10 Ponpes Akan Jadi Pilot Project Pesantrenpreneur

0
350

Surabaya, Nawacita – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur mulai menggeber program penguatan ekonomi rakyat berbasis pesantren atau yang biasa disebut “Pesantrenpreneur”. Untuk tahap awal, program ini bakal dilaksanakan di sepuluh pondok pesantren (ponpes) yang menjadi proyek percontohan (pilot project).

“Di sepuluh ponpes tersebut akan dibuka Ummat Mart, sebuah gerai yang memasarkan produk-produk yang dihasilkan para santri, UMKM di sekitar pesantren, maupun produk umum dari perusahaan,” ujar Ketua Dewan Kehormatan HIPMI Jatim Muhammad Ali Affandi dalam jumpa pers di Satu Atap Co-Working Space Surabaya, Kamis (12/4/2018).

Ali menambahkan, saat ini tim sedang mengebut persiapan di sepuluh ponpes yang tersebar di sejumlah daerah, mulai Pasuruan, Malang, Banyuwangi, hingga Probolinggo.

“Peluncuran program ini bakal dipusatkan di Ponpes Bayt Al-Hikmah Pasuruan pada Mei mendatang,” ujarnya.

Ketua HIPMI Jatim Mufti Anam menambahkan program ini terselenggara berkat kolaborasi HIPMI, Kementerian Perdagangan, dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Kolaborasi tersebut menghasilkan sejumlah program kerja untuk ekonomi pesantren.

Pertama, penumbuhan kewirausahaan santri. Tim bakal menggelar pelatihan-pelatihan kewirausahaan secara berkala di pesantren. Pemantik awalnya adalah saat peluncuran program pada Mei mendatang yang menghadirkan para praktisi bisnis terkemuka, seperti pengusaha Chairul Tanjung dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim.

“Ini semacam ngaji bisnis, para santri belajar seluk-beluk dunia usaha, sehingga diharapkan bisa menjadi pengusaha santri yang bisa berbisnis dengan sukses dan menebar manfaat dengan berbasis pada etika usaha yang kokoh,” papar Mufti.

Kedua, pendampingan manajemen perdagangan hingga pemasaran produk-produk pesantren. Menurut Mufti, setiap pesantren punya potensi bisnis yang bisa dikembangkan, misalnya pertanian, perikanan, dan makanan-minuman.

HIPMI, Kemendag, dan Aprindo akan mendampingi untuk manajemennya, termasuk di sepuluh Ummat Mart yang menjadi pilot project.

“Bahkan ke depan sudah disiapkan pintu agar produk pesantren bisa masuk ke jaringan ritel modern di seluruh Indonesia. Kan keren kalau misalnya produk pertanian organik pesantren di pelosok desa bisa mengisi gerai-gerai ritel modern di kota-kota besar,” jelas Mufti.

Ketiga, upaya mendorong pembiayaan yang ramah bagi usaha para santri. Ada tiga skema yang disiapkan, yaitu fasilitasi ke bank syariah atau bank wakaf mikro yang telah dilontarkan Presiden Joko Widodo, crowdfunding (pembiayaan bersama), dan angel investor.

“Secara berkala HIPMI juga menggelar kompetisi perencanaan bisnis pesantren dengan hadiah modal kerja, termasuk bisa dipertemukan dengan angel investor. Santri bisa mempresentasikan prospek bisnisnya ke investor untuk ikut mengembangkan bisnis berbasis pesantren,” papar Mufti.

Anam bersyukur program Pesantrenpreneur ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, seperti Kementerian Perdagangan dan Aprindo. Bahkan, Presiden Joko Widodo juga menaruh perhatian luar biasa sejak program ini diinisiasi HIPMI Jatim pada pelaksanaan Rapat Pimpinan Nasional HIPMI pada Maret lalu di Tangerang, Banten.

Potensi Besar Kekuatan Pesantren

Pesantren adalah institusi yang punya rekam jejak panjang dalam mendidik umat. Dengan jumlah lebih dari 30.000 pesantren dan 5 juta santri serta puluhan juta alumnus di seluruh Indonesia, pesantren adalah entitas kuat yang tak hanya bisa menjadi pilar pendidikan umat, tapi juga berpotensi menggerakkan ekonomi umat.

Mufti menambahkan, program Pesantrenpreneur ini memiliki sejumlah tujuan. Pertama, membangkitkan ekonomi kaum muda hingga ke pelosok desa sebagai basis pesantren.

“Sehingga pergerakan ekonomi kaum muda lebih merata, tidak hanya di kota-kota besar saja yang marak dengan bisnis rintisan atau startup. Dari pesantrenpreneur, bukan tidak mungkin muncul startup di desa yang bisa mengekspor produk unggulannya,” papar Mufti.

Kedua, memperkuat semangat kemandirian ekonomi umat. Semangat kewirausahaan ini harus menjadi wacana dominan dalam perbincangan generasi muda di berbagai saluran, termasuk media sosial.

“Sehingga ke depan wacana keislaman mengarah ke penguatan ekonomi umat, tidak hanya berkutat pada perdebatan relasi agama dan negara yang banyak berujung pada maraknya provokasi isu SARA di media sosial akhir-akhir ini,” jelasnya.

dtk

LEAVE A REPLY