Tuesday, May 12, 2026

Makan Siang Berujung Petaka, Ratusan Siswa Bubutan Diduga Keracunan MBG

Makan Siang Berujung Petaka, Ratusan Siswa Bubutan Diduga Keracunan MBG

SURABAYA, Nawacita – Ratusan siswa dari sejumlah sekolah di Kecamatan Bubutan, Surabaya, diduga mengalami keracunan makanan usai mengonsumsi hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Demak, Senin (11/5/2026).

Hingga sore hari, sedikitnya 111 siswa tercatat mendatangi RS IBI Surabaya dengan keluhan serupa, yakni mual dan muntah. Dari jumlah tersebut, empat siswa harus menjalani rawat inap, sementara dua lainnya masih dalam observasi di Unit Gawat Darurat (UGD).

Informasi sementara menyebutkan insiden ini berdampak pada sedikitnya sembilan sekolah, dengan gejala yang muncul relatif cepat, sekitar 10 hingga 30 menit setelah makanan dikonsumsi.

Salah satu wali murid, Sukma Sari, mengungkapkan anaknya yang bersekolah di SD Tembok Dukuh 3 mengalami pusing dan muntah tak lama setelah makan.

Baca Juga: DPRD Jatim Soroti Dugaan Keracunan MBG di Surabaya, Cahyo Minta Pengelolaan Lebih Profesional

“Anak saya habis makan langsung pusing dan muntah,” ujarnya kepada Awak media, Dugaan sementara mengarah pada keracunan makanan. Hal itu juga disampaikan oleh salah satu petugas medis, Mala, berdasarkan analisa awal di lapangan.

Ratusan Siswa Bubutan Diduga Keracunan MBG
Makan Siang Berujung Petaka, Ratusan Siswa Bubutan Diduga Keracunan MBG.

“Dugaan sementara yang kami dapatkan berdasarkan analisa medis, anak-anak mengalami keracunan makanan,” terangnya.

Sementara itu, pihak SPPG belum memberikan keterangan resmi. Kepala SPPG belum dapat ditemui, namun salah satu petugas lapangan, Samsu Rizal, menyebut pihaknya masih melakukan verifikasi internal.

“Kami masih belum bisa memberikan statement secara detail karena masih melakukan cross check dengan berbagai pihak,” tuturnya.

Di sisi lain, tim gabungan dari Pemerintah Kota Surabaya bersama unsur terkait, termasuk tim Inafis Polrestabes Surabaya, telah turun ke lokasi untuk melakukan pendataan korban serta penyelidikan lebih lanjut. Pemeriksaan terhadap sampel makanan juga tengah dilakukan guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

Dalam peninjauan awal, anggota Komisi D DPRD Surabaya, dr. Zuhrotul Mar’ah, menyampaikan bahwa bahan makanan yang digunakan dalam kondisi segar. Daging yang diduga menjadi salah satu sumber masalah disebut dibeli pada Minggu pagi dan langsung disimpan dalam freezer dengan suhu sesuai standar, yakni di bawah minus dua derajat Celsius.

“Tidak ditemukan indikasi adanya bahan makanan yang disimpan terlalu lama. Semua bahan dalam kondisi segar dan penyimpanan juga sesuai ketentuan,” ungkapnya.

Meski demikian, dugaan penyebab belum mengerucut. Sejumlah siswa mengaku merasakan cita rasa tidak biasa pada daging, bahkan ada yang menyebut rasanya pahit.

“Namun, beberapa siswa lain yang belum sempat mengonsumsi daging juga mengalami gejala serupa, sehingga kemungkinan faktor bumbu turut menjadi perhatian dalam penyelidikan,” beber dia.

Saat ini, sampel makanan telah dikirim ke laboratorium untuk diuji. Hasil uji tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian terkait sumber kontaminasi yang menyebabkan dugaan keracunan massal ini.

“Terkait perizinan operasional, diketahui bahwa Surat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) SPPG masih dalam proses penerbitan. Meski demikian, kondisi tersebut dinilai masih sesuai aturan karena berada dalam masa toleransi tiga bulan sejak operasional dimulai pada Februari 2026,” pungkasnya. (Deni)

- Advertisement -
RELATED ARTICLES

Terbaru