Heti Palestina Yunani Kini Jadi Nahkoda Baru Dewan Kebudayaan Surabaya
SURABAYA, Nawacita – Dewan Kebudayaan Surabaya (DKS) kini memasuki kepengurusan yang baru, usai Heti Palestina Yunani terpilih sebagai ketua DKS dalam proses voting terbuka dalam rapat penyusunan struktur kepengurusan. Usai terpilih, Heti menunjuk Probo Darsono Yakti sebagai sekretaris.
Rapat tersebut berlangsung di ruang Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Gedung Siola, Jalan Tunjungan, Surabaya, Rabu (5/3/2026) siang.
Pemungutan suara dilakukan oleh para anggota pengurus yang telah lolos proses seleksi yakni, Achmad Zaki Yamani, Bagus Heri Setiadji, Dhany Nartawan, Hery ‘ Lentho’ Prasetyo, Heroe Boediarto, Heti Palestina Yunani, Jarmani, Probo Darono Yakti, Ris Handono, Rojil Nugroho Bayu Aji, Rokim Dakas, Sekar Alit Santya Putri, dan Yogi Ishabib.
Nama-nama tersebut merupakan hasil penyaringan dari sekitar 140 pendaftar yang kemudian mengerucut setelah dinyatakan lolos fit and proper test oleh tim penguji yang diinisiasi Disbudporapar Kota Surabaya.
Baca Juga: Disbudporapar Sumenep Bina 5 Pokdarwis Baru Majukan Desa Wisata
Empat nama yang diusulkan sebagai kandidat ketua diantaranya, Heti Palestina Yunani, Heri “Lentho” Prasetyo, Probo Darono Yakti, dan Heroe Boediarto.
Di tahap awal pemungutan suara Heti dan Heri Lentho sama-sama memperoleh lima suara. Yang menarik saat rapat penyusunan tersebut berlangsung Heti sedang dalam perjalanan ke Ambon dan mengikuti melalui Zoom.
“Secara pribadi saya tidak menyangka akan dibawa sampai menerima tugas ini. Semula ikut musyawarah saja tidak bisa karena hendak ke Ambon, tapi bisa saya tunda,” ucap Heti.
Pada babak penentuan, Heti menjadi pemilih terakhir, sekaligus penentu mengenai siapa kandidat yang akhirnya akan memimpin DKS Surabaya dan akhirnya Heti berhasil unggul satu suara dan akhirnya terpilih sebagai ketua.
“Saat penyusunan struktur baru saya ikut rapat dengan Zoom di kapal KM Labobar menuju Ambon, menggunakan hak suara saya yang menentukan karena itu sudah menyangkesanggupan dan komitmen. Kebetulan saya pemilih yang terakhir saat posisi sama dengan kandidat lain seolah itu kompetisi padahal sekali lagi itu tentang kesanggupan dan komitmen,” ungkapnya.
“Ini bukan persaingan menjadi ketua melainkan hanya fungsi koordinatif karena 13 orang ini akan bekerja kolektif dan kolaboratif,” imbuhnya.
Alumni Fakultas Antropologi Universitas Airlangga tersebut meyakini bahwa seluruh pengurus yang terpilih merupakan orang yang berkomitmen kepada dunia kesenian dan kebudayaan.
“Saya orang yang percaya bahwa setiap warga kota Surabaya diberi kesempatan memikirkan kemajuan Surabaya dari sisi apa pun. Dalam perkara memajukan kebudayaan, ketulusan itu penting. Itulah yang membawa 13 pengurus sampai terpilih. Tanpa itu ga akan mereka ini menawarkan diri,” ujarnya.
Heti menilai terbentuknya kepengurusan baru DKS menjadi momentum penting bagi pengembangan ekosistem kebudayaan di Surabaya. Dalam konsep baru tersebut, DKS diposisikan sebagai mitra strategis wali kota dalam merumuskan kebijakan kebudayaan.
“Dengan terbentuknya DKS, Surabaya diharapkan memasuki era baru yang diikuti dengan transformasi,” ujarnya.”
Ia menjelaskan bahwa paradigma kerja DKS kali ini berbeda dibandingkan sebelumnya, terutama dalam hal tugas dan kewenangan lembaga.
“Di Surabaya ini banyak orang yg ga mau repot memikirkan kebudayaan, perkara yang disangka bisa saja cuma diletakkan saja lalu bisa berkembang sendiri. Saya ingin mengajak semua pengurus bekerja di titik tengah bukan dari pinggir yang membawa kepentingan masing-masing,”
DKS ini juga dapat melakukan pengawasan, pemantauan, serta evaluasi terhadap implementasi kebijakan kebudayaan serta menjadi ruang koordinasi dan pemikiran strategis bagi perkembangan kebudayaan di Kota Surabaya.
Struktur organisasi DKS terdiri atas ketua, sekretaris, serta bidang kuratorial dan kebijakan. DKS tidak memiliki jabatan bendahara, sebab tidak ada dana hibah untuk DKS. Pengurus DKS nantinya memiliki fokus kerja dalam mendorong pemberdayaan komunitas pekerja kreatif.
“Gaya kerja kolaboratif dan kolektif adalah semangat DKS. Tidak ada lagi seniman yang bekerja memikirkan bidang seninya sendiri,” pungkasnya.
Reporter : Rovallgio


