TATA CARA Sholat Idul Fitri di Rumah, Dilengkapi dengan Teks Materi Khutbah Singkat

0
517

Jakarta, Nawacita – 1 Syawal merupakan momen spesial bagi umat Islam karena diperingati sebagai Hari Raya Idul Fitri.

Shalat Idul Fitri menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri itu sendiri.

Idul Fitri 1442 H/2021 tahun ini masih dalam suasana pandemi virus corona (Covid-19).

Kementerian Agama (Kemenag) telah menerbitkan panduan penyelenggaraan sholat Ied di saat Pandemi Covid.

Panduan ini tertuang dalam Surat Edaran No SE 07 tahun 2021 tentang Panduan Penyelenggaraan Salat Idul Fitri Tahun 1442 H/2021 M di saat Pandemi Covid.

Dalam SE tersebut dijelaskan bahwa pelaksanaan salat Idul Fitri di lapangan atau masjid diperbolehkan untuk wilayah dengan zona hijau dan kuning.

Sementara untuk daerah zona merah dan orange, salat Idul Fitri diminta dilakukan di rumah masing-masing.

Berikut Tribunnews.com hadirkan panduan tata cara Shalat Idul Fitri bagi masyarakat yang ingin melakukan Shalat Id dirumah.

Salat Id di Rumah

Pelaksanaan shalat Id di rumah ini sama seperti tata cara shalat Id bila dikerjakan di lapangan atau masjid.

Namun jika jumlah jamaah kurang dari empat orang, maka shalat Idul Fitri boleh dilakukan berjamaah tanpa khotbah.

Selain itu, apabila dalam pelaksanaan shalat Id di rumah tidak ada yang berkemampuan untuk khotbah, maka boleh dilakukan tanpa khotbah.

1. Niat salat

“Ushalli sunnatan li ‘Idil Fitri rak’ataini lillahi ta’ala,”

Artinya: Aku berniat salat Idul Fitri dua rakaat karena Allah ta’ala.

2. Takbiratul Ihram (Allahu Akbar) sambil mengangkat kedua tangan

3. Membaca Doa Iftitah

4. Membaca Takbir sebanyak 7x pada rakaat pertama

Kemudian di sela-sela setiap takbir membaca secara pelan (sirr): “Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu Akbar”

Artinya: Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar

5. Membaca Surat al-Fatihah dan surat pendek yang dihafal, disunnahkan surat al-A’la

6. Ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kedua dan berdiri lagi

7. Dalam posisi berdiri kembali pada rakaat kedua, membaca takbir sebanyak 5x seraya mengangkat tangan, di antara setiap takbir itu membaca secara pelan (sirr): “Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu Akbar,” seperti pada rakaat pertama.

Kemudian membaca Surat al-Fatihah dan surat pendek yang dihafal, disunnahkan Surat al-Ghasyiyah

8. Ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kedua, tahiyyat dan diakhiri salam

9. Selesai salam, kemudian disunnahkan khutbah Idul Fitri

  • Khutbah Shalat Id

Khutbah Setelah Shalat ‘Id dilakukan setelah melaksanakan shalat.

Dalam Buku Panduan Ramadhan terbitan Pustaka Muslim dijelaskan, Rasulullah melaksanakan Shalat Ied Sebelum Khutbah.

Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr, begitu pula ‘Umar biasa melaksanakan shalat ‘ied sebelum khutbah.”

Setelah melaksanakan shalat ‘ied, imam berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘ied dengan sekali khutbah (bukan dua kali seperti khutbah Jum’at).

Berikut rukun khutbah Idul Fitri

1. Membaca takbir 9x

2. Membaca tahmid (alhamdulillah)

3. Membaca shalawat (Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad)

4. Ajakan bertaqwa kepada Allah SWT (ittaqullah)

5. Membaca ayat Al-Quran (sebisanya)

6. Materi Khutbah

7. Membaca doa untuk umat Islam (sebisanya)

TEMA :IDUL FITRI, AWAL PEMBAHARUAN DIRI

Berikut contoh khutbah seperti yang disampaikan oleh Misbachul Munir, LC, staf pengajar di madrasah Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakarta.

Naskah Khutbah Idul Fitri (Majelis Tarjih Muhammadiyah)

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah…

Alhamdulillâhi Rabbi al-âlamîn, segala puji kita panjatkan ke hadhirat Allah Swt.

Dialah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam raya. Dialah satu-satunya Dzat yang wajib disembah dan tiada sekutu bagi-Nya. Dia pula yang telah memberikan anugerah kepada kita petunjuk hidup yang lurus dan risalah yang adil lagi sempurna, yakni Islam.

Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah Saw, beserta keluarga, para shahabatnya, dan seluruh pengikutnya yang berjuang tak kenal lelah untuk menerapkan dan menyebarluaskan risalah Islam ke seluruh
pelosok dunia hingga akhir zaman.

Marilah pada pagi hari ini, kita tingkatkan rasa ketaqwaan kita kepada Allah SWT. seraya bersyukur kepada-Nya bahwa sampai saat ini kita masih diberi kesehatan dan kesempatan sehingga bisa menunaikan ibadah sholat Idul Fitri yang
diberkati oleh Allah swt ini.

Allâhu Akbar Allâhu Akbar Walillâhilhamd
Jamaah yang dirahmati Allah…

Ibadah puasa sesungguhnya merupakan sarana latihan agar orang beriman mampu mengalahkan godaan nafsu dan setan.

Puasa diperintahkan agar manusia memperoleh pengalaman-pengalaman jasmaniyah dan ruhaniyah yang akan membentuk dan mempertinggi daya kekebalan fisik dan jiwanya, sehingga dia menjadi orang yang sehat secara jasmani maupun rohani.

Inilah manusia takwa yang ingin dicapai melalui ibadah puasa. Jadi, orang yang berpuasa pada hakikatnya adalah orang yang menang dalam arti mampu mengalahkan godaan nafsu dan setan.

Sebagai pemenang, maka di penghujung bulan Ramadhan ini, mereka layak mendapat ucapan selamat dengan iringan doa: Minal ‘Aidin wal Faizin; Selamat kembali kepada jiwa yang suci dan Selamat telah menjadi pemenang di arena jihad akbar melawan godaan nafsu dan setan.

Allâhu Akbar Allâhu Akbar Walillâhilhamd
Jamaah yang dirahmati Allah…

Dalam konsep Islam, Idul Fitri merupakan akhir dari proses panjang berpuasa selama satu bulan penuh, sekaligus juga merupakan awal hidup baru.

Pada hari ini, umat Islam diwajibkan makan dan minum, bahkan diharamkan berpuasa. Tetapi, bukan lantas berarti hakekat puasa -yakni, menahan diri- yang selama ini mereka terapkan dalam berpuasa menjadi berakhir.

Justru, kemampuan untuk menahan diri itu harus terus diasah dan ditingkatkan sampai Ramadhan berikut tahun depan. Begitulah konsep ideal berpuasa.

Hari Raya adalah hari kemenangan dan kejayaan seandainya kaum muslimin dapat meletakkan diri dalam ketaatan, kepasrahan, ketaqwaan dan kasih sayang.

Hari Raya ini akan terus menjadi hari yang penuh dengan berkah dan kebahagiaan sekiranya kaum muslimin terus maju menghadapi masa depan dengan penuh amal sholeh, amal kebajikan dan akhlak yang terpuji.

Hari Raya tidak akan menjadi hari yang berbahagia bagi mereka yang mengekalkan sifat-sifat keji, sifat-sifat buruk, sifat-sifat tercela, sifat-sifat syaithoniyyah, prilaku tidak bermoral dan tak beradab, seperti khianat, menipu, berbohong, takabbur, dzalim dan semacamnya.

Idul Fitri adalah konsep Sang Khalik untuk memperbarui kehidupan umat manusia dalam nuansa spiritual, bukan dalam nuansa material.

Karena itu, Idul Fitri tidak harus dirayakan dengan mengenakan baju baru atau mobil baru, apalagi jika untuk mendapatkannya seseorang harus menerobos jalur haram atau dengan mengambil sesuatu yang menjadi hak orang lain.

Sekali lagi, Idul Fitri adalah sarana untuk memperbarui dan memperbaiki kualitas kehidupan umat, bukan sebaliknya.

Allâhu Akbar Allâhu Akbar Walillâhilhamd
Jamaah yang dirahmati Allah…

Marilah selalu kita renungkan lembaran-lembaran amal yang telah kita perbuat selama ini dengan senantiasa berniat untuk terus menambah dan memperbaikinya.

Allah berfiman yang artinya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (QS Sl-Ashr: 1-3).

Demikian khotbah singkat yang dapat saya sampaikan, semoga ada manfaatnya dalam menggugah diri kita masing-masing dalam menapak kehidupan ini.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita ke jalan-Nya yang benar. Jalan orang-orang yang diridhai bukan jalannya orang yang dimurkai. Amein.

Akhirnya marilah kita akhiri ibadah shalat Id kita ini dengan berdoa, memohon kepada Allah untuk kebaikan kita, keluarga kita, saudara kita, tetangga kita dan seluruh kaum muslimin :

Naskah Khutbah Idul Fitri (Majelis Tarjih Muhammadiyah)

Sumber : Tribun

 

LEAVE A REPLY