Berita Hoaks Seputar Varian Omicron Terus Beredar

0
138
Gambar: ilustrasi hoaks

Jakarta, Nawacita – Kabar bohong atau hoaks seputar Covid-19 varian omicron terus beredar masif di dunia maya. Masyarakat diajak selalu waspada dan selektif serta melakukan pengecekan berlapis untuk memastikan validitas sebuah kabar, apalagi sumbernya tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Dedy Permadi, mengatakan, data dari survei yang dilakukan Katadata Insight dan Kementerian Kominfo menunjukkan, setidaknya 30 hingga 60 persen masyarakat di Indonesia terpapar hoaks saat mengakses dan berkomunikasi di dunia maya. Hal ini harus menjadi perhatian bersama, apalagi mengingat hingga saat ini hoaks terkait Covid-19 masih terus beredar.

Dedy menjelaskan, beberapa hasil suvei terkait masih besarnya pengaruh hoaks terhadap masyarakat. Salah satunya, Riset Center for International Governance Innovation pada tahun 2019 yang dilakukan terhadap 25 ribu responden di 25 negara. Hasilnya menunjukkan, sebanyak 86 persen percaya mereka telah terpapar berita bohong atau hoaks saat menjelajah di internet.

Kemudian, survei dari Statista yang diadakan di tahun 2020 menunjukkan bahwa 60 persen masyarakat berusia 16 hingga 24 tahun di Inggris menggunakan media sosial untuk mendapatkan informasi tentang Covid-19. Namun sebanyak 59 persen dari mereka terpapar informasi tidak benar terkait Covid-19.

“Melalui survei tersebut juga ditemukan bahwa 11,2 persen responden menyatakan pernah menyebarkan kabar bohong atau hoaks dan 68,4 persen di antaranya mengatakan hanya ingin mendistribusikan informasi, meski belum memverifikasi kebenarannya,” papar Dedy.

Dari 17 isu hoaks seputar Covid-19 yang beredar selama sepekan terakhir, ujar Dedy, terdapat beberapa contoh hoaks dan disinformasi yang perlu ditangkal bersama. Dengan ditemukannya varian baru yang perlu mendapatkan perhatian seperti Omicron, Dedy menekankan pentingnya mewaspadai kabar bohong yang beredar terutama terkait virus tersebut.

Karena itu, selain mengingatkan masyarakat untuk selalu berhati-hati, taat protokol kesehatan, mengikuti kebijakan yang berlaku, dan menggencarkan vaksinasi untuk menekan risiko persebaran Covid-19, persebaran hoaks juga harus dihentikan.

“Mari semakin cerdas dalam memilah informasi agar angka persebaran Covid-19 terus menurun, menuju aktivitas yang lebih aman dan produktif,” ujar dia.

Belum terdeteksi

Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menegaskan, pemerintah hingga saat ini belum menemukan kasus dengan varian Omicron di Indonesia. Menurut Wiku, pemerintah pun terus memonitor distribusi varian Covid-19 melalui sequencing spesimen pelaku perjalanan di tiap pintu masuk yang tersebar di Indonesia.

“Dan sampai sekarang belum ditemukan kasus bervarian Omicron,” kata Wiku saat konferensi pers, Kamis (9/12).

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) yang terus dilakukan pemerintah secara intensif, varian baru Covid-19 Omicron belum terdeteksi di Indonesia. “Informasi ini sekaligus mengklarifikasi sejumlah pemberitaan yang mengatakan adanya pasien yang terpapar varian baru omicron,” kata Nadia.

Saat ini, sekitar 57 negara di dunia melaporkan adanya varian Omicron. Artinya, penyebarannya cukup cepat sejak dilaporkan kemunculannya pada 24 November tahun ini. Sejak 26 November 2021 varian Omicron masuk dalam Variant of Concern (VoC).

 

Rpblk.

LEAVE A REPLY