Penolakan Penutupan Pabrik Gula Oleh Pemprop Jatim Harga Mati

0
511
Kadis Perkebunan Prov Jatim Samsul Arifin
SURABAYA, NAWACITA – Penolakan terhadap rencanan penutupan sembilan pabrik gula di Jawa Timur adalah harga mati. Pasalnya jika tetap dilaksanakan maka Rp1,4 triliun akan hilang dan lebih dari 1,6 juta orang menganggur.
“Bahkan jika pemerintah pusat tetap memaksa, Pemprov Jatim siap mengambil alih pengelolaanya. Pak Gubernur sudah mengatakan itu,” kata Kepala Dinas Perkebunan Pemprov Jatim Syamsul Arifin, kemarin.
Diterangkan, sikap Pemprov Jatim ini tidak hanya dilandasi alasan ekonomi tapi juga karena alasan kemanusiaan. Lebih dari 1,6 juta akan menganggur jika sembilan pabrik gula ini jadi tutup.
“Rencana ini seharusnya dibicarakan dulu dengan Gubernur dan juga para petani tebu. Butuh kajian mendalam untuk mencari solusi selain opsi penutupan,” kata dia.
Syamsul Arifin mengungkapkan, dari sembilan pabrik gula total kapasitas gilingnya 17.400 ton. Kapasitas produksi total 100.000 ton dari kapasitas giling 31 pabrik gula yang ada di Jawa Timur. Jadi artinya kalau sembilan pabrik gula itu ditutup, maka akan kehilangan 17%.
“Nah, 17% itu akan kehilangan gula 147.300 ton. Ini nilainya Rp1,4 triliun, itu akan hilang jika sembilan pabrik gula ditutup,” tegas Syamsul Arifin.
Ungkap dia, kalau pabrik ditutup maka otomatis petani tidak tanam tebu lagi. “Memang maksud penutupan itu, bahan baku tebunya akan digunakan pabrik lain. Seperti Situbondo ada empat pabrik. Yang eksis Asem Bagus, tiga lainnya kecil-kecil. Yang kecil ini akan dialihkan ke Asem Bagus. Desainnya memang seperti itu,” tuturnya.
Tetapi, kenyataannya jika pabrik sudah tutup maka petani tidak akan tanam lagi. Ini sudah ada contohnya, Pabrik Gula Demas Besuki Situbondo. Dulu ditutup, petaninya juga ikut tidak tanam tebu. Sehingga tidak bisa dialihkan ke pabrik yang lain.
Contoh lagi di Krian. Dulu ada Pabrik Gula Krian. Petani sekitar melakukan tanam tebu. Tapi setelah ditutup di Krian sudah tidak ada lagi yang tanam tebu.
“Jadi bukan masalah geografis lokasi kebun tebu dengan pabrik gula, atau pun persoalan pengangkutan. Inilah yang dikatakan Pak Gubernur masalah kultur. Petani tebu dan pabrik gula ini tidak bisa dipisah,” ucap dia.
Selain masalah faktor ekonomi tersebut, penutupan pabrik gula juga akan memunculkan masalah pengangguran. Masing-masing pabrik gula memiliki karyawan tetap rata-rata 700 orang dan yang musiman 400 orang, sehingga totalnya 1.100 orang. Sehingga jika sembilan pabrik gula ditutup, maka 9.900 orang akan menganggur.
“Belum lagi di tingkat petani di sembilan pabrik gula yang luas area totalnya 27.500 hektare itu kalau menggunakan tenaga kerja besarnya 8.354.400 HOK (hari orang kerja). Jika dikonversi orang yang bekerja, dengan rata-rata 1 hektare ada lima pekerja, maka 1.670.000 sumber daya manusia yang akan menganggur,” ungkapnya.
Dilanjutkan, jika mereka ini diupah setiap orang Rp30.000, besarannya menjadi Rp292 miliar. Ini adalah jumlah uang yang harus beredar di sekitar pabrik gula. “Kan kasihan juga daerah itu karena sudah tidak ada lagi perputaran uang. Jumlah kerugian ekonomi masyarakat ini baru yang di petani, belum lagi di pabrik. Jika ditotal yang ada di pabrik dan petani maka total perputaran uang yang hilang Rp312 miliar,” rinci Syamsul Arifin. Jumlah ini, kata dia, masih belum dihitung lagi ada sopir truk, penjual makanan sekitar pabrik, buruh angkut.
Untuk itu meski pusat memaksa, gubernur tetap tidak setuju.  Diakui memang sembilan pabrik itu merugi. Tapi pabrik lain ada yang untung.  Dihitung secara keseluruhan Jatim tetap untung.
“Kami mebuat surat untuk dikirim ke Jakarta menyatakan tidak setuju, dan minta dibicarakan lagi dengan Pemprov dan masyarakat tebu Jatim. Solusi bukan penutupan agar tidak ada yang dirugikan. Jika pemerintah menyerahkan, Jatim siap mengelola pabrik-pabrik gula ini,” pungkasnya.
*rgo

LEAVE A REPLY