Tiru Walisongo PWNU Jatim Usulkan 5 Kiai Calon Anggota AHWA di Muktamar NU

0
185

Surabaya, Nawacita -Jelang perhelatan Muktamar NU ke 34 di Lampung pada 23-25 DEsember 2021, PWNU Jatim secara resmi menyatakan dukungan kepada duet KH MIftakhul Achyar sebagai calon Rais A’am PBNU) dan KH Yahya Cholil Tsaquf sebagai calon ketua umum PBNU masa khidmad 2022-2027.

Keputusan dukungan itu diambil setelah PWNU Jatim menggelar rapat bersama 41 PCNU se Jatim sejak pagi hingga siang hari di kantor PWNU Jatim jalan Masjid Al Akbar Surabaya, Selasa (12/10/2021). 

Usai pertemuan, PWNU Jatim memberikan keterangan pers dihadiri oleh rais syuriyah
PWNU Jatim, KH Anwar Manshur, Rais wakil rais syuriyah KH Anwar Iskandar, katib PWNU Jatim KH Safrudin Syarif, wakil katib Gus Kautsar, ketua tanfidziyah PWNU Jatim kH Marzuki Mustamar dan sekretaris PWNU Jatim Prof Ahmad Muzakki 

KH Anwar Iskandar, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim mengatakan bahwa pertimbangan utama dukungan PWNU Jatim kepada duet KH Miftakhul Achyar dan KH Yahya Cholil Tsaquf didasarkan atas pertimbangan regenerasi kader-kader NU untuk menempati posisi strategis pada struktur tanfidziyah.

“NU membutuhkan regenerasi di jajaran pengurus tanfidziyah. Kita memiliki kader-kader NU yang sangat potensial untuk menempati posisi strategis pada struktur tanfidziyah,” kata pengasuh Ponpes Al Amin Ploso Kediri ini. 

Senada, Ketua tanfidziyah PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar menambahkan bahwa rapat pengambilan keputusan dukungan di Muktamar NU mendatang itu mengedepankan tradisi pesantren. Artinya, jika ada perbedaan pendapat maka dimintakan pendapat kiai yang dituakan yakni rais syuriyah PWNU Jatim.

“Sesuai arahan rais syuriyah PWNU Jatim KH Anwar Mansur, PWNU Jatim dan PCNU se Jatim samikna wa’athokna akan mendukung KH Miftakhul Achyar sebagai Rais A’am PBNU dan Gus Yahya Cholil Tsaquf sebagai ketum PBNU,” tegas Kiai Marzuki Mustamar. 

Keputusan PWNU Jatim ini akan segera disosialisasikan salah satunya melalui media massa teman-teman media, agar nantinya tidak timbul friksi dan salah persepsi antar pesantren, antar kiai maupun antar warga nahdliyin di Jatim terkait keputusan ini. 

“Kita mengikuti yang diajarkan nabi Daud, Taqwalah kamu mengikuti dawuh yang disampaikan orang mukmin, apalagi seorang ulama sepuh karena mereka kalau dawuh itu berdasarkan cahaya dari Allah, sehingga pokoknya kita manut dawuhnya rais syuriyah karena itu sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata,” ungkap pengasuh Ponpes Sabilurrosyad Gesek Malang.

Di sisi lain, hasil keputusan rapat PWNU bersama PCNU se Jatim juga memutuskan untuk terus memperjuangkan proses pemilihan dalam Muktamar NU ke 34 mendatang tetap menggunakan sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Pasalnya, sistem tersebut gagal diperjuangkan melalui Munas maupun Mubes NU beberapa bulan lalu.

“Kita akan berjuang setiap ada kesempatan dalam sidang Tatib di Muktamar NU mendatang untuk menggunakan sistem AHWA. Sebab sistem tersebut adalah warisan salafus sholih,” jelas Kiai Marzuki.

Menurut Kiai Marzuki, sistem AHWA itu digunakan sejak era rais akbar Hadratus Syech KH Hasyim Asy’ari, lalu berlanjut lagi pada Muktamar 27 Situbondo yang memilih KH Ahmad Shiddiq sebagai rais A’am dan atas saran KH As’ad Syamsul Arifin untuk ketua umum PBNU diberikan kepada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Terkait anggota AHWA, lanjut KH Marzuki Mustamar, PWNU Jatim juga akan mengusulkan sejumlah kiai sepuh yang alim dan tidak terlibat kepentingan apapun di luar NU, sehingga mereka layak masuk anggota AHWA dalam proses pemilihan rais a’am maupun ketum PBNU di Muktamar mendatang. 

“Seperti Walisongo di Jatim itu khan ada lima, sehingga kalau diperkenankan kita juga mengusulkan lima orang kiai, yakni KH Nurul Huda Jazuli (Ponpes Al Falah Ploso Kediri), KH Anwar Manshur (Ponpes Lirboyo Kediri), KH Miftakhul Achyar (Ponpes MIstahussunnah Surabaya), Ra Fuad Bin Hasan (ponpes Sidogiri Pasuruan dan KH Ubaidillah Faqih (Ponpes Langitan Widang Tuban),” pungkas kiai bersuara lantang ini. (tis)

LEAVE A REPLY