Sunday, July 14, 2024
HomeDAERAHJATIMTenun Motif Candi Wringinlawang dan Surya Majapahit Jadi Icon Pengrajin Tenun Tradisional...

Tenun Motif Candi Wringinlawang dan Surya Majapahit Jadi Icon Pengrajin Tenun Tradisional di Mojokerto

Tenun Motif Candi Wringinlawang dan Surya Majapahit Jadi Icon Pengrajin Tenun Tradisional di Mojokerto

Mojokerto, Nawacita – Kemajuan teknologi industri tidak mengesampingkan keberadaan kerajinan kain tenun. Kabupaten Mojokerto tak kalah dengan daerah lain dalam hal fashion dan gaya hidup. Bumi Majapahit juga memiliki penenun terampil dari kain Ikat tradisional di samping banyaknya pilihan batik tulis yang penuh dengan tema khas Mojopahitan. Motif tenun yang dihasilkan memiliki kualitas yang membuatnya layak menjadi referensi bagi penggemar pakaian etnik.

Satu-satunya industri tenun ikat tradisional skala kecil di Kabupaten Mojokerto terletak di Dusun/Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal. Sejak 2008, usaha yang didirikan oleh Budhi Iswanto, 38, dan Lina Hidayati, 37, ini telah menghasilkan beragam motif tenun ikat tradisional yang mempunyai ciri khas sendiri.

Menariknya, saat ini Budhi sedang membuat kain tenun ala Kabupaten Mojokerto. Salah satunya adalah motif tenun Candi Wringinlawang dan Surya Majapahit. Sebulan lalu, dia mengajukan paten untuk desain Surya Majapahit. Kain jadi juga memiliki warna yang terang. Merah, biru kehijauan, hijau, coklat, dan hitam adalah beberapa lagi.

“Tenunan kami memiliki pola dan motif khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh pengrajin lain. Tenun kami juga memiliki kelebihan yaitu hangat dan nyaman dipakai, serta warna yang tidak luntur,” kata Budhi kepada Nawacita, Jum’at (24/3/2023)

Bapak dua anak ini membuat kain tenun tradisional di sebuah ruangan di belakang rumahnya. Di sini, bahan baku benang kapas mengalami proses dua minggu yang berlarut-larut sebelum menjadi sehelai kain.

Tenun Tradisional di Mojokerto yang tetap eksis. Foto : Fio Atmaja
Tenun Tradisional di Mojokerto yang tetap eksis. Foto : Fio Atmaja

Dengan harga Rp 220.000 per kg, benang dasar dibuat pada tahap pertama menggunakan benang katun yang diimpor dari India. Pertama-tama, pewarna naptol dan indantren digunakan untuk mewarnai benang polos. Selain itu, benang dasar direntangkan pada alat tenun bukan mesin (ATBM).

Sebanyak 84 ban dengan ulir dasar selebar 90 cm ditempatkan dalam satu ATBM. Ada 35 putaran benang di setiap ban. Sekitar 1 sentimeter dibuat di antara setiap ban. benang yang diperlukan memiliki 3.200 helai, yang merupakan jumlah yang sangat panjang. Setiap helai benang mencapai panjang 35 meter.

“Saya memilih benang impor dari India karena kualitasnya lebih tinggi dan lebih mudah mengambil warna dibandingkan benang dalam negeri. Begitu juga dengan benang pakan” jelasnya.

Budhi menjual satu kilogram benang katun putih polos seharga Rp 200.000. Benang ini awalnya digulung menjadi 55 gulungan yang diletakkan di atas rangka kayu. 55 benang pakan kemudian diangkat dan digulung di atas rangka kayu keras selebar 94 cm.

Budhi menggambar motif terlebih dahulu, kemudian benang pakan ditempatkan di bingkai. Untuk mencegah air masuk, proses dilanjutkan dengan mengikat pola dengan tali rafia. Agar gulungan benang pakan lebih menyerap saat dicelupkan ke dalam pewarna naptol dan indantren, terlebih dahulu direndam dalam air sabun selama satu hari satu malam.

“Semua ikatan dipotong setelah kain diwarnai, dan benang kemudian digeser. Benang pakan dibagi menjadi per helai, dan setiap helai digulung. Benang dari setiap helai dapat diurai dalam 3 hari paling banyak,” ujarnya.

Setelah itu, dua pegawai wanita yang mengelola ATBM mengambil alih tenun. Untuk membuat lembaran kain, dasar dan benang pakan dijalin menjadi satu. Seorang penenun rata-rata hanya bisa menghasilkan 1 helai kain per hari. Setiap kain berukuran 90 x 250 cm. Motif yang telah selesai diwarnai dengan mencelupkan kain ke dalam pewarna.

Menurut Budhi, proses menenun bisa memakan waktu hingga dua minggu jika Anda memulai dari awal dengan penyediaan bahan.

Budhi menjual tenun merk RHL ini dengan harga yang sama yaitu Rp 250.000 per potong untuk semua motif,. Dia tidak hanya menghasilkan kain; Ia juga membuat kemeja, jaket, selendang, tas, dan sarung dari kain tenun. Baju lengan panjang harganya Rp. 400.000, jaket Rp. 500.000, tas tangan Rp. 100.000, sarung Rp. 350.000, dan syal Rp. 150.000.

Baca Juga: Gagal Berangkat Tahun 2022, CJH Kota Mojokerto dipastikan Berangkat di Tahun 2023

Pandemic covid19 yang melanda kawasan Indonesia beberapa tahun  lalu tidak membuat usah Budhi menurun, bahkan kain tenun asal Mojokerto ini banyak pesanan dari Timur Tengah, mesikupun pada awalnya usaha kain tenun ini dipasarkan hanya skala lokal dan Nasional namun seiring berkembangnya usahanya bisa diminati hingga luar negeri.

“Jadi ada orang sini yang mau bawa ke sana (Timur Tengah). Tapi minta dikerjakan secara detail. Ukuran dan bahannya punya spek tertentu untuk dibawa ke Timur Tengah,” ucapnya.

Lewat usaha dan kegigihannya kini Budhi menjadi salah satu perajin binaan Disperindag Kabupaten Mojokerto. Ia mempunyai 3 ATBM yang salah satunya bantuan dari pemerintah.

Tenun Ikat RH Lestari yang yang digeluti Budhi harapannya kedepannya agar tetap bertahan di era modernisasi dan budaya barat yang menjamur dikalangan milenial sekarang, dengan bertahannya usaha tenun ini akan bisa mendongkrak Mojokerto menjadi daerah dengan kaya akan budaya, seniman dan pengrajin.

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular