Cara Terbaik Melawan Buku Komunisme

0
336
buku
buku

Jakarta Nawacita – Ada satu jenis buku yang kerap kena aksi pelarangan, yakni buku komunisme. Terakhir, ada penyitaan buku-buku yang diduga berisi paham komunis di toko buku Q-A, Kediri, pada pengujung tahun lalu. Para pecinta buku dan pegiat literasi kini bersuara menanggapi.

Meski penyitaan demi penyitaan buku terus dilakukan, nyatanya buku-buku itu terus saja beredar. Terlebih di era teknologi ini, bacaan-bacaan tentang ideologi apapun bakal lebih mudah diakses lewat internet. Lalu bagaimana cara terbaik melawan ide-ide yang termuat di buku-buku itu?

“Ditelanjangi saja wacananya, dan kasih bahan pembanding yang banyak. Dengan demikian, orang-orang bisa membuat perbandingan sendiri. Kalau disensor atau dilarang, orang malah makin penasaran,” kata inisiator Pustaka Bergerak, Nirwan Ahmad Arsuka, mengemukakan pendapatnya atas fenomena perbukuan ini, Jumat (4/1/2019).

Nirwan adalah sosok yang berada di balik kegiatan perpustakaan yang menjemput pembaca di pelbagai pelosok Indonesia. Banyak relawan yang turut membangun minat baca anak-anak pelosok dengan cara-cara yang kreatif, seperti Kuda Pustaka yakni kuda yang memuat buku untuk dibawa keliling, Perahu Pustaka, Becak Pustaka, dan lain sebagainya.

Alumni Universitas Gadjah Mada ini menilai tak ada yang perlu ditakutkan dari ‘hantu komunisme’, soalnya ideologi itu terbukti sudah bangkrut di mana-mana dan ditinggal pengikutnya. Cara untuk melenyapkan potensi bahaya dari ide yang diusung buku itu adalah dengan membedahnya sampai telanjang, supaya kecacatan ideologi itu bisa nampak terang benderang. Peredaran buku kiri jenis itu harus diimbangi dengan peredaran buku yang melawan ideologi itu. Diskusi-diskusi sehat dan perbandingan jernih soal tema itu dipercaya bakal mampu melawan ideologi usungan buku kiri.

Dia optimis, masyarakat Indonesia era kini juga sudah kebal dengan jargon-jargon usang paham kiri. Dengan demikian pelarangan buku komunisme tak perlu dilakukan.

“Mereka (yang melarang) memandang remeh kecerdasan pembaca, seakan-akan kalau membaca buku seperti itu otomatis akan menjadi komunis. Ya nggak dong,” kata Nirwan.

Sekitar 160 buku dengan pelbagai judul yang diduga mengandung ajaran komunis diamankan dari toko buku di Pare Kabupaten Kediri, pada 25 Desember 2018 lalu. Yang menyita adalah personel TNI dari Komando Distrik Militer 0809/Kediri.

“Kita langsung berkoordinasi dengan Kapolres dan Kesbangpol untuk melakukan pengamanan dan penyitaan sementara guna menghindari hal tidak diinginkan,” kata Komandan Kodim 0809/Kediri, Letkol Kav Dwi Agung melalui telepon genggam, Rabu (26/12/2018).

Kejaksaan Negeri Kabupaten Kediri akan melihat permasalahan itu sesuai dengan undang-undang.

Bacaan-bacaan apapun di era kini lebih mudah diakses ketimbang era lampau. Bila tak tersedia buku di satu toko, maka orang bakal pindah ke toko lain. Di Jakarta, toko buku indie mulai digandrungi anak-anak muda. Salah satu yang terkemuka adalah POST di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pemilik POST, Teddy W Kusuma (38) urun pendapat soal isu pelarangan buku kiri.

“Nggak boleh dilarang. Yang ada, orang harus bisa terekspos beragam pemikiran, sehingga orang bisa memutuskan sendiri, sehingga perdebatan yang terjadi bakal sehat, tidak ada ketakutan-ketakutan tak beralasan atau ketakutan yang disebarkan untuk kepentingan tertentu,” kata Teddy, Kamis (13/12/2018).

POST sendiri punya misi menjadi toko buku independen yang menghadirkan wacana alternatif apapun, termasuk wacana kiri. Menurutnya, pandangan kritis terhadap tema komunisme diperlukan. “Pemikiran itu tidak boleh disetop dengan cara dilarang, tapi harus didiskusikan,” kata Teddy.

Di toko buku indie yang lain, yakni Aksara di Kemang Jakarta Selatan, dua anak muda bersedia mengemukakan pendapatnya. Dicko, mahasiswa pengunjung Aksara menilai pelarangan dalam bentuk penyitaan atau razia tak perlu dilakukan.

“Saya pikir nggak usah sih,” kata Dicko. Buku ideologi apapun tetap diperlukan sebagai penyeimbang, dan pembelajar yang baik juga perlu membuka pikiran terhadap segala hal untuk bisa lebih bijaksana. “Tapi kalau misalnya itu kurang bisa diterima, ya mau gimana lagi,” ucapnya pasrah.

Anissa, mahasiswi pengunjung Aksara, lebih menyerahkan ke sikap masing-masing pembaca. Dia punya saran untuk membaca buku kiri supaya tidak lantas ‘auto-komunis’, “Jangan naif-naif banget.”

dtk

LEAVE A REPLY