Kasus Campak di RI Melonjak, Menkes: Penyakit Campak Lebih Menular daripada COVID-19
Jakarta, Nawacita | Situasi campak di Indonesia sedang berada dalam alarm kewaspadaan tinggi. Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Indonesia saat ini menempati urutan kedua di dunia untuk Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Lonjakan kasus ini tercatat sangat signifikan sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026.
Berikut adalah lima negara dengan jumlah kasus campak tertinggi di dunia dalam enam bulan terakhir:
- Yaman: 11.288 kasus
- Indonesia: 10.744 kasus
- India: 9.666 kasus
- Pakistan: 7.361 kasus
- Angola: 4.843 kasus
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa campak bukanlah penyakit sembarangan. Campak adalah penyakit paling menular di dunia, jauh melampaui kemampuan penularan virus COVID-19 yang sempat melumpuhkan dunia beberapa tahun lalu.
“Jadi campak itu adalah penyakit yang paling menular. Kalau dulu COVID-19, ingat pertama kali ada yang namanya reproduction rate. Jadi satu orang nularin ke-2 atau ke-3. Campak itu satu orang bisa nularin ke-18,” jelas Menkes Budi saat meninjau penanganan KLB campak di Sumenep beberapa waktu lalu dikutip dari laman Kemenkes RI.
Artinya, satu kasus campak memiliki potensi menularkan virus hingga ke 18 orang di sekitarnya. Namun, Menkes mengingatkan bahwa meski sangat agresif, campak memiliki “obat” pencegah yang sangat efektif.
“Untungnya, sama seperti Covid sekarang, sudah ada vaksinnya, dan vaksinnya itu efektif. Jadi kalau divaksinasi, pasti dia tidak akan kena penyakit campak lagi,” ujarnya.
Baca Juga: Mengenal Virus Campak: Penyebab, Gejala serta Pengobatannya
Data dari UNICEF menunjukkan bahwa campak sangat berbahaya bagi anak-anak di bawah usia lima tahun, terutama mereka yang tidak divaksinasi atau mengalami kurang gizi. Setiap tahun, sekitar 136.000 orang di dunia meninggal akibat campak, dan mayoritas korbannya adalah anak-anak.
Selain gejala umum seperti demam, batuk, dan ruam, campak menyimpan ancaman tersembunyi yang disebut “Immune Amnesia” (Amnesia Imun). Virus campak dapat menghapus memori sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi dan vaksinasi sebelumnya hingga 30 persen.
Akibatnya, sistem imun “lupa” cara melawan penyakit yang sebelumnya sudah pernah dihadapi, membuat anak rentan terkena penyakit lain selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah sembuh dari campak.
Beberapa komplikasi berat lainnya meliputi:
- Pneumonia: Infeksi paru yang menjadi penyebab kematian tertinggi pada kasus campak.
- Ensefalitis: Peradangan otak yang bisa menyebabkan koma, kerusakan otak permanen, hingga kematian.
- SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis): Komplikasi langka namun 100% mematikan. Virus ini bisa “tidur” di tubuh selama 6-8 tahun sebelum akhirnya menyerang saraf, menyebabkan kehilangan kemampuan motorik, penglihatan, pendengaran, hingga kematian. Tidak ada obat untuk SSPE; satu-satunya cara adalah dengan tidak terkena campak sejak awal. dtk


