BUMN Konstruksi Perlu Tingkatkan Kualitas SDM

0
287
Kementerian Badan Usaha Milik Negara
Kementerian Badan Usaha Milik Negara

Jakarta, Nawacita  Tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor konstruksi atau BUMN konstruksi bukukan kinerja positif sepanjang 2017. BUMN Konstruksi tersebut adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

Masing-masing membukukan laba Rp 4,20 triliun, Rp 517,06 miliar dan Rp 1,36 triliun. Pertumbuhan laba BUMN konstruksi itu ditopang oleh meningkatnya pendapatan usaha perseroan.

Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana, Prasarana Perhubungan Kementerian BUMN Ahmad Bambang mengapresiasi jajaran manajemen dan karyawan BUMN karya tersebut. Ini lantaran telah bekerja keras mengembangkan perusahaan.

“Sekaligus mewujudkan target pembangunan infrastruktur sebagai proyek strategis nasional,” kata Ahmad Bambang di Jakarta, Senin (26/3/2018).

Kendati demikian, Ahmad Bambang menegaskan, pertumbuhan yang cepat dan tinggi, harus pula diimbangi dengan kesiapan organisasi dan sistem pendukungnya. Keduanya berujung pada kesiapan sumber daya manusia (SDM).

Aspek kualitas hasil kerja serta keselamatan kerja harus dijadikan prioritas utama, sebagaimana aspek kesehatan dan kelestarian lingkungan di BUMN konstruksi.

Selain itu, penataan manajemen QHSE (quality, health, safety & environment) mutlak diperlukan agar dapat segera berproses dan menjadi budaya kerja korporat.

“Profit yang tinggi juga harus diimbangi dengan kepedulian yang tinggi terhadap aspek manusia baik pekerja maupun pengguna jasa dan masyarakat pada umumnya, serta aspek lingkungannya. Karena, keselarasan profitpeople, inilah yang akan menjamin daya kebersinambungan (sustainability) perusahaan,” tegas Ahmad Bambang.

Kinerja BUMN Karya pada 2017

Berdasarkan laporan tahunan tahun 2017 yang telah diaudit, Waskita Karya mampu mencetak laba sebesar Rp4,20 triliun pada 2017. Angka ini melonjak 132,04 persen dibandingkan laba yang dicapai tahun sebelumnya sebesar Rp1,81 triliun.

Pendapatan usaha meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan 2016, menjadi sebesar Rp45,21 triliun. Kenaikan pendapatan itu didorong oleh kenaikan dari jasa konstruksi sebesar 90 persen menjadi Rp42,30 triliun. Bahkan total aset perseroan pun melonjak signifikan menjadi Rp97,89 triliun atau 59,35 persen dari posisi sebelumnya yang sebesar Rp61,43 triliun.

Adapun, Adhi Karya mencatat pertumbuhan laba sepanjang 2017 sekitar 64,09 persen atau menjadi Rp517,06 miliar, dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp315,11 miliar. Pendapatan usaha perseroan ini meningkat dari perolehan tahun sebelumnya Rp11,13 triliun menjadi Rp15,39 triliun.

Kenaikan pendapatan Adhi Karya pada 2017 didorong oleh pendapatan segmen jasa konstruksi yang naik 41 persen menjadi Rp13 triliun dari sebelumnya Rp9,2 triliun pada tahun 2016. Segmen ini menyumbang 85 persen nilai pendapatan. Total aset meningkat 40,95 persen dibanding tahun 2016 menjadi sebesar Rp28,33 triliun.

Tak kalah, Wijaya Karya juga berhasil bukukan laba sebesar Rp1,36 triliun pada tahun 2017. Penjualan perseroan mencapai Rp26,18 triliun atau meningkat 63,12 persen dibandingkan penjualan tahun 2016. Sejak 2016, perusahaan sudah menembus bahkan melampaui besaran laba Rp1 triliun.

Peningkatan laba 2017 hampir dua kali lipat dari nilai laba tahun 2015 yang berada pada kisaran Rp 675 miliar, dan lebih tinggi dari laba 2016 yang mencapai Rp1,15 triliun.

Pendapatan perusahaan pada 2017 naik 63,12 persen menjadi Rp 26,18 triliun, dari Rp16,05 triliun pada 2016.

Kenaikan tersebut didorong oleh kenaikan pendapatan dari segmen infrastruktur dan gedung sebesar 131 persen menjadi Rp17,1 triliun dari Rp7,4 triliun pada 2016.

lpt6

 

LEAVE A REPLY