Sejarah Hari Janda Internasional yang Diperingati pada 23 Juni

0
67
Hari Janda Internasional

Jakarta, Nawacita | Setiap 23 Juni selalu diperingati sebagai Hari Janda Internasional (International Widow’s Day) di seluruh dunia. Perayaan yang sudah ada sejak 2013 ini bertujuan untuk mendukung pencapaian hak dan pengakuan bagi para janda.

Melansir dari laman resmi PBB, peringatan Hari Janda Internasional juga dimaksudkan untuk memberikan informasi terkait akses ke bagian yang adil dari warisan, tanah, dan sumber daya produktif. Selain itu, PBB juga meminta pemerintah masing-masing negara untuk memastikan hak para janda dipenuhi. Beberapa keinginan tersebut yang akhirnya menjadi salah satu latar belakang adanya Hari Janda Internasional.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk memperingati Hari Janda Internasional, seperti kampanye anti diskriminasi terhadap janda dan menjalankan berbagai macam program pemberdayaan. Dengan begitu, masyarakat lebih bisa menghargai keberadaan para janda dan hak-hak janda akan terpenuhi.

Baca Juga: 21 Juni Sejarah Dunia: Lahirnya Presiden Jokowi Hingga Wafatnya Presiden Soekarno

Sejarah Hari Janda Internasional

Sebagaimana kita tahu, Hari Janda Internasional adalah hari aksi PBB yang menyoroti dan memerangi diskriminasi dan ketidakadilan yang dialami para janda di seluruh dunia. Mengutip dari laman The Loomba Fondation, Hari Janda Internasional juga merupakan inisiatif dari Loomba Fundation yang diluncurkan pada 26 Mei 2005.

Setelah peluncuran, Loomba Fundation memimpin kampanye global lima tahun untuk pengakuan PPB yang akhirnya menghasilkan keputusan bulat untuk mengadopsi Hari Janda Internasional sebagai hari aksi tahunan oleh Majelis Umum PBB pada Desember 2010.

ilustrasi

Sejak itu, Hari Janda Internasional semakin aktif melakukan kampanye di seluruh dunia, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendukung kebijakan pemerintah yang efektif.

Tujuan Peringatan Hari Janda Internasional

Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita sering mendengar berbagai stigma negatif terhadap janda. Beberapa contoh stigma negatif di masyarakat mengenai janda antara lain seksualisasi terhadap janda, stereotip perempuan gampangan, hingga perusak keluarga. Adanya stigma negatif tersebut membuat para janda rentan mengalami diskriminasi, seperti kesulitan mencari lapangan kerja hingga terbatasnya akses layanan kesehatan.

Baca Juga: 20 Juni Sejarah Dunia: Samuel Morse Menerima Hak Paten Telegraf Hingga Berlin Kembali Jadi Ibu Kota Jerman

Melansir dari laman PBB, setidaknya ada 245 juta janda di seluruh dunia, sekitar 115 di antaranya berada di garis kemiskinan, mengalami stigma sosial, dan kekurangan uang karena kehilangan suaminya. Adapun stigma negatif tersebut disebabkan karena masih adanya pola pendidikan keluarga yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Selain itu, adanya nilai-nilai di masyarakat yang terkadang masing menyudutkan seorang janda.

Untuk itu, PBB meminta pemerintah masing-masing negara untuk memenuhi hak para janda. Hal ini sebagaimana yang tercantum  dalam hukum internasional, termasuk konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dan Konvensi tentang Hak-Hak Anak. mrdk

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail

LEAVE A REPLY