Manisnya Rente Impor Gula dan Keprihatinan Petani Tebu

0
494
Ilustrasi.
Ilustrasi.

JAKARTA, Nawacita — Bagi kebanyakan konsumen Indonesia, gula sudah menjadi pelengkap makanan ataupun minuman yang dikonsumsi setiap hari. Gula dipakai untuk penyedap teh, kopi atau masakan.

Bagi penggemar softdrink, kadar gula di minuman itu bahkan jauh lebih besar. Karena itu, bisnis pemanis ini tak pernah surut dan sangat menggiurkan.

Seperti hal rasanya, impor gula juga terbilang manis. Dari tahun ke tahun gula yang masuk ke tanah air semakin meningkat.

Dalam konferensi pers tentang ‘Manisnya Rente Impor Gula’ di Jakarta, Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri mengatakan, intensitas kegiatan impor gula oleh pemerintah Indonesia sudah terlihat sejak 2009. Tapi, peningkatan signifikan baru terjadi pada 2016.

 

Tren ini tergambarkan dari data Badan Pusat Statistik dan United States Department of Agriculture sampai Oktober 2018. Faisal mengatakan, puncak peningkatan impor gula terjadi pada tahun lalu.

Saat itu, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara pengimpor gula terbesar sedunia menurut USDA dalam portal statistik, Statica. “Kita melampaui Cina dan Amerika Serikat,” ujarnya, Senin (14/1).

Tiga tahun lalu, peningkatan paling tajam terjadi dari 3,38 juta ton pada 2015 menjadi 4,76 juta ton pada 2016. Pada 2017, impor gula ke Indonesia sempat turun menjadi 4,48 juta ton yang kemudian naik kembali menjadi 4,63 juta ton sepanjang 2018. “Angka itu stabil dalam nilai yang tinggi,” ujar Faisal.

Kondisi tersebut kontras dengan konsumsi domestik yang tidak mengalami kenaikan secara signifikan. Produksi oleh petani lokal pun stagnan, bahkan cenderung turun.

Salah satu penyebabnya, tingkat kesejahteraan petani menurun karena sulit menjual gula sendiri akibat persaingan dengan gula impor yang semakin membanjiri pasar.

Beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, Koperasi  dan UMKM Kabupaten Banyumas, Wisnu Hermawanto, mengunkapkan minimnya penyerapan gula kristal di daerah tersebut.

Ia menyebutkan produksi gula kristal yang dihasilkan petani penderes di wilayahnya mampu mencapai sekitar 30 ton per hari. Namun dari kapasitas produksi sebesar itu, yang mampu diserap pasar, baik untuk kebutuhan dalam dan luar negeri, baru sekitar 15 ton. “Untuk itu, kita sedang berupaya agar penyerapan bisa ditingkatkan sehingga kapasitas produksinya juga ikut meningkat,” jelasnya.

Produksi gula kristal ini perlu terus didorong karena berdampak cukup signifikan bagi peningkatan kesejahteraan petani penderes. Dibanding memproduksi gula merah, hasil memproduksi gila kristal jual lebih menguntungkan.

Ironisnya, di saat penyerapan domestik yang lemah, peningkatan impor gula justru terus meningkat.  Faisal menambahkan, peningkatan impor gula lebih cepat dibanding dengan peningkatan kebutuhan. Padahal,  menurut data dari USDA,  stok di gudang pabrik selalu berada di atas 1 juta ton sejak 2016,

Industri makanan minuman

Ekonom Indef Achmad Heri Firdaus mengatakan, impor gula tidak diiringi dengan pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin). Selama ini, pemerintah selalu mengklaim, impor ini dilakukan untuk mendukung industri tersebut yang memang membutuhkan gula mentah dengan kualitas tinggi.

Heri mencatat, pertumbuhan industri mamin pada kuartal ketiga 2018 mengalami penurunan dibanding dengan kuartal ketiga pada 2017 secara year-to-year, yakni dari 8,92  persen menjadi 8,10 persen.  “Ini membuktikan, impor gula yang disebut untuk membantu industri mamin justru tidak memberikan pengaruh,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, keputusan impor gula sudah berdasarkan analisa bersama. Hasilnya, jumlah produksi gula nasional tidak mencukupi untuk konsumsi dan bahkan, industri.

Enggar mengatakan, permasalahan pasokan yang kurang juga diakibatkan banyaknya pabrik pemrosesan tebu menjadi gula yang tutup. Untuk menghindari harga pasaran melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) gula sebesar Rp 12.500 per kilogram, pemerintah memutuskan impor. “Sebab, kalau suplai berkurang, pasti harga akan naik,” katanya pada konferensi pers di Gedung Kemendag pada Kamis (10/1).

Penyebab lain yang disebutkan Enggar adalah belum terpenuhinya kualitas produksi gula dalam negeri untuk kebutuhan industri. Kadar International Commision for Unifom Methods of Sugar Analysis/ ICUMSA gula petani lokal terbilang tinggi, sehingga warnanya tidak putih. Kondisi ini tidak sesuai dengan kriteria industri mamin yang membutuhkan gula dengan ICUMSA rendah.

Pada 2018, pemerintah menetapkan keputusan impor gula mentah 3,6 juta ton untuk kebutuhan industri rafinasi. Selanjutnya, pemerintah kembali memutuskan impor gula tambahan dengan tujuan memenuhi kebutuhan konsumsi pada periode Januari hingga Mei 2019 sebanyak 1,1 juta ton.

Perbaiki manajemen

Ketua Umum Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mengatakan, Indonesia memang tidak dapat mengelak dari impor gula mentah. Sebab, masih terjadi kesenjangan antara kebutuhan konsumsi dengan produksi gula dalam negeri.

Soemitro mencatat, produksi gula dari petani lokal mencapai 2,2 juta ton, sedangkan kebutuhan masyarakat Indonesia per tahunnya adalah 2,6 juta ton sampai 2,8 juta ton. “Jadi, kita tidak bisa mengelak kalau kita masih butuh impor,” tuturnya saat dihubungi Republika, Senin (14/1).

Tapi, Soemitro menambahkan, yang menjadi permasalahan saat ini adalah waktu impor. Pemerintah kerap kali memberikan izin impor gula pada waktu yang tidak tepat, yakni saat panen.

Hal ini, menurut Soemitro, pernah terjadi pada awal 2018. Saat itu, kata dia, stok dari tahun 2017 masih tersisa 1,2 juta ton, sedangkan pemerintah memutuskan untuk impor.

Apabila siklus ini terus dibiarkan, Soemitro mengatakan, gudang Perum Bulog sebagai tempat penyimpanan stok gula dapat mengalami overload. Dampaknya juga, harga gula di tingkat petani semakin jatuh.

Selain memperbaiki waktu impor, Soemitro menilai, pekerjaan rumah pemerintah lainnya adalah merevitalisasi pabrik gula. Saat ini, tingkat rendemen gula masih berada di rentang 7 hingga 7,5 persen. “Kalau saja bisa ditingkatkan dua kali lipat dengan memperbaiki pabrik gula, industri gula dalam negeri bisa jadi lebih produktif,” ujarnya.

Soemitro juga berharap, pemerintah dapat melihat langsung kondisi petani tebu yang sudah sengsara karena rendahnya harga gula. Sampai saat ini, hanya sedikit pedagang besar yang berani membeli lelang gula petani di pabrik gula. Menurutnya, jika dibiarkan begitu saja, tingkat kesejahteraan petani semakin menurun dan harapan pemerintah untuk swasembada gula semakin jauh dari realisasi.

repblk

LEAVE A REPLY