Berbalas Surat Loyalis Amien Rais Vs Pendiri PAN

0
403
Goenawan Mohamad.
Goenawan Mohamad.

Jakarta,Nawacita – Gejolak di Partai Amanat Nasional (PAN) berlanjut dengan terbitnya surat terbuka dari para pendiri dan penggagas partai

yang menyarankan Amien Rais mundur dari jagat perpolitikan, termasuk dari PAN. Surat terbuka dari pendiri partai berlambang matahari putih itu langsung dibalas loyalis Amien di PAN.

Saran pendiri PAN yang meminta Amien mundur dari perpolitikan dan PAN disampaikan melalui surat terbuka tertanggal 26 Desember 2018. Lima nama pendiri dan penggagas PAN, yakni Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Mohamad, Toeti Heraty, dan Zumrotin, tertera dalam surat tersebut. Goenawan Mohamad membenarkan surat tersebut ditulis dan ditandatangani kelimanya.

“Iya benar. Yang menulis Pak Abdillah Toha. Kami semua menandatangani,” ujar Goenawan saat dimintai konfirmasi.

Dalam surat yang diterima detikcom pada Rabu (26/12/2018) itu, kelima pendiri PAN tersebut mengatakan surat dibuat setelah memerhatikan perkembangan kehidupan politik di Indonesia. Khususnya kiprah Amien Rais bersama PAN ataupun secara personal.

“Kami sebagai bagian dari penggagas dan pendiri PAN merasa bertanggung jawab dan berkewajiban membuat pernyataan bersama di bawah ini demi mengingatkan akan komitmen bersama kita pada saat awal pendirian partai,” demikian tulis surat terbuka tersebut.

Mereka mengingatkan Ketua Dewan Kehormatan PAN itu akan komitmen bersama kala pertama kali mendirikan partai yang saat ini dipimpin oleh Zulkifli Hasan tersebut. Bahwa PAN menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan menegakkan demokrasi setelah 32 tahun di bawah kekuasaan absolut Orde Baru yang korup dan otoriter. PAN adalah partai yang berasaskan Pancasila dengan landasan nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama. PAN merupakan partai modern yang bersih dari noda-noda Orde Baru dan bertujuan menciptakan kemajuan bagi bangsa.

Kemudian PAN merupakan partai terbuka dan inklusif yang memelihara kemajemukan bangsa dan tidak memosisikan diri sebagai wakil golongan tertentu. PAN adalah partai yang percaya dan mendukung bahwa setiap warga negara berstatus kedudukan yang sama di depan hukum dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara, tidak mengenal pengertian mayoritas atau minoritas. Menurut kelimanya, Amien Rais telah melenceng dari prinsip-prinsip tersebut.

“Dengan menggunakan kacamata prinsip-prinsip PAN tersebut di atas, kami mendapatkan kesan kuat bahwa Saudara Amien Rais (AR) sejak mengundurkan diri sebagai Ketua Umum PAN sampai sekarang, baik secara pribadi maupun mengatasnamakan PAN, sering kali melakukan kiprah dan manuver politik yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip itu,” tuturnya.

Surat terbuka 5 pendiri PAN tersebut langsung dibalas Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN Dradjad Wibowo. Dradjad, yang dikenal sebagai loyalis Amien Rais, mengkritik para pendiri PAN yang membuat surat terbuka.

Dradjad tak setuju dengan pendapat para pendiri PAN itu. Bagi Dradjad, surat terbuka yang ditulis para pendiri terkait dengan dukungan Amien Rais dan PAN di Pilpres 2019.

“Surat beliau itu tidak obyektif karena tidak sesuai fakta,” demikian penggalan surat terbuka yang ditulis Dradjad, Rabu (26/12/2018).

Dalam surat terbukanya, Dradjad sebagai junior mengaku sangat menghormati dan berterima kasih kepada para pendiri. Namun menurutnya, sesuai prinsip-prinsip yang disebutkan pendiri dalam suratnya, Dradjad sebagai junior merasa wajib bersuara.

“Surat beliau itu tidak obyektif karena tidak sesuai fakta. Contohnya, pak Amien dituduh sering melakukan manuver politik yang tidak sejalan dengan kelima prinsip tersebut. Mari kita lihat prinsip ke 4 dan 5 tentang keterbukaan, inklusif, persamaan hak dan kewajiban warga negara,” tulis Dradjad dalam suratnya.

Dradjad lalu mengungkit kasus putra Albert Hasibuan, Bara Hasibuan yang maju di Pileg 2014. Menurut rekap KPU Sulut, jumlah suara Bara adalah 17.672 suara. Bara tidak lolos ke Senayan. Yang terpilih adalah Yasti Soepredjo Mokoagow dengan suara 112.758, yang lalu dikoreksi menjadi 103.801 suara.

“Karena Yasti mundur untuk menjadi Bupati Bolmong, Bara menggantikannya sebagai anggota DPR. Yasti beragama Islam, sebagian besar pemilihnya adalah saudara kita Muslim dari Kabupaten Bolmong. Bara bergama Kristen, tapi hanya belasan ribu saudara kita Kristiani Sulut yang memilih dia,” ungkap Dradjad.

“Faktanya, pergantian Yasti ke Bara mulus-mulus saja di PAN. Tidak ada isu agama apapun. Padahal, kursi Bara itu berasal dari puluhan ribu bahkan mungkin lebih 100 ribu suara Muslim. Pak Amien dan bang Zulkifli Hasan sangat mendukung,” lanjutnya.

Dradjad juga menilai, jika Amien dan PAN tidak inklusif, tidak terbuka, tidak menghormati persamaan hak warga negara dan hak anggota PAN, maka menurutnya apakah mungkin pergantian Yasti ke Bara mulus? Dia pun bertanya soal Amien dan PAN yang disebut kurang inklusif.

“Jika melihat 4 tuduhan pertama terhadap pak Amien, saya meyakini surat itu tidak lepas dari dukungan pak Amien dan PAN ke mas Prabowo, bukan ke pak Jokowi. Terus apa pak Amien tidak boleh mendukung Prabowo? Apakah salah jika Rakernas PAN 2018 mendukung Prabowo? Bukankan itu hak warganegara yang ada di PAN? Jika ada pengaruh kuat pak Amien dalam Rakernas, mengapa beliau berlima pengaruhnya tidak kuat juga di dalam PAN? Mengapa beliau berlima tidak menyuarakan aspirasi dalam Rakernas?,” jelasnya.

Selain itu, Dradjad juga mempertanyakan bukti empiris dari manuver Amien yang disebut destruktif bagi PAN. Menurutnya, dalam Pileg 2014 kursi dan suara PAN naik. Hal tersebut dikatakannya tidak lepas dari kerja Hatta Rajasa sebagai Ketum saat itu, semua kader PAN, dan manuver politik Amien.

“Soal tuntutan mundur, posisi dan peran pak Amien itu selalu ‘jelas dan tuntas’ dalam Kongres, forum tertinggi PAN. Apakah bapak/ibu berlima hendak mengajari yuniornya untuk tidak taat kepada keputusan Kongres?,” Tanya Dradjad.

“Sebagai penutup, mohon maaf sekali atas kekritisan saya,” tutup Dradjad dalam suratnya.

 

dtk

LEAVE A REPLY