Sunday, June 21, 2026

BWBF 2026 Raup Omzet Rp1,4 Miliar, Bukti Batik Bojonegoro Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif

BWBF 2026 Raup Omzet Rp1,4 Miliar, Bukti Batik Bojonegoro Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif

Bojonegoro, Nawacita – Bojonegoro Wastra Batik Festival (BWBF) 2026 kembali membuktikan diri sebagai ajang pelestarian budaya yang berdampak nyata bagi perekonomian daerah. Selama empat hari penyelenggaraan, festival ini mencatatkan perputaran ekonomi sekitar Rp1,4 miliar dari sektor UMKM, pameran, hingga perhotelan.

Capaian tersebut disampaikan dalam Closing Ceremony BWBF 2026 yang berlangsung meriah di Alun-Alun Bojonegoro, Sabtu (20/6/2026). Memasuki penyelenggaraan tahun ketiga, BWBF tidak hanya menjadi etalase batik khas Bojonegoro, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata.

Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah mengatakan BWBF merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk mendorong pelaku UMKM agar mampu naik kelas melalui kolaborasi dengan perajin, desainer, dan pelaku usaha.

“Kami ingin BWBF menjadi ruang bagi UMKM untuk berkembang sekaligus memperkuat kolaborasi dengan para perajin dan pedagang batik,” ujarnya.

Menurut Nurul, kehadiran peserta dari berbagai daerah yang telah lama dikenal sebagai sentra batik menjadi bahan evaluasi sekaligus motivasi bagi Bojonegoro untuk terus meningkatkan kualitas produk wastra lokal.

Ia juga menilai BWBF memiliki nilai strategis karena menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas budaya Bojonegoro di tengah proses validasi menuju UNESCO Global Geopark (UGGp).

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Elzadeba Agustina, menjelaskan BWBF diselenggarakan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap batik sekaligus memperluas pasar produk-produk ekonomi kreatif.

Selain melestarikan warisan budaya, festival ini juga dirancang untuk meningkatkan daya saing UMKM melalui promosi dan pemasaran batik serta produk turunannya.

“BWBF menjadi sarana untuk meningkatkan kecintaan terhadap batik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat,” kata Elzadeba.

Selama empat hari pelaksanaan, dampak ekonomi festival dirasakan oleh berbagai sektor. Pada sektor perhotelan dan guest house, sebanyak 10 hotel dan penginapan terlibat dengan perkiraan 162 tamu menginap selama empat malam. Dari sektor tersebut tercatat pendapatan sekitar Rp175 juta dengan kontribusi pajak hotel sebesar Rp17,5 juta.

Sementara itu, sektor UMKM dan pameran mencatat hasil yang lebih besar. Dari total 69 stan peserta, sebanyak 60 stan indoor berhasil membukukan omzet sekitar Rp1,063 miliar.

“Perkiraan total pendapatan dari sektor stan pameran dan hotel mencapai Rp1,4 miliar selama empat hari pelaksanaan, dan transaksi masih berlangsung hingga malam penutupan,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut juga diumumkan para pemenang kategori Stan Terbaik BWBF 2026. Juara III diraih Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Kediri, Juara II Pemerintah Kabupaten Jember, sedangkan Juara I berhasil diraih ExxonMobil Cepu Limited.

Keberhasilan penyelenggaraan BWBF 2026 menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi daerah. Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku UMKM, perajin, dan dunia usaha, festival ini semakin mengukuhkan Bojonegoro sebagai salah satu pusat pengembangan batik dan ekonomi kreatif di Jawa Timur.

Reporter: Parto Sasmito

- Advertisement -
RELATED ARTICLES
Bank Jatim Jconnect

Terbaru