Biaya Proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung Bengkak 28 T

0
153
Didiek Hartantyo. Dok KAI

Jakarta, Nawacita – Proyek Pembangunan Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) mengalami pembengkakan (cost overrun) biaya hingga US$ 2 miliar (Rp 28,6 triliun). Hal itu diungkapkan Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (1/9).

Ia menyebut pembengkakan terjadi karena adanya keterlambatan proses pembangunan. Juga akibat adanya pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia menyebabkan molornya pembangunan pada awal ditargetkan selesai 2019, menjadi akhir 2022.

“Sampai September 2020 sudah adanya indikasi cost overrun terkait dengan keterlambatan daripada proyek ini (KCJB). Apalagi diawal tahun 2020 Maret pandemi Covid-19 sudah terjangkit di Indonesia,” kata Didiek.

Dalam paparnya, Didiek mengatakan nilai cost overrun muncul pada Januari 2021 senilai US$ 2,28 miliar.

Sementara itu, Direktur Keuangan KAI Salusra Wijaya menjelaskan anggaran awal KCJB mencapai USD6,07 miliar. Jumlah tersebut terdiri atas pembiayaan Engineering Procurement Construction (EPC) sebesar USD4,8 miliar dan USD1,3 miliar untuk non-EPC.

Namun, sejak dilakukan kajian dengan bantuan konsultan, perhitungannya justru melebar hingga di angka USD8,6 miliar.

“Dari awal USD6,07 miliar biaya awalnya,  namun berkembang menjadi USD8,6 miliar Setelah dilakukan kajian dengan bantuan konsultan,” jelas Salusra.

Perkiraan konsorsium Indonesia atau PSBI bahwa anggaran KCJB berada di dalam skenario low and high. Low mencapai USD9,9 miliar dan high USD11 miliar. Artinya, cost overrun yang terjadi dengan skenario tersebut adalah sekitar USD3,8-4,9 miliar.

Lebih lanjut, Salusra menyampaikan, untuk menekan nilai cost overrun yang tinggi pihaknya melakukan berbagai efisiensi-efisiensi, dengan melakukan pergantian manajemen dari KCIC di bantu konsultan.

Dan berhasil menekan dari range USD 9,9 miliar sampai USD 11 miliar, menjadi USD 8 miliar.

“Jadi total proyek KCJB di USD 8 miliar kita kurangkan dengan cost original (anggaran awal) USD 6,1 miliar ada cost overrun kira-kira USD 1,9 miliar,” imbuhnya.

Penulis: Alma Fikhasari

LEAVE A REPLY