Uskup Surabaya Sambut Bhikkhu IWPF 2026, Tegaskan Semangat Perdamaian dan Persaudaraan Lintas Iman
SURABAYA, Nawacita – Uskup Keuskupan Surabaya, Agustinus Tri Budi Utomo menyambut hangat rombongan bhikkhu peserta Indonesia Walk for Peace (IWPF) 2026 yang berkunjung ke Gereja Katedral Hati Kudus Yesus dalam rangka perayaan Hari Raya Waisak, Jumat (15/5/2026).
Dalam sambutannya, Uskup Agustinus menyampaikan rasa hormat dan kebahagiaan atas kedatangan para bhikkhu yang tengah menempuh perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur.
“Selamat datang di Surabaya. Adalah sebuah kehormatan dan kebahagiaan yang luar biasa bagi kami dapat menyambut langkah-langkah damai Anda sekalian di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya,” ujar Uskup Agustinus.
Ia menjelaskan bahwa Katedral Hati Kudus Yesus bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga menjadi pusat iman Katolik di wilayah Keuskupan Surabaya. Gereja yang dibangun pada 1921 itu merupakan gereja induk bagi 47 paroki yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Timur.
Baca Juga: Keuskupan Surabaya Ajak Umat Dewasa dalam Iman dan Kehidupan Bermasyarakat
Menurutnya, perjalanan Thudong yang dilakukan para bhikkhu memiliki makna spiritual mendalam dan selaras dengan semangat Gereja Katolik tentang “berjalan bersama” atau sinodalitas.
“Atas nama seluruh umat Katolik Keuskupan Surabaya, saya menyambut hangat kehadiran para bhikkhu yang tengah menempuh perjalanan spiritual luar biasa menuju Borobudur. Perjalanan jauh dengan berjalan kaki ini mengingatkan kita bahwa hidup adalah sebuah perjalanan,” katanya.
Ia menegaskan, Gereja Katolik memiliki misi untuk berjalan bersama seluruh umat manusia tanpa memandang perbedaan keyakinan demi menciptakan dunia yang damai, sejahtera, dan penuh belas kasih.
Dalam kesempatan tersebut, Uskup Agustinus juga menyinggung makna spiritual Borobudur sebagai mandala atau representasi perjalanan menuju pencerahan. Ia mengaitkan filosofi tersebut dengan nama Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya yang berada di belakang kompleks katedral.
“Widya berarti pengetahuan sejati atau melihat dengan jernih, sedangkan Mandala adalah jalan menuju penerangan spiritual. Maka perjalanan para bhikkhu ini bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi ziarah spiritual menuju kedamaian sejati,” tuturnya.
Ia juga menyebut kedatangan para bhikkhu bertepatan dengan semangat Jubileum Pengharapan yang tengah dihayati Gereja Katolik, sebuah tradisi rohani yang diinisiasi oleh Paus Fransiskus dan dilanjutkan oleh Paus Leo XIV.
Menutup sambutannya, Uskup Agustinus menitipkan doa dan harapan agar perjalanan para bhikkhu berjalan lancar hingga tiba di tujuan suci.
“Teruslah menyusuri jalan-jalan dunia untuk menebarkan wangi perdamaian kepada siapa pun dan kepada semua makhluk di alam semesta ini. Doakanlah bangsa Indonesia agar senantiasa menjadi bangsa yang damai, adil, dan menjunjung tinggi persaudaraan insani,” pungkasnya.
Reporter : Rovallgio

