Anak Kades di Malang Gelar Dangdutan Saat PPKM, Polisi Segera Tetapkan Tersangka

0
100

Malang, Nawacita  – Kepolisian Resor (Polres) Malang segera menetapkan tersangka dalam kasus dangdutan yang diduga digelar anak seorang Kepala Desa (Kades) di Kabupaten Malang saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Status kasusnya sudah naik ke penyidikan, dan selanjutnya segera meminta keterangan saksi ahli sebelum penetapan tersangka.

“Selesai pemeriksaan kami tingkatkan ke penyidikan. Setelah itu kami akan tambahkan keterangan saksi ahli. Kemudian dilakukan gelar untuk penetapan tersangka,” kata Kasatreskrim Polres Malang AKP Donny Kristian Baralangi, Kamis (12/8).

Keterangan saksi ahli di antaranya berasal dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Inspektorat Kabupaten Malang.

Sebelumnya, Polres Malang telah meminta keterangan belasan orang saksi dalam kasus dangdutan di tengah masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4. Dangdutan digelar dalam rangka hajatan launching kafe milik anak Kepala Desa Gading, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.

Sebuah video tersebar secara luas di mana acara tersebut berlangsung tanpa mematuhi protokol kesehatan (prokes). Tampak dalam video tersebut, pasangan sedang bernyanyi duet di atas panggung sementara lainnya duduk di kursi tanpa masker.

Pengakuan tuan rumah, acara tersebut digelar untuk pembukaan kafe dan tidak bermaksud membuat kerumunan. Katanya, acara tidak mengundang orang kecuali keluarga terdekat berjumlah 15 orang.

Donny menegaskan bahwa video yang viral tersebut menjadi salah satu alat bukti dalam pengusutan kasus tersebut. Berdasarkan fakta dinyakini adanya pelanggaran prokes.

“Keterangan saksi berikut dengan dokumentasi video di media sosial tidak ada yang memakai masker. Sampai saat ini, terang adanya pelanggaran prokes,” kata Donny.

Kepada Wartawan, Suwito, Kepala Desa Gading mengaku telah dua kali menjalani pemeriksaan. Penyidik menanyakan sekitar kejadian viral tersebut.

Suwito pun mengaku tidak pernah merencanakan acara dangdutan sebelumnya. Acara bersifat spontanitas, karena kebiasaan pemuda kampung yang ingin latihan dangdutan.

“Jadi itu latihan, bukan orkesan. Kalau orkesan ya pasti besar, ada teropnya. Itu tidak ada,” akunya.

Ikut diperiksa dalam kasus tersebut sebanyak 11 orang sebagai saksi, termasuk para pemain musik dangdutan, kepala desa dan anaknya.

Sumber : Merdeka

LEAVE A REPLY