Mitos Kediri Bikin Presiden Lengser, Hoaks atau Fakta?
Kediri, Nawacita | Mitos bahwa Kediri merupakan daerah “wingit” atau angker bagi presiden kembali menjadi perbincangan publik. Kepercayaan yang berkembang selama puluhan tahun itu menyebut, siapa pun presiden yang berkunjung ke Kediri akan lengser dari jabatannya.
Benarkah Kediri menjadi daerah yang berbahaya bagi presiden? Berikut sejumlah catatan sejarahnya.
Awal Mula Mitos Kediri Wingit
Mitos Kediri angker bagi presiden kerap dikaitkan dengan kutukan Kartikea Singha, suami Ratu Shima. Kepercayaan ini juga berkembang dari pengalaman sejarah politik sejumlah presiden yang pernah berkunjung ke Kediri dan kemudian tidak menyelesaikan masa jabatannya secara normal.
Tanah Kediri yang merupakan bekas pusat Kerajaan Daha dan erat dengan kisah Raja Jayabaya turut memperkuat nuansa mistis yang melekat di wilayah tersebut. Namun, tidak ada hubungan langsung antara legenda kerajaan dengan mitos tentang presiden.
Mitos tersebut berkembang dengan keyakinan bahwa kepala negara yang datang ke Kediri akan mengalami “lengser keprabon”. Bagi sebagian masyarakat, hal itu merupakan kepercayaan turun-temurun yang diyakini, sementara sebagian lain menganggapnya sekadar cerita rakyat.
Baca Juga: Pemkot Kediri Raih Penghargaan UHC Award 2026, Berikut Catatan Prestasinya
Gus Dur dan Awal Kuatnya Mitos
Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi sosok yang paling sering dikaitkan dengan mitos tersebut.
Saat masih menjabat presiden, Gus Dur diketahui menghadiri pembukaan Muktamar Nahdlatul Ulama di Lirboyo, Kediri, pada 21 November 1999. Dua tahun kemudian, Gus Dur diberhentikan dari jabatannya sebelum masa kepresidenannya berakhir.
Peristiwa itu kemudian dianggap sebagian masyarakat sebagai pembenaran atas mitos Kediri wingit bagi presiden.
Nama Habibie Ikut Dikaitkan
Presiden ketiga RI BJ Habibie juga kerap disebut dalam cerita yang berkembang di masyarakat. Habibie dikabarkan pernah mengunjungi Kediri sebelum masa pemerintahannya berakhir.
Namun, situasi politik Habibie berbeda dengan Gus Dur. Masa jabatannya berakhir setelah Sidang Umum MPR dan ia tidak melanjutkan pencalonan pada Pemilu 1999.
Karena itu, sebagian kalangan menilai Habibie tidak dapat dikategorikan “lengser” akibat mitos tersebut.
Presiden pertama RI Soekarno juga diketahui pernah datang ke Kediri sekitar tahun 1948 hingga 1950. Bahkan, Bung Karno sempat tinggal di Kediri saat masa kecilnya.
Di sisi lain, Presiden Soeharto disebut tidak pernah mengunjungi Kediri selama menjabat. Namun, Soeharto tetap mengakhiri kekuasaannya setelah lengser pada 1998.
Baca Juga: Pemkab Kediri Dorong Kontraktor Percepat Pengerjaan Pasar Ngadiluwih
SBY Dinilai Patahkan Mitos
Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono menjadi contoh yang kerap disebut sebagai pematah mitos Kediri wingit.
“Tahun 2007 SBY mengunjungi Kediri. Kunjungan kedua di tahun 2014,” tulis Wakil Sekjen Partai Demokrat saat itu, Andi Arief lewat akun Twitter-nya, Minggu (16/2/2020).
Berdasarkan catatan, SBY berkunjung ke Kediri pada 25 Oktober 2007 dan kembali datang pada 17 Februari 2014 untuk meninjau pengungsi erupsi Gunung Kelud.
Setelah dua kali berkunjung, SBY tetap menyelesaikan dua periode masa jabatannya hingga 2014.
Namun, budayawan Kediri Imam Mubarok memiliki pandangan berbeda. SBY saat itu disebut ke Kediri lewat pinggir kota. Menurutnya, secara sejarah kuno, wilayah Kediri dibagi oleh Sungai Brantas.
“Kenapa Pak SBY waktu itu melipir, di pinggir-pinggir saja, nggak berani masuk kota. Dan baru masuk kota setelah lengser,” jelas pria yang juga Dosen Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri.
Perdebatan soal mitos Kediri kembali menguat pada Februari 2020 ketika Pramono Anung menghadiri sebuah acara di Kediri.
“Ngapunten (maaf), Kiai, saya termasuk orang yang melarang Pak Presiden untuk berkunjung di Kediri,” ucap Pramono disambut gelak tawa para undangan.
Budayawan sekaligus pendiri Kediri Photograph Museum Imam Mubarok atau Gus Barok menilai, pernyataan Pramono perlu dipahami dari sudut pandang sejarah dan budaya.
Baca Juga: Deru Mobil Kuno Menggema di Kota Kediri, Mbak Wali Ajak Warga Hidupkan Wisata Lewat Rally
“Kutukan Kartikea Singha, suami Ratu Shima yang juga penguasa Kerajaan Kalingga Utara (pra-Mataram Hindu abad keenam) di Keling Kepung, Kabupaten Kediri. Kartikea Singha, suami Ratu Shima berkuasa di Kalingga Selatan di Keling Kepung Kediri saat itu. Kutukannya cukup jelas, siapa kepala negara yang tidak suci, benar masuk wilayah Kota Kediri maka dia akan jatuh,” kata Gus Barok.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa segala sesuatu kembali kepada keyakinan masing-masing.
“Namun kembali lagi bagaimana individu tersebut beriman dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seperti pada Agama Islam hal ini bergantung kepada keyakinan. Sesuai dengan rukun iman yang keenam yakni iman terhadap Qodo dan Qodar Allah (takdir baik dan buruk),” paparnya.
Ia juga menilai, tidak seharusnya mitos tersebut membuat kepala negara takut berkunjung ke Kediri.
“Tidak ada kutukan yang abadi. Sebab di muka bumi ini tidak ada yang abadi kecuali Allah. Surat Al Qashash Ayat 88,” lanjut Gus Barok.
Imam Mubarok berharap mitos tersebut tidak dijadikan alasan untuk menghindari Kediri.
“Jangan sampai wingit dan angkernya Kediri menjadi alat atau alasan orang tak bertanggung jawab Presiden tidak akan berkunjung, karena masyarakat Kediri juga bagian dari Indonesia dan kami yang hidup di Kediri baik-baik saja,” jelasnya.
Menurutnya, Kediri merupakan daerah yang aman, nyaman, dan terbuka bagi siapa pun, termasuk kepala negara. dtk


