G20 Summit : Indonesia berkomitmen tangani perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan

0
486

Buenos Aires,Nawacita.co –  1/12 Wakil Presiden RI Jusuf Kalla kembali menyampaikan pidato intervensinya pada KTT G20, Sabtu, 1/12 di Costa Salguera Center, Buenos Aires, Argentina. JK mengemukakan pentingnya memberikan perhatian pada isu pembangunan berkelanjutan dan perubahan iklim. Tidak hanya itu, JK juga mengemukakan beberapa rekomendasi penting bagaimana negara-negara G20 dapat bersama-sama menangani isu-isu tersebut.

Dalam sesi dua ini, fokus utamanya adalah membangun konsensus atau kesamaan pandangan antar pemimpin negara G20 atas isu pembangunan berkelanjutan dan perubahan iklim.

Berlangsung pada 10.00 – 11.45 waktu setempat, JK mendapat kesempatan sekitar 5 menit untuk meyampaikan pandanganya. Pidato intervensi ini diberikan kepada setiap pemimpin negara yang hadir dalam menyikapi dua isu yang menjadi tema utama pertemuan tersebut

“Pembangunan berkelanjutan dan perubahan iklim adalah dua isu global yang terkait erat yang perlu diatasi secara bersama-sama,” buka Wakil Presiden Indonesia ke 11 dan 13 ini.

Terkait perubahan iklim, ia katakan bahwa sebagai negara kepulaian terbesar di dunia, perubahan iklim sangat terasa dampaknya di Indonesia. JK gembira bahwa telah banyak diskusi dan perundingan di taraf global tentang tentang perdagangan dan pajak karbon. Karena hal itulah yang menjadi salah satu kunci untuk menangani perubahan iklim.

Sayangnya, bagi JK, mekanisme perdagangan karbon belum berjalan efektif.

“Indonesia prihatin dengan fakta bahwa mekanisme dan harga carbon trade masih jauh dari harapan yang dapat secara efektif memberikan insentif bagi reforestasi dan konservasi hutan,” ujar JK.

JK menyebutkan bahwa keberhasilan penanganan isu perubahan iklim inilah yang juga akan mendorong kesuksesan agenda Pembangunan Berlanjutan atau sering kita sebut SDGs.

JK mengatakan, “semua aksi mitigasi perubahan iklim, dapat mengakselerasi implementasi SDGs. Hal ini berpengaruh pada keberlanjutan pembangunan kami.”

*Pembangunan hijau*

Karena itu, JK menegaskan bahwa Indonesia tidak main-main dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang pro pembangunan berkelanjutan. Sebuah laporan bertajuk Review Sukarela Nasional pertama di tahun 2017 telah membahas upaya Indonesia dalam agenda-agena SDGs.

“Review tersebut telah mengangkat keberhasilan Indonesia dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan memperkuat perekonomian untuk menciptakan mata pencaharian yang berkelanjutan,” kata Wapres JK.

 JK mengungkapkan bahwa dalam kaitan dua isu utama di atas, Indonesia bangga karena pada titik ini bisa mengangkat sebuah produk finansial bernama Green Sukuk Indonesia.  Sukuk atau surat utang negara tersebut adalah obligasi syariah pertama di dunia.

Upaya ini dipandang  sebagai upaya inovatif untuk mendorong pembangunan yang ‘hijau’, berkelanjutan dan dapat melibatkan berbagai pihak misalnya swasta dan pemerintah.

“Inovasi (Greeen Sukuk) ini bertujuan untuk mengangkat pendanaan swasta untuk pembangunan hijau dan berkelanjutan, sekaligus menempatkan perekonomian Indonesia di jalur menuju pembangunan rendah karbon dan tahan perubahan iklim,” papar JK. 

*Komitmen dan rekomendasi*

Indonesia telah menunjukkan komitmen besarnya pada pembangunan berkelanjutan misalnya dengan menurunnya angka kemiskinan menjadi satu digit.

JK mengatakan bahwa baru-baru ini, sebagai tuan rumah Pertemuan Tahunan IMF/Bank Dunia dan ASEAN Leaders Gathering (ALG), Indonesia telah fokus pada pengurangan kesenjangan dan penguatan  sinergi atau kolaborasi untuk pembangunan.

“(Sebagai tuan rumah) Indonesia telah mengangkat urgensi untuk mengurangi kesenjangan pembangunan. Sementara itu, para Pimpinan ASEAN telah menyatakan bahwa pencapaian SDGs membutuhkan sinergi di antara organisasi dan institusi di tingkat regional dan global,” papar JK.

Di akhir pidatonya, JK memberikan beberapa rekomendasi yang pada intinya mengajak negara-negara G20 untuk menguatkan kolaborasi dalam menangani isu-isu di atas. Beberapa rekomendasi tersebut adalah:

1.     Menegaskan kembali komitmen bersama untuk mewujudkan kemitraan multilateral yang kuat

2.     Berkomitmen penuh terhadap terwujudnya kesepakatan-kesepakatan internasional  termasuk Kesepakatan Paris

3.     Memperkuat kolaborasi dalam mencapai SDGs 2030

4.     Memanfaatkan teknologi sesuai dengan kebutuhan rakyat dan planet bumi.

*Lanjutan pada sesi III*

Masih di tempat yang sama, pada sesi ketiga, isu kolaborasi antar negara kembali digaungkan JK. Pada sesi yang berlangsung pada 12.30 – 14.00 waktu setempat ini, Wakil Presiden Indonesia ini lebih menekankan bahwa kolaborasi ini perlu diwujudkan dalam bentuk kemitraan antarnegara. Pada Wapres JK memandang bahwa kemitraan ini akan sangat bermanfaat untuk pengembangan bidang-bidang penting khususnya dalam percepatan transisi energy.

“Kemitraan (antar-negara) seperti ini juga telah dikembangkan untuk mempercepat transisi energi Indonesia melalui pengembangan energi bersih dan terbarukan, termasuk bahan bakar hayati dan inovasi untuk efisiensi energi,” papar wapres.

 Dalam bidang energy ini juga, papar Wapres JK, Indonesia telah menjalankan beberapa kebijakan progresif di antaranya reformasi subsidi BBM, peningkatan penggunaan energy terbarukan dan rasio elektrifikasi yang kini mencapai 98 persen.

JK tidak memungkiri bahwa ada beberapa aspek penting dalam pembangunan di bidang energi. Menutup pidatonya di sesi ketiga ini, JK mengungkapkan bahwa aspek-aspek tersebut di antaranya peningkatan investasi swasta, penguatan inovasi dan transfer teknologi antar negara G20.

Karena itu, JK menegaskan “Indonesia mendesak negara-negara G20 untuk memperkuat kemitraan kita (antar-negara G20) sebagai sarana untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan mempercepat penyaluran energi terbarukan.”  (Tim Media Wapres/ dny)

LEAVE A REPLY