Yuk Mengenal Lebih Jauh Maria Walanda Maramis

0
994
Maria Walanda Maramis Pahlawan Perempuan Indonesia

Pahlawan Indonesia, Jadi Doodle Google Search Hari ini

Jakarta, Nawacita – Pejuang perempuan Indonesia Maria Walanda Maramis, yang dikenal sebagai tanpa kenal lelah memperjuangkan nasib perempuan dalam dunia politik pada awal abad 20, hari Sabtu (1/12) menjadi figur yang disorot oleh Doodle Google.

Dilahirkan di Kema, suatu desa kecil di Minahasa, Sulawesi Utara, pada 1 Desember 1872, Maria Walanda Maramis adalah anak bungsu dari tiga bersaudara anak pasangan Maramis dan Sarah Rotinsulu. Bersama ketiga saudaranya, ia dibesarkan oleh seorang pamannya setelah kedua orang tuanya meninggal dalam selang waktu berdekatan.

Menurut informasi yang dipasang Doodle Google, Maria dan saudara perempuannya, Antje, hanya mengikuti pendidikan dasar karena mereka perempuan. Sementara saudara laki-laki mereka, Andries, menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Setelah pindah ke Manado, Maria mulai menulis di kolom sebuah surat kabar lokal “Tjahaja Siang.” Tulisan-tulisannya menggarisbawahi pentingnya peran ibu, yang senantiasa berjuang guna memastikan pendidikan dan layanan kesehatan, serta kesejahteraan keluarga. Pada tahun 1917 ia mendirikan sebuah organisasi yang memusatkan perhatian pada isu-isu ini.

Organisasi yang diberi nama PIKAT – singkatan dari bahasa Melayu “Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya.” Dengan telaten ia mendidik anggota PIKAT untuk mengetahui keahlian dasar rumah tangga seperti memasak, menjahit dan membesarkan anak-anak, serta berbagai peran lain. Organisasi ini kemudian meluas hingga memiliki cabang di Jawa.

Maria Walanda Maramis, Pejuang Hak-hak Perempuan dalam Politik

Dengan menampilkan sketsa wajah Maria Walanda Maramis, Doodle Google mencatat bahwa sosok perempuan kuat ini mulai mengalihkan perhatian pada dunia politik dengan memperjuangkan hak perempuan agar suara mereka didengar, setidaknya dalam badan perwakilan Minahasa, yang dikenal sebagai “Minahasa Raad.”

Semula badan ini hanya beranggotakan laki-laki, tetapi Maria berjuang keras agar perempuan dapat ikut duduk menjadi wakil-wakil di badan tersebut. Perjuangannya membuahkan hasil ketika pada tahun 1921 pemerintahan di Batavia, sebutan pemerintah Hindia Belanda untuk “Jakarta,” mengizinkan perempuan ikut dalam pemilu.

Untuk menghormati apa yang telah dilakukannya bagi perempuan Indonesia, pada tahun 1969 pemerintah menyatakan Maria Walanda Maramis sebagai pahlawan nasional.

Perjuangannya bagi emansipasi perempuan dalam dunia politik Indonesia, khususnya di Minahasa, diperingati pada hari ulang tahunnya, dan sebuah patung dibangun untuk mengenang peran penting yang dimainkannya. Patung Walanda Maramis yang terletak di Komo Luar, sekitar 15 menit dari pusat kota Manado ini, menunjukkan sosok perempuan yang mengenakan kain dan berdiri gagah sambil memegang tangan seorang anak perempuan. voa

LEAVE A REPLY