Resah dan Gelisah Peternak Ayam Petelur

0
244
Ilustrasi
Ilustrasi

Nganjuk, Nawacita –  JP Radar Nganjuk- Peternak ayam petelur resah. Penyebabnya, harga telur ayam di Kota Angin terjun bebas selama beberapa minggu terakhir ini. Kemarin, harga telur hanya Rp 14 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram. Padahal, sebelumnya harga telur ayam di kandang Rp 16 ribu per kilogram. “Sekitar tiga minggu terakhir harga telur ayam terus turun,” ungkap Topan Karyanto, 35, salah seorang karyawan peternakan ayam petelur di Desa Klurahan, Kecamatan Ngronggot kemarin.

Turunnya harga telur ayam ini telah dirasakan sejak tiga bulan lalu. Hanya saja, harganya masih bisa naik dan turun sesuai dengan permintaan pasar. Namun, penurunan kali ini dikatakannya menjadi yang cukup ekstrim.

Bahkan, pada tahun-tahun sebelum ini Topan mengatakan bahwa penurunan harga juga sudah sering kali dirasakan. Tetapi tidak sampai seperti sekarang ini. “Adanya pandemi Covid-19 berpengaruh langsung dengan harga telur,” keluhnya.

Tren penurunan harga telur ini pun diakuinya dirasakan oleh sesama peternak lainnya. Tidak hanya di Kota Angin saja. Beberapa peternak di luar kota juga mengalami hal serupa. Seperti halnya beberapa peternak yang ada di Blitar.

Kondisi ini membuat para peternak pusing tujuh keliling. Baik peternak dengan populasi ayam sedikit maupun banyak. Di tempatnya sendiri tercatat sebagai salah satu kandang berskala besar di Desa Klurahan.

Ayah satu anak tersebut mengatakan, ayam petelur di kandangnya mencapai 50 ribu ekor. Dalam setiap harinya, produksi telur ayam rata-rata sekitar 2 ton. “Semakin besar populasinya ya semakin besar ruginya,” keluhnya.

Pasalnya, kebutuhan pakan untuk puluhan ribu ternak tersebut tentu tidak sedikit. Setiap seribu ekor ayam membutuhkan 120 kilogram pakan. Padahal, harga pakan per kg senilai Rp 5 ribu. Praktis, dalam setiap harinya setiap seribu ekor ayam membutuhkan pakan senilai Rp 600 ribu.Itu baru untuk seribu ekor ayam saja. Padahal di kandang tersebut terdapat 50 ribu ekor. “Itu baru pakan saja. Belum untuk biaya operasionalnya,” ujar Topan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Judi Ernanto mengaku sudah mengetahui jika harga telur anjlok. “Kondisi ini terjadi tidak hanya di Nganjuk tetapi di seluruh daerah,” ujarnya.

Saat ini, Judi hanya bisa berkoordinasi dengan Pemprov Jatim untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab, harga telur ditentukan pasar. “Kami tetap memantau dan melakukan koordinasi dengan peternak dan pemprov,” ujarnya.

Sumber : Jawa pos

LEAVE A REPLY