yang diprediksi berada di 5 besar dunia pada 2045. Panelis mempertanyakan komitmen para cawapres itu tentang riset karena untuk mencapai posisi itu dibutuhkan peningkatan riset.

Namun, taktik ’10 years challenge’ Ma’ruf dikritik Sandiaga. Sandiaga menilai pembentukan lembaga baru hanya menambah birokrasi. Sandi memilih untuk menerapkan kolaborasi.

“Bagi kami, kuncinya kolaborasi. Dunia usaha kita berikan insentif kalau investasi di research. Kita punya lembaga riset, tapi banyak yang dihasilkan tidak digunakan. Kita akan memberikan kesejahteraan lebih baik. Kalau pemerintah tidak memfasilitasi, bagaimana ekosistem riset menghasilkan,” kata Sandiaga.

Dia menegaskan perlu ada kolaborasi di antara dunia usaha dan akademisi. Sandiaga mengatakan pihak swasta juga siap untuk membantu pengembangan riset. Kolaborasi pemerintah dan swasta, menurutnya bisa dilakukan.

“Membangun kebudayaan kita bukan hanya kita bicara anggaran dan infrastruktur, tapi harus dilihat semua elemen yang bisa mendukung. Kita bisa melihat bagaimana karya terbaik anak bangsa kita sudah mendunia tinggal kita mengkolaborasikannya. Jangan semua jadi beban pemerintah, banyak dunia usaha, akademisi, dan juga civic society siap membantu. Tugas pemerintah membuat pemerintah yang kuat dengan keberpihakan yang tegas agar budaya jadi prioritas pembangunan,” kata Sandiaga.

“Bagi Prabowo-Sandi, kuncinya adalah kolaborasi. Kami akan memastikan dunia usaha mendapat insentif jika berinvestasi di riset,” ujarnya.

 

dtk

LEAVE A REPLY