Wisatawan Domestik Adalah Peran Penting Bangkitnya Pariwisata

0
142
Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kemenparekraf, Henky Manurung.

Jakarta, Nawacita – Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kemenparekraf Henky Manurung mengatakan, jika wisatawan domestik sangat berperan dalam mendorong kebangkitan sektor pariwisata saat ini, setelah dihantam pandemi Covid-19.

Bahkan, seiring dengan makin terkendalinya situasi Covid-19, pemerintah pun memberlakukan beberapa relaksasi dan kebijakan guna mendukung pulihnya sektor ini. Di antaranya, sertifikasi Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE).

“Wisata domestik mulai bergairah. Tujuan kunjungan ke Bali misalnya, dalam sehari mencapai 14 ribu penumpang yang melakukan penerbangan, tertinggi di masa pandemi Covid-19 dalam dua tahun terakhir,” ujar dia dalam keterangannya, Jumat (31/12).

Saat ini, katanya, wisatawan domestik akan menjadi tulang punggung industri pariwisata. “Wisatawan Indonesia bertanggung jawab, taat prokes 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan), sembari kami gencarkan 3T (testing, tracing, treatment). Jadi untuk sementara wisatawan domestik akan menjadi andalan,” ujarnya.

Optimisme membangkitkan pariwisata nasional tetap kuat, meski saat ini, pemerintah tetap waspada. Khususnya, terhadap ancaman varian Omicron yang sudah ditemukan di Indonesia.

“Kita coba ciptakan ketaatan prokes agar mampu bertahan dan membangun ekonomi kreatif ke depan dan menjadikan pertumbuhan industri pariwisata di 2022 lebih baik,” ujar Henky.

Guna mendukung pariwisata domestik, Henky menambahkan, pihaknya akan bekerja sama dengan mitra mulai 24 Desember 2021. Salah satunya, dengan dihadirkannya mobil vaksin di Bali untuk percepatan vaksinasin khususnya mengejar vaksinasi anak-anak usia 6-11 tahun, termasuk mereka yang belum divaksinasi, meskicatatan vaksinasi di Bali sudah tinggi.

Di sisi lain, kata dia, sistem keamanan bandara, juga sudah baik, terutama dalam hal mengatasi potensi kerumunan. Petugas-petugas di bandara sudah membuat pembatasan kerumunan. Sebagai masyarakat, ucap dia, sebaiknya juga turut berpartisipasi untuk hindari kerumunan di seluruh aksesibilitas. Selain petugas.

“Pihak Pemda TNI Polri juga telah diturunkan untuk memecah kerumunan di kawasan wisata. Atraksi wisata tetap ada pembatasan pengunjung,” ujarnya.

Henky menegaskan, meskipun sudah hampir dua tahun industri pariwisata ‘menderita’ karena pandemi namun prokes tetap harus ditaati. Tujuannya, bukan hanya melindungi pengunjung tapi juga pekerjanya. Bersama-sama seluruh pihak harus tertib, dan itu sudah berjalan sepanjang pengamatan pihaknya belakangan ini.

“Selain Bali, Banten juga diharapkan jadi percontohan untuk daerah tujuan wisata serta staycation yang sudah dirindukan masyarakat,” ujarnya.

Komitmen pemerintah

Sebagai bentuk dukungan kepada dunia pariwisata, Henky menyampaikan, Kemenparekraf menyiapkan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) hingga Rp 681 miliar, yang dialokasikan untuk bidang pariwisata dan ekonomi kreatif. Dukungan tersebut rencananya akan berlanjut pada tahun depan.

Dia juga menekankan, pemerintah berkomitmen akan selalu hadir di industri pariwisata. Sekaligus, di saat bersamaan, mengharapkan dukungan dari berbagai pihak. Termasuk, generasi millennial untuk membangkitkan sektor wisata domestik.

Pada kesempatan sama Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) mengaku, optimistis perekonomian akan bangkit melalui industri pariwisata. Namun, kata dia, hal itu tentu membutuhkan sejumlah dukungan dan kesiapan.

“Saat ini prokes di Bali sudah baik, mencapai 95 persen, kasus Covid-19 juga landai. Tingkat kunjungan wisatawan domestik ke Bali juga menunjukkan kenaikan,” tuturnya.

Namun demikian, tingginya animo pasar masih terbentur beberapa kendala. Dia menyampaikan, berdasarkan sejumlah survei, travellers Eropa punya keinginan besar ke Bali, namun terkendala kondisi internal di sana.

Selain itu, persyaratan masuk ke Indonesia juga masih menjadi perhatian. Seperti terkait masa karantina, aturan penerbangan yang harus dipatuhi, juga masalah visa.

“Harus ada aksesibilitas sendiri dan bekerja sama dengan rumah sakit rujukan terdekat. Jika hal itu terpenuhi, baru dikeluarkan sertifikatnya,” ujarnya.

“Ini menunjukkan bahwa Bali sesungguhnya siap. Negara yang tergabung di G20 saja mau datang ke Bali, wisatawan juga harusnya mau,” imbuh Cok Ace. Dia menambahkan, banyak kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan terpaksa dibatalkan karena tidak sesuai prokes.

Saat ini, kunjungan wisatawan ke Bali kurang lebih baru 5 persen. Setelah hampir dua tahun wisata di Bali terpuruk, Cok Ace menyebutkan, timbul kerusakan di berbagai fasilitas maupun sumber daya manusia (SDM).

“Sebelum Covid teratur dilakukan pelatihan dan pertukaran tenaga kerja. Dan selama dua tahun terakhir, hal itu tidak terjadi,” ujarnya.

Namun, saat ini, SDM sedang dioptimalkan seefisien mungkin. Oleh karenanya, untuk memulihkan wisata Bali 2022, akan dilakukan sejumlah terobosan, misalnya upaya agar kerusakan fasilitas tidak terjadi secara permanen.

Rpblk.

LEAVE A REPLY