Thursday, May 28, 2026

Bayang-Bayang Inflasi Global Mulai Menekan Jatim

Bayang-Bayang Inflasi Global Mulai Menekan Jatim

Surabaya, Nawacita | Gejolak ekonomi global mulai memberi dampak nyata ke daerah, termasuk Jawa Timur. Bank Indonesia (BI) Jawa Timur mengingatkan adanya potensi tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah.

Deputi Kepala Perwakilan BI Jatim, Donni Fajar Anugerah, mengatakan konflik dan gangguan rantai pasok global membuat harga minyak melonjak hingga menyentuh USD119 per barel pada pertengahan Mei. Kondisi itu memicu revisi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,1 persen menjadi 3 persen pada 2026.

“Ketika harga barang impor naik, dampaknya akan terasa sampai ke masyarakat,” ujarnya saat di konfirmasi pada, Kamis (28/5/2026).

Menurut Donni, kenaikan dolar akan langsung memengaruhi harga bahan impor seperti kedelai, bawang putih, hingga bahan bakar. Efek berantainya kemudian dirasakan pelaku usaha, termasuk produsen tahu dan tempe, yang akhirnya menaikkan harga jual.

Meski begitu, ekonomi Jawa Timur masih menunjukkan performa positif. Pada triwulan pertama, pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai 5,96 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional 5,61 persen. Konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah menjadi penopang utama.

Baca Juga: APBN Jatim Dorong MBG dan Koperasi Desa Merah Putih Lebih Selektif

Namun tekanan inflasi tetap perlu diwaspadai. Sektor transportasi disebut paling terdampak akibat kenaikan harga energi. Sementara industri di Jawa Timur yang bergantung pada bahan baku impor juga menghadapi kenaikan biaya produksi.

BI menilai pemerintah perlu menyiapkan kebijakan khusus untuk menjaga daya tahan industri. Salah satunya melalui skema subsidi atau insentif tertentu agar pelaku usaha tidak terlalu terbebani lonjakan biaya impor.

Di sisi lain, pemerintah masih menahan kenaikan harga BBM karena termasuk kategori administered price atau harga yang diatur negara.

“Langkah itu dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat agar tidak tergerus lebih dalam,” jelas Donni.

Meski beberapa komoditas pangan mengalami penurunan harga, tekanan inflasi global diperkirakan masih akan membayangi dalam beberapa waktu ke depan.

Reporter: Alus

- Advertisement -
RELATED ARTICLES

Terbaru