Yayasan Yohanes Gabriel Transformasi 149 Sekolah Katolik, Libatkan Umat dan Pengusaha hingga 2030
Surabaya, Nawacita | Yayasan Yohanes Gabriel meluncurkan program transformasi dan rebranding sekolah-sekolah Katolik yang berada di bawah naungannya. Program ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 tahun karya yayasan dalam dunia pendidikan di Jawa Timur, Jumat (23/5/2026) malam.
Uskup Keuskupan Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo mengatakan, selama satu abad Yayasan Yohanes Gabriel telah berfokus melayani pendidikan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Namun di tengah kondisi ekonomi dan regulasi saat ini, banyak sekolah mengalami tantangan karena kemampuan orang tua siswa yang terbatas.
“Perjuangannya adalah untuk kelas menengah ke bawah. Dengan regulasi dan kondisi pasar saat ini, sekolah-sekolah ini tidak mampu menggaji gurunya karena murid-muridnya juga tidak mampu membayar,” ucap Uskup Didik.
Menurutnya, solidaritas dari para alumni, pengusaha, dan masyarakat mampu menjadi kunci agar sekolah-sekolah Katolik tersebut tetap bertahan dan berkembang. Karena itu, pihak yayasan mengundang para alumni dan umat Katolik untuk ikut ambil bagian dalam mendukung transformasi sekolah.
“Mereka juga lulusan sekolah-sekolah ini di masa lalu. Sekarang ayo peduli dengan nasib anak-anak yang sekolah di Yohanes Gabriel. Gedung-gedungnya perlu diperbaiki, lalu perlu subsidi beasiswa untuk anak-anak yang tidak mampu,” katanya.
Ia berharap semakin banyak pihak yang tergerak membantu dunia pendidikan Katolik, baik melalui dukungan dana maupun program pengembangan kualitas pendidikan.
Baca Juga: Uskup Surabaya Sambut Bhikkhu IWPF 2026, Tegaskan Semangat Perdamaian dan Persaudaraan Lintas Iman
Pada kesempatan tersebut, Ketua Yayasan Yohanes Gabriel, RD. Hans Koerniawan menjelaskan, transformasi yang dilakukan tidak hanya menyasar perbaikan bangunan sekolah, tetapi juga peningkatan mutu pendidikan dan pembaruan sistem pembelajaran.
“Yang mau dikembangkan itu kurikulumnya, mutunya, lalu bangunan-bangunan dan sarana diperbaiki semua,” ujarnya.
Hans menyebut, saat ini Yayasan Yohanes Gabriel membawahi 149 sekolah yang tersebar dari Surabaya hingga Rembang. Target transformasi seluruh sekolah ditetapkan selesai pada 2030, dimulai secara bertahap sejak 2025.
“Sampai 2030 diharapkan selesai semua. Tahun ini 18 sekolah terlebih dahulu,” katanya.
Selain renovasi fasilitas, yayasan juga melakukan pembaruan branding, penguatan nilai-nilai kehidupan, hingga peningkatan kemampuan bahasa asing bagi siswa.
“Tidak hanya bangunan, tapi branding diperbarui, mutu pendidikan diperbarui, nilai-nilai hidup lebih banyak diajarkan supaya siap di masyarakat, keluarga, dan pekerjaan. Termasuk peningkatan bahasa seperti bahasa Inggris dan bahasa lainnya,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Yayasan Yohanes Gabriel, RD. Robertus Theo Elno Respati mengatakan, program tahun ini difokuskan pada peluncuran pilot project di 18 sekolah yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Baca Juga: Keuskupan Surabaya Ajak Umat Dewasa dalam Iman dan Kehidupan Bermasyarakat
Ia menjelaskan, transformasi dilakukan melalui lima aspek utama, yakni pembaruan sarana dan fasilitas, penguatan kurikulum Katolik, pengembangan hospitalitas, peningkatan kemampuan bahasa asing, serta pembinaan guru dan kepala sekolah secara rutin.
“Kami nanti akan menekankan tiga bahasa untuk sekolah ini. Yang pertama bahasa Inggris, lalu juga bahasa Mandarin yang akan kami dorong terus digunakan oleh sekolah-sekolah ini,” katanya.
Beberapa sekolah yang masuk pilot project di antaranya kompleks Paroki Kristus Raja yang mencakup SDK Teresia dan SDK Yohanes Gabriel di Surabaya, sekolah Untung Suropati di Sidoarjo, Bonaventura Madiun, hingga sekolah di Cepu, Blora, Rembang, Ngawi, dan Blitar.
Theo menegaskan, sekolah Katolik tetap terbuka bagi seluruh kalangan dan tidak akan menjadi lembaga pendidikan eksklusif meski memperkuat identitas Katolik dalam kurikulumnya.
“Sekolah Katolik adalah sekolah yang sangat terbuka kepada siapa pun. Ajarannya juga universal tentang nilai-nilai kehidupan yang bisa diajarkan kepada siapa saja,” ujarnya.
Menurutnya, momentum 100 tahun Yayasan Yohanes Gabriel menjadi titik awal untuk membangun kembali kualitas pendidikan Katolik agar tetap relevan dan berkembang untuk 100 tahun berikutnya.
Reporter : Rovallgio

