Tarik Wisatawan dengan CHSE, Promotor Bisa Gelar Event Pameran & Musik di era New Normal

0
192
Kemenparekraf gandeng pelaku event berbagi pengalaman menggelar acara di era new normal di Surabaya, Kamis (3/11/2021).

SURABAYA | Nawacita – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terus melakukan upaya agar Dunia pariwisata di Indonesia termasuk Jawa Timur bisa bangkit kembali di era new Normal akibat pandemi Covid. Rangkaian pola uji coba sudah dilakukan dengan para penyelenggara event Pameran dan musik melalui panduan CHSE singkatan Cleanliness atau kebersihan, Health atau kesehatan, Safety atau keamanan, dan Environment Sustainability atau kelestarian lingkungan.

Salah satunya dengan menggandeng pelaku event untuk menceritakan pengalamannya melalui program Cerpen (Cerita Pendek CHSE Event). Dimana pada hari Rabu (3/11/2021) Kemenparekfraf mendatangkan penyelenggara event musik Jazz Gunung Bromo dan Penyelenggara event Wisata Jember Fashion Carnival (JFC) untuk berbagi pengalaman penerapan panduan CHSE dalam kesuksesan acara di era Pandemi COvid-19. 

Hafiz Agung Rifai Koordinator Strategi dan Promosi Event Daerah Kemenparekraf mengakui bahwa banyak penyelenggara yang belum tersosialisasi buku panduan CHSE. Dimana buku panduan ini berisi tentang tata cara operasional tentang protokol Kesehatan di tempat umum. Sehingga penyelenggara event-event Wisata yang dapat mendatangkan penonton sebenarnya sudah bisa dilakukan. Kemenparekraf sebenarnya sudah mendistribusikan buku panduan ini. Semua lewat asosiasi seperti APMI, Akarya, Imarindo juga ke Pemerintah Daerah di dinas pariwisata masing-masing. Buku ini juga kita drop di jajaran Mabes Polri agar didistribusikan ke seluruh bawahannya. “Kami komitmen untuk terus menosialisasikan kepada pelaku event maupun masyarakat terkait buku panduan CHSE ini, agar event-event di Daerah hidup kembali dan dapat memulihkan sektor pariwisata,” jelas Hafiz, di Surabaya (3/11/2021).

Menurutnya, membangun kepercayaan masyarakat untuk kembali berwisata dan menikmati sajian hiburan di Tempat umum juga terus dilakukan pemerintah.  Kemenparekraf juga sedang menggodok sertifikasi event. Seperti yang sudah dilakukan di Tempat Wisata, hotel dan restoran. Agar pengunjung event yang hadir lebih trust untuk hadir di event tersebut. “Misalnya event Jember Fashion Carnaval tersertifikasi CHSE sebagai tanda bahwa event ini sudah Aman. 

Untuk pengurusannya tidak terlalu sulit, hanya cukup mengisi data dan Tim penilai dari kemenparekraf yang nanti mendatangi langsung melakukan penilaian atas indikator-indikator CHSE,” terang Hafiz yang terus keliling ke sejumlah Daerah mensosialisasikan CHSE ini.

Sementara itu, Bagas Indyatmono, Direktur Utama Jazz Gunung menceritakan pengalamannya ketika menyelenggarakan event ditengah pandemi Covid belum lama ini di Gunung Bromo. Ia mengaku nekad menggelar event tersebut karena ingin memberikan Tempat berkreatifitas para Seniman music yang telah lama vakum. Namun nekad tersebut menjadi terukur dan tidak kebablasan karena Kemenparekraf memberikan panduan CHSE ini. Seperti kewajiban test swab bagi seluruh pengisi acara, crew, Petugas sound hingga penonton di Hari H. “CHSE ini betul-betul bisa kami jadikan panduan sehingga acara berlangsung sesuai protokol Kesehatan, aman dan pengunjung tidak ada tertular Covid-19,” terang Bagas.

 

David Soesilo, event Director JFC berharap panduan CHSE ini dapat terus optimal dan bermanfaat bagi para penyelengara event-event besar khususnya yang menjadi daya Tarik daerah. Untuk itu peran pemerintah Daerah untuk bersama-sama melakukan sosialisasi dan pendampingan sangat dibutuhkan. Mengingat banyak sekali item-item tambahan yang dirasakan para penyelenggara event di Tengah pandemi atau new normal seperti sekarang ini. “Pemda harus membuat role model penyelenggaraan pameran sesuai kondisi daerah masing-masing. Sehingga ada support Penuh dari pemerintah agar event Wisata dapat berjalan dengan baik dan tetap sesuai protokol Kesehatan,” jelas David. rko

LEAVE A REPLY