BMKG: Musim Kemarau Tahun 2018 Masih Kondusif bagi Pertanian

0
377
BMKG: Musim Kemarau Tahun 2018 Masih Kondusif bagi Pertanian
Ilustrasi

JAKARTA, Nawacita – Deputi Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mulyono Rahadi Prabowo menuturkan, musim kemarau tahun 2018 masih dianggap aman dan kondusif. Sebab, kendati musim kemarau masih dapat bercocok tanam.

“Musim kemarau ini masih dikatakan kondusif dan masih bisa dilakukan pertanian,” katanya kepada wartawan di Gedung BMKG, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (15/3/2018).

Menurutnya, berbeda dengan musim kemarau pada 2015 karena la nina tahun ini lebih rendah serta tidak ada el nina.

“Faktor yang mempengaruhi kemarau ada el nino la nina dan la nina, tahun ini sampai Mei 2018 kita dipengaruhi el nino lemah. Untuk tahun ini, pengaruh eksternal banyak di pengaruhi la nina lemah. Jadi tidak ada el nino,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, musim kemarau pada 2018 akan dimulai pada April mendatang.

“Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim hujan dan musim hujan diprakirakan akan berkahir pada bulan April, sejalan dengan akan berakhirnya musim penghujan maka kita akan bersiap menghadapi musim kemarau. Maka, awal musim kemarau diprakirakan akan mulai pada akhir April Juni 2018,” ungkapnya.

Dwi menyebutkan, wilayah yang pertama kali memasuki musim kemarau Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Bali. Selanjutnya, perkembangan daerah yang akan mengalami musim kemarau akan bertambah dari bulan ke bulan.

“Pertama kali musim kemarau terjadi di daerah NTT, NTB dan Bali,” ungkapnya. (Baca Juga: Masuki Musim Kemarau, Ini Imbauan BMKG untuk Pendaki Gunung)

Adapun puncak dari musim kemarau tahun ini, terjadi pada Agustus hingga September. Sebab itu, Dwi meminta agar masyarakat perlu waspada datangnya bencana kebakaran hutan dan lahan akibat dari kekeringan musim kemarau.

“Puncak musim kemarau 2018 diprediksi terjadi pada bulan Agustus – September 2018. Pada saat puncak musim kemarau di wilayah Indonesia perlu diwaspadai untuk daerah-daerah yang rentan terhadap bencana kekeringan, karhutla,” tutupnya.

oke

LEAVE A REPLY