Divestasi Freeport Janjikan Kesejahteraan Papua

0
628
McMoran Richard Adkerson CEO Freeport menandatangani kesepakatan penjualan saham mayoritas PT Freeport Indonesia kepada pemerintah Indonesia.
McMoran Richard Adkerson CEO Freeport menandatangani kesepakatan penjualan saham mayoritas PT Freeport Indonesia kepada pemerintah Indonesia.

Nawacita – Saat ini, Indonesia resmi menguasai 51 persen saham PT Freeport Indonesia setelah penandatangan kesepatakan saham di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia, Kamis (27/9/2018) di Jakarta.

“Proses tadi itu sudah final dan mengikat, buka negosiasi lagi. Kita tinggal melakukan pembayaran. Karena jumlah investasinya sangat besar, maka akan dilakukan kira-kira November. Proses ini memakan waktu 2 bulan, waktu yang wajar bagi sebuah investasi sebesar ini,” kata Rendi Witoelar Corporate Communication PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), Kamis (27/9/2018).

Berdasarkan kesepakatan, Indonesia berkewajiban membayarkan uang investasi sebesar 3,85 miliar USD atau setara dengan 52 triliun rupiah.

Dengan menjadi pemilik saham mayoritas, tentu Indonesia akan mendapat beberapa keuntungan dari segi investasi dan ekonomi.

Keuntungan Bagi Indonesia

Menurut Rendi, uang sebesar 52 triliun rupiah merupakan jumlah yang sebanding mengingat keuntungan yang akan didapat Indonesia nantinya. 2022 nanti, diperkirakan laba bersih yang diterima PT Freeport Indonesia sebesar 2,2 miliar USD. Selain itu, lanjut Rendi, kekayaan yang dimiliki PT Freeport senilai lebih dari 150 miliar USD.

“Kekayaan Freeport itu senilai lebih dari 150 miliar dolar. Jadi ini (3,85 miliar USD, red) harga yang sangat murah bagi banyak pihak,” tambahnya.

Keuntungan lain dari divestasi ini adalah bisa menyejahterakan masyarakat di daerah Papua dengan mendapatkan 10 persen saham. Saham untuk daerah tersebut akan diproses oleh INALUM bersamaan dengan total saham milik Indonesia lain, yakni 51 persen.

“Kewajiban kita menyejahterakan saudara-saudara kita di Papua. Papua akan mendapatkan 10 persen saham dan ini pertama kalinya. Tapi sahamnya akan diproses oleh INALUM, jadi (akan, red) sehingga totalnya 51 kepemilikan Indonesia,” kata Rendi.

Sehingga diperkirakan Pemerintah daerah Papua akan mendapat sekitar 3 triliun rupiah setiap tahunnya. Keuntungan itu belum termasuk dana-dana sosial lain yang ditujukan untuk pembangunan daerah Papua.

“Bisa dibayangkan, yang sebelumnya kita tidak punya hak suara dan hak voting, sekarang kita punya,” tegas Rendi.

Pembelajaran Manajemen Teknologi

Sebagai pemilik saham mayoritas, Indonesia juga mempunyai keuntungan untuk dapat mempelajari manajemen teknologi pertambangan yang dilakukan PT Freeport Indonesia. Hal ini mengingat pertambangan di Papua masuk dalam pertambangan terdalam dan terumit di dunia.

“Tambang yang sekarang di kelola Freeport Indonesia itu tambang terdalam dan terumit di dunia, tidak ada duanya. Jadi ini bisa jadi ajang Indonesia untuk ikut belajar mengelola tambang di daerah-daerah lain,” kata Rendi.

Meskipun begitu, ia juga menyadari bahwa mempelajari manajemen teknologi di tambang milik PT Freeport membutuhkan waktu.

“Kalau untuk teknologi memang perlu waktu. Terowongan bawah tanahnya aja mencapai 700 kilometer panjangnya, seperti Jakarta-Surabaya. Nah, untuk itu, proses pembelajarannya tidak bisa secepat apa yang dibayangkan banyak pihak,” ujar Rendi.

ssby

LEAVE A REPLY