Gus Muhammad Al Fayyadi Ajak Lintas Elemen Bangun Gerakan Moral, Desak Pembebasan Tahanan Politik
SURABAYA, Nawacita – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Gus Muhammad Al Fayyadi, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun gerakan moral bersama sebagai respons atas berbagai persoalan kemanusiaan dan demokrasi yang dinilai semakin memprihatinkan.
Hal tersebut disampaikan dalam Diskusi dan Konferensi Pers bertajuk “Dari Penjara ke Penjara: Segera Bebaskan Komar” yang digelar di Pastoran Youth Center Keuskupan Surabaya, Jumat (19/6/2026).
Dalam forum tersebut, Gus Fayyadi menegaskan bahwa pertemuan lintas agama dan lintas kelompok itu menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas terhadap masyarakat yang tengah menghadapi ketidakadilan.
“Kita tadi sudah sama-sama saling menguatkan. Intinya ini harus menjadi titik balik kesadaran kita semua, elemen lintas agama, lintas kelompok, lintas golongan, dan lintas organisasi, bahwa ada saudara-saudara kita yang tidak sedang baik-baik saja,” ujarnya.
Baca Juga: Pemprov Jateng Beri Dukungan Nyata untuk Pendidikan Pondok Pesantren
Menurutnya, kondisi tersebut perlu disampaikan secara luas kepada publik agar tidak berhenti sebagai diskusi semata. Ia berharap pertemuan tersebut dapat ditindaklanjuti dengan berbagai aksi nyata yang dilakukan secara serentak.
“Mudah-mudahan ini tidak berhenti sampai di sini. Kita perlu menindaklanjutinya dengan aksi-aksi bersama secara serentak,” katanya.
Gus Fayyadi menilai keresahan yang disuarakan berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dalam beberapa waktu terakhir, merupakan bentuk keprihatinan bersama terhadap kondisi moral dan kemanusiaan bangsa.
Ia bahkan menyebut situasi yang terjadi saat ini sebagai peringatan serius bagi seluruh elemen masyarakat untuk bergerak melakukan perubahan.
“Ini memang keprihatinan bersama karena situasi moral dan kemanusiaan di negara kita yang semakin menuju titik kehancuran dan kebangkrutan,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong lahirnya gerakan moral dengan berbagai bentuk manifestasi, baik di lingkungan pendidikan, ruang-ruang publik, jalanan, maupun melalui media sosial.
Menurutnya, gerakan tersebut harus menjadi sarana untuk menuntut perubahan dan mendorong hadirnya kepemimpinan yang adil serta berpihak kepada rakyat.
Selain itu, Gus Fayyadi juga menyoroti pendekatan yang dinilainya terlalu represif dalam penanganan persoalan hukum, demokrasi, maupun aspirasi masyarakat. Ia menolak penggunaan pendekatan militeristik maupun tindakan berbasis kekerasan dalam menyelesaikan persoalan publik.
“Kita menolak pendekatan militeristik dan pendekatan yang berbasis kekerasan serta represif. Itu harus menjadi dorongan untuk gerakan moral bersama,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat, mulai dari kaum intelektual, petani, buruh, mahasiswa, ulama, kiai hingga tokoh agama, untuk terlibat dalam gerakan moral tersebut.
“Siapapun itu, kaum intelektual, petani, buruh, mahasiswa, ustaz, kiai, tokoh agama, semuanya. Ini memang sudah waktunya,” pungkasnya.
Reporter : Rovallgio


