Saturday, June 6, 2026

Putra Sang Fajar dari Peneleh: Kelahiran Bung Karno yang Mengubah Arah Bangsa

Putra Sang Fajar dari Peneleh: Kelahiran Bung Karno yang Mengubah Arah Bangsa

SURABAYA, Nawacita – Fajar baru saja menyingsing di langit Surabaya pada 6 Juni 1901. Di sebuah rumah sederhana di kawasan Pandean, Peneleh, lahirlah seorang bayi yang kelak menjadi tokoh sentral dalam sejarah Indonesia. Bayi itu diberi nama Koesno Sosrodihardjo, yang kemudian dikenal dunia sebagai Soekarno atau Bung Karno, Sang Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa tempat kelahiran Bung Karno berada di kawasan Peneleh, Surabaya. Meski pernah muncul berbagai versi mengenai lokasi kelahirannya, sejumlah dokumen sejarah, catatan pendidikan, hingga pengakuan Bung Karno sendiri menegaskan bahwa ia lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901. Kini kawasan itu dikenal sebagai Kampung Bung Karno dan menjadi salah satu destinasi sejarah penting di Kota Pahlawan.

Bung Karno lahir dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru asal Jawa, dan Ida Ayu Nyoman Rai, perempuan Bali dari keluarga Brahmana. Perpaduan budaya Jawa dan Bali tersebut membentuk karakter Bung Karno yang terbuka terhadap berbagai pemikiran dan tradisi sejak usia dini.

Masa kecil Bung Karno tidak selalu berjalan mulus. Ia bahkan sempat sering sakit-sakitan hingga orang tuanya mengganti namanya dari Koesno menjadi Soekarno. Nama baru itu diambil dari tokoh Karna dalam kisah pewayangan Mahabharata, sosok yang dikenal berani dan teguh memegang prinsip. Pergantian nama tersebut dipercaya membawa perubahan dalam hidupnya.

Baca Juga: Profil Gus Baha, Kyai Karismatik Tanpa Gelar Namun Berilmu Profesor

Surabaya juga menjadi kota yang membentuk pemikiran nasionalisme Bung Karno. Saat menempuh pendidikan menengah, ia tinggal di rumah tokoh pergerakan nasional H.O.S. Tjokroaminoto. Di rumah itulah Bung Karno muda berinteraksi dengan berbagai gagasan tentang kebangsaan, kemerdekaan, dan perjuangan rakyat yang kemudian menjadi fondasi perjuangannya melawan kolonialisme.

Soekarno diketahui menempuh pendidikan di HBS (Hoogere Burger School) di Surabaya dan kemudian melanjutkan ke THS (Technische Hoogeschool) di Bandung, yang kini dikenal sebagai ITB.

Dari rumah sederhana di Peneleh, perjalanan panjang Bung Karno membawa Indonesia menuju gerbang kemerdekaan. Bersama Mohammad Hatta, ia memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan menjadi simbol perlawanan bangsa terhadap penjajahan.

Baca Juga: 6 Juni Sejarah Dunia: Lahirnya Presiden Soekarno Hingga Berdirinya NBA

Lebih dari satu abad kemudian, tanggal kelahirannya masih diperingati sebagai momentum mengenang lahirnya sosok yang tidak hanya memimpin perjuangan kemerdekaan, tetapi juga menanamkan fondasi kebangsaan Indonesia.

Dalam autobiografinya yang ditulis bersama Cindy Adams, Bung Karno mengenang kelahirannya sebagai awal sebuah zaman baru. Ia lahir pada tahun 1901, tepat ketika abad ke-20 dimulai. Karena itulah ia kerap menyebut dirinya sebagai bagian dari fajar abad baru. Julukan “Putra Sang Fajar” kemudian melekat erat pada dirinya.

Kini, setiap 6 Juni, bangsa Indonesia tidak sekadar memperingati hari lahir seorang tokoh. Tanggal tersebut menjadi pengingat bahwa dari sebuah sudut kampung di Surabaya lahir seorang anak bangsa yang berhasil mengobarkan semangat persatuan, kemerdekaan, dan kedaulatan yang terus hidup hingga hari ini.

Warisan terbesar Bung Karno bukan hanya kemerdekaan yang berhasil diraih, melainkan juga keyakinan bahwa bangsa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri. Sebuah gagasan yang lahir bersama fajar pada pagi 6 Juni 1901, ketika Putra Sang Fajar pertama kali membuka mata di Kota Surabaya.

Reporter : Rovallgio

- Advertisement -
RELATED ARTICLES
Bank Jatim Jconnect

Terbaru