Riset Jadi Dasar Pengembangan Musik Tradisi

0
98

Jakarta, Nawacita – Kekayaan musik tradisi berbanding lurus dengan ragam kebudayaan, suku, dan bahasa di Indonesia. Ruang eksplorasi dan inovasi musik pun masih luas. Namun, pengembangan musik tradisi hendaknya berbasis pada riset, pemahaman, dan penghormatan terhadap kebudayaan.

Musik tradisi merupakan produk kebudayaan suatu komunitas yang diwariskan secara turun-menurun. Usianya bisa ratusan hingga ribuan tahun. Di dalamnya kerap terkandung nilai-nilai warisan leluhur dan pakem yang tidak boleh diabaikan.

”Misalnya, gamelan itu berhubungan dengan kosmologi orang Jawa. Mencampur-campur musik begitu saja sama dengan tidak menghormati nilai budaya masyarakat tertentu,” kata etnomusikolog Franki Raden saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (9/7/2021).

Jadi, tradisi dan inovasi itu saling menginspirasi, menguatkan, bukan saling berbenturan.

Contoh lain ialah salah satu lagu tradisional orang Toraja. Franki mengatakan, ia pernah menyisipkan sebuah lagu Toraja dalam proyek festival kebudayaan yang ia kerjakan. Festival itu sempat tidak mendapat restu dari para leluhur lantaran lagu tersebut berhubungan dengan kematian.

Setelah lagu dihapus dari konten festival, para leluhur pun memberi restu melalui ritual adat. Sebelumnya, leluhur tidak memberi restu pada dua kali ritual adat.

”Orang-orang di komunitas bisa kena bala jika lagu tetap dipakai. Memang, kita harus mengerti dulu (kebudayaannya sebelum menggunakan musik tradisi),” ucapnya.

Itu sebabnya, riset menjadi dasar penting dalam pengembangan musik tradisi. Pegiat musik mesti memahami konteks musik, memandang musik tradisi menurut sudut pandang masyarakat etnik, dan berdiskusi dengan masyarakat terkait. Ini agar inovasi musik tidak mengabaikan sejarah dan tradisi.

Sebelumnya, etnomusikolog, Irwansyah Harahap, mengatakan, dalam musik, inovasi dan tradisi tidak selalu bertolak belakang. Keduanya bisa saling melengkapi asal ditopang kreativitas. Sebelumnya, seniman perlu melakukan riset mendalam.

”Kami melihat tradisi dan inovasi secara spiral atau berputar. Jadi, tradisi dan inovasi itu saling menginspirasi, menguatkan, bukan saling berbenturan. Ini spirit yang mesti dijaga ke depan,” ucap Irwansyah pada diskusi daring, pekan lalu.

Dinamis

Musik tradisi dinilai dinamis sehingga ruang pengembangan masih terbuka lebar. Musisi Rudy Octave sebelumnya memadukan musik tradisi dayak dengan Afrika. Mantra dan tutur lisan dayak ia nilai berirama, kemudian dikemas menjadi musik rap. Sape’, alat musik tradisional Kalimantan, juga dimainkan.

Paduan elemen bahasa dan musik etnik juga dikemas menjadi konser Archipelago Trip beberapa tahun silam. Ia mengolah lagu dari sejumlah daerah di Indonesia, berkolaborasi dengan sejumlah penyanyi dan kelompok, seperti Laskar Dayak dan JEI Angklung.

Musik kontemporer yang memadukan bahasa daerah dan musik etnis bertujuan  mengingatkan publik pentingnya bahasa ibu. Itu dinilai krusial dalam kehidupan berbangsa karena Indonesia kaya akan bahasa daerah dan dialek (Kompas, 18/7/2016).

Menurut Franki, tradisi tidak pernah statis. Tradisi selalu berkembang sesuai dengan zaman. Walau musik tradisi cenderung tampak statis dan berupa pengulangan dari masa-masa sebelumnya, menurut dia, ada sejumlah improvisasi di musik tradisi saat ini.

”Saya pernah bertemu dengan seorang Dayak, seorang empu atau maestro di Kalimantan yang menambah senar sape’ dari dua menjadi tiga, hingga empat. Dia menambah senar setelah mendapat mimpi. Baginya, mimpi merupakan perjalanan roh ke dunia leluhur. Jadi, improvisasi sape’ itu hasil dorongan leluhur, berkaitan dengan dunia spiritual,” tuturnya.

Kepala Kelompok Apresiasi dan Literasi Musik Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Edi Irawan mengatakan, pengembangan musik tradisi perlu dukungan banyak pihak. Pemerintah berkomitmen memajukan kebudayaan. Musik tradisional Indonesia pun jadi salah satu program kegiatan Kemendikbud Ristek di 2021.

Tahun ini, pemerintah akan mengadakan Festival Musik Tradisional Indonesia. Festival bakal diadakan di beberapa destinasi wisata super prioritas, salah satunya Danau Toba, Sumatera Utara. Ada pula Indonesian Music Expo (Imex) yang akan digelar di Bali pada akhir 2021.

Sumber : Kompas 

 

 

LEAVE A REPLY