Gimana Sich !! RI Produsen Kakao Tapi Impor Triliunan

0
224

Jakarta, Nawacita – Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim Indonesia berada pada peringkat ke-6 negara produsen kakao terbesar di dunia. Namun, bukan berarti Indonesia bebas impor biji kakao dari negara lain.

Airlangga mengungkapkan, Indonesia dinobatkan sebagai negara produksi kakao terbesar ke-6 karena pada 2020, hasil memproduksi kakao nasional sebanyak 713.000 ton dengan luas areal kakao 1.528 hektare (ha) dan produktivitas 706 kg per hektare.

“Sedangkan industri pengolahan kakao Indonesia berada di peringkat ke-3 terbesar di dunia setelah Belanda dan Pantai Gading,” ujar Airlangga pada keterangan resminya, Jumat (27/8/2021)

Airlangga menjelaskan, Indonesia juga telah melakukan ekspor produk cokelat seperti cocoa liquor/paste, cocoa cake, cocoa butter, dan cocoa powder. Adapun, ekspor cokelat Indonesia dalam bentuk biji sebesar 6,1% dan sisanya 93,9% dalam bentuk olahan.

Dalam kunjungan kerja di Provinsi Sulawesi Tengah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pada Jumat (27/8), bersama Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah Rusdy Mastura melepas ekspor biji kakao di Kota Palu ke negara tujuan Malaysia sebanyak 800 ton dari atau senilai Rp 22,5 miliar, hasil produksi dari PT Olam Indonesia.

Kakao yang dihasilkan Indonesia sebagian besar diekspor ke mancanegara dengan negara-negara utama tujuan ekspor yakni Malaysia, Vietnam, Amerika Serikat, India, China, Belanda dan Australia.

“Selain mineral, kakao ini merupakan andalan Sulawesi Tengah. Kita berharap agar kinerja positif ini dapat menggerakkan roda perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani kakao,” ujar Airlangga.

Pemerintah, kata Airlangga telah menetapkan empat provinsi di Sulawesi sebagai produsen utama kakao nasional. Keempat provinsi yang menjadi produsen utama kakao nasional adalah Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat.

Keempat provinsi itu sudah sejak lama mengandalkan komoditas kakao sehingga lebih potensial dikembangkan sebagai sentra pengembangan kakao berikut industri pengolahannya. Selain itu juga didukung dengan kondisi alam beriklim tropis yang dibutuhkan bagi tanaman budidaya kakao.

Pada 2020, keempat provinsi tersebut masih tercatat sebagai provinsi penghasil kakao tertinggi yakni Sulawesi Tengah sebanyak 127,3 ribu ton, Sulawesi Tenggara sebanyak 114,9 ribu ton, Sulawesi Selatan sebanyak 103,5 ribu ton dan Sulawesi Barat sebanyak 71,3 ribu ton.

Komoditi kakao menjadi primadona petani di Provinsi Sulawesi Tengah, utamanya di Kabupaten Sigi. Lima desa yang telah ditetapkan sebagai sentra pengembangan komoditas perkebunan khususnya kakao organik adalah Desa Berdikari, Desa Karunia, Desa Bahagia, Desa Sintuwu dan Desa Petimbe. Untuk diketahui, PT Olam Indonesia merupakan eksportir terbesar komoditas kopi robusta, arabika dan produk kakao di Sulawesi Tengah.

Masih Bergantung Impor

Badan Pusat Statistik mencatat, sepanjang Januari-Juli 2021, Indonesia mengimpor kakao sebanyak 133.123,1 ton dengan nilai US$ 340,2 juta atau setara Rp 4,8 triliun.

Berdasarkan volume, realisasi impor kakao pada Januari-Juli 2021 tersebut naik 2,2% dibandingkan periode Januari-Juli 2020 yang sebanyak 130.252,7 ton.

Secara rinci, negara pemasok kakao ke tanah air sepanjang Januari-Juli 2021 di antaranya Pantai Gading dengan volume impor 36.508,4 ton dengan nilai US$ $ 87,9 juta.

Kemudian pemasok kakao lainnya yakni Ekuador dengan volume sebanyak 33.222,3 ton dengan nilai US 86,6 juta. Nigeria dengan volume sebanyak 15.151,6 ton dengan nilai US$ 38,8 juta.

Selanjutnya negara pemasok kakao ke dalam negeri ada dari Kamerun dengan volume sebanyak 10.930,2 ton dengan nilai US$ 28,3 juta, Ghana dengan volume sebanyak 7.075 ton dengan nilai US$ 18,3 juta. Dan negara lainnya sebanyak 30.235,5 ton dengan nilai US$ 80,2 juta.

Pada Juli 2021 sendiri, volume kakao yang diimpor oleh Indonesia sebanyak 22.431,6 ton dengan nilai US 53,9 juta. Volume tersebut melonjak 124,8% dibandingkan Juni 2020 yang hanya sebanyak 9.979,9 ton.

Kendati demikian, realisasi impor kakao pada Juli 2021 turun 8,2% jika dibandingkan realisasi impor pada Juni 2021 yang sebesar 24.440,5 ton.

Sumber : CNbC 

LEAVE A REPLY