Kemenkes: 10–15 Persen Jemaah Haji Alami Gangguan Mental, Banyak Lansia Demensia
Jakarta, Nawacita | Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan adanya pendekatan holistik atau mental agar jemaah haji mampu beribadah dengan tenang.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi mengatakan haji 2026 menjadi salah satu perhelatan spiritual terbesar dengan lebih dari 1,8 juta jamaah dari seluruh dunia, termasuk 221 ribu jemaah asal Indonesia.
Dari jumlah tersebut, sekitar 11 ribu adalah lansia yang menghadapi tantangan lebih berat, baik secara fisik maupun mental.
“Ibadah haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun di balik makna religius yang mendalam, perjalanan ini juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa,” ujarnya, Jumat (24/6/2026).
“Perubahan lingkungan, kepadatan jutaan jemaah, serta tekanan fisik dan emosional dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental,” sambung Imran.
Baca Juga: Menkes sebut Kelompok Antivaksin Hambat Upaya Pencegahan Campak di Indonesia
Berdasarkan laporan Kemenkes, sebanyak 10-15 persen jemaah membutuhkan perhatian khusus terkait kesehatan jiwa. Sementara 30-40 persen jemaah mengalami gangguan tidur akibat perubahan ritme sirkadian dan aktivitas ibadah yang padat.
Data dari Balai Pengobatan Haji Indonesia menyebut lansia adalah kelompok paling rentan, dengan 80 persen pasien gangguan jiwa yang dirawat menunjukkan gejala demensia.
Imran menyoroti cuaca di Makkah saat ini mencapai rata-rata 35-38 derajat Celsius, dengan kelembapan rendah. Kondisi ini dapat memicu dehidrasi, kelelahan, dan gangguan tidur.
Selain itu, aturan baru dari Pemerintah Arab Saudi yang lebih ketat terkait visa, akses ke Makkah, hingga penggunaan aplikasi digital Nusuk menambah tekanan psikologis. Terutama bagi jemaah yang kurang terbiasa dengan teknologi atau khawatir akan sanksi berat jika melanggar.
Baca Juga: Lindungi Nakes, Kemenkes Terbitkan SE Kewaspadaan Penyakit Campak
Pelaksanaan tawaf dan sa’i yang intens juga dapat menimbulkan kelelahan emosional, sementar masa kepulangan menuntut adaptasi ulang setelah pengalaman spiritual yang intens.
Faktor lainnya, seperti perbedaan budaya, keterbatasan fasilitas, dan interaksi dalam kerumunan besar juga dapat menimbulkan rasa frustrasi dan isolasi.
“Semua ini menunjukkan bahwa persiapan mental dan penataan ekspetasi menjadi sama pentingnya dengan persiapan fisik, agar jemaah mampu menerima dinamika ibadah dengan tenang dan tidak terbebani harapan yang terlalu tinggi,” terang Imran.
Untuk menghadapinya, diperlukan pendekatan holistik. Konseling pra-keberangkatan yang menyertaan pelatihan manajemen stres, pengaturan jadwal ibadah dengan waktu istirahat yang cukup, serta perhatian pada hidrasi serta nutrisi menjadi strategi utama.
“Petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi serius,” tutupnya. dtk

