Fenomena mudik muncul setelah masa kemerdekaan. Istilah itu mulai membumi sejak 1980-an

0
792

Nawacita – Bulan Suci Ramadhan 1442 H hampir usai. Umat Islam di seluruh dunia telah menjalankan ibadah puasa selama hampir tiga minggu lamanya. Mereka kini tengah bersiap menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri (diperkirakan jatuh pada 12 Mei 2021).

Di Indonesia, perayaan Hari Raya Idul Fitri ditandai dengan adanya tradisi berkumpul bersama sanak saudara, yakni tradisi mudik. Masyarakat merayakan puncak dari bulan puasa tersebut dengan pulang ke kampung halamannya masing-masing. Hal itu biasanya dilakukan oleh mereka yang bekerja di kota-kota besar. Bahkan menjadi hal yang lumrah ketika perjalanan pulang itu memakan waktu yang panjang karena mereka terjebak kemacetan di jalan.

Namun sama seperti tahun sebelumnya (2020), pemerintah Indonesia mengeluarkan larangan mudik lebaran tahun 2021. Penyebaran pandemi Covid-19 yang semakin marak menjadi pertimbangan pemerintah mengeluarkan larangan tersebut. Dalam keterangan pers-nya, Presiden Joko Widodo mengatakan kalau pelarangan mudik bertujuan menghambat perluasan virus, serta menjaga tren menurunnya kasus aktif di Indonesia dalam dua bulan terakhir.

“Keputusan ini diambil melalui berbagai macam pertimbangan, karena pengalaman tahun lalu terjadi tren kenaikan kasus setelah empat kali libur panjang,” ujarnya seperti dilansir laman resmi Sekretaris Kabinet Republik Indonesia.

“Saya mengerti kita semuanya pasti rindu sanak saudara di saat-saat seperti ini, apalagi di Lebaran nanti. Tapi, mari kita utamakan keselamatan bersama dengan tidak mudik ke kampung halaman. Mari kita isi Ramadhan dengan ikhtiar memutus rantai penularan wabah demi keselamatan seluruh sanak saudara kita dan juga diri kita sendiri, dan seluruh masyarakat,” lanjutnya.

Tradisi mudik menjadi salah satu agenda wajib masyarakat Indonesia di Hari Raya Lebaran. Sebelum virus Covid-19 mewabah, mereka akan berbondong-bondong pulang ke daerahnya masing-masing. Kegiatan itu pun sudah menjadi sebuah aktivitas sosial berskala nasional, yang tidak hanya melibatkan masyarakat secara individu tetapi juga pemerintah.  Lantas bagaimana mudik bisa menjadi tradisi di masyarakat Indonesia?

Menurut sejarawan Muhammad Yuanda Zara, tradisi mudik di masyarakat terjadi setelah Indonesia mengikrarkan kemerdekaannya, tepatnya sekitar tahun 1950-an. Ketika itu, pusat dari fenomena mudik tersebut adalah Jakarta. Bahkan sampai sekarang kegiatan mudik di ibukota RI itu selalu menjadi sorotan utama.

Pusat Mudik

Dalam acara Dialog Sejarah Historia.id, “Serba-Serbi Mudik Sejak Dahulu Kala”, Jumat (07/05/2021), Yuanda Zara mengatakan bahwa setelah ibukota RI dipindahkan kembali dari Yogyakarta ke Jakarta, ditambah situasi yang mulai kondusif pasca Agresi Militer Belanda ke-2, masyarakat beramai-ramai datang ke Jakarta.

Berdasarkan statistik kependudukan tahun 1948-1949, jumlah penduduk Jakarta hanya 800.000 jiwa. Setelah tahun 1950-an, penduduk yang tinggal di Jakarta melonjak menjadi 1,4 juta jiwa. Para pendatang itu berasal dari berbagai daerah, terutama  dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang daerahnya secara ekonomi kurang berkembang. Khusus untuk pendatang dari Jawa Barat, ekonomi mereka terpuruk akibat situasi tidak stabil akibat adanya pemberontakan Darul Islam.

Lebaran Tanpa Mudik di Awal Republik

“Ternyata orang melihat setelah tahun-tahun penuh peperangan, tahun-tahun kolonialisme, tahun-tahun kependudukan, ada semacam harapan dan harapan itu ada di Jakarta,” kata dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta itu.

Di samping itu juga pemerintah Indonesia pada tahun-tahun tersebut lebih memfokuskan dana pembangunan di Jakarta. Jalan raya, fasilitas-fasilitas umum, gedung-gedung banyak dibangun. Sehingga masyarakat berharap mendapatkan pekerjaan ketika datang ke sana.

Sebagian pendatang itu merupakan orang-orang terdidik, yang mendapatkan pendidikan baik di kampung halamannya. Sementara lainnya adalah para pekerja kasar, seperti buruh bangunan, tukang becak, kuli, tukang kayu, pedagang kecil dan sebagainya. Mereka itulah yang kemudian membanjiri Jakarta.

Setelah beberapa tahun tinggal, imbuh Yuanda, para pendatang itu memiliki kerinduan terhadap kampung halamannya. Mereka sudah bekerja dan memperoleh penghasilan di kota, berharap bisa menggunakan uang yang telah dikumpulkan di kampungnya. Dari situlah muncul fenomena mudik secara massal yang dilakukan para pekerja di Jakarta.

Mudik Tahun 1960-an

Pemerintah ketika itu mulai memberikan perhatian serius terhadap kegiatan mudik tersebut. Pada 1960-an, mereka menghidupkan kembali jalur kereta api dari masa kolonial di seluruh wilayah. Hal itu semakin memperbanyak opsi masyarakat untuk pulang ke kampung halamannya. Pemerintah juga, melalui Djawatan Kereta Api, menyediakan kereta tambahan untuk mempermudah perjalanan mudik lebaran pada tahun-tahun tersebut.

“Akhirnya ini seperti memfasilitasi orang untuk mudik, semakin banyak orang kemudian memilih naik kereta, selain juga ada bus. Tetapi tentu sebanyak apapun pemerintah menyediakan itu tentu ada batasnya, sementara animo orang untuk mudik semakin lama semakin banyak,” ujar Yuanda Zara.

Memasuki tahun 1980-an, opsi kendaraan yang bisa dipergunakan masyarakat untuk pulang ke kampung halamannya semakin banyak. Transportasi udara dengan pesawat terbang sudah mulai dilakukan, selain adanya kereta api, bus, kendaraan pribadi, dan kapal laut. Daerah-daerah yang jauh semakin mudah dijangkau.

“Sampailah ke era sekarang yang kita lihat tradisi itu telah berlangsung sekitar 70 tahun dalam skala yang besar, kalau sebelumnya hanya skala personal,” lanjutnya Yuanda Zara.

Istilah Mudik

Berdasarkan penelusuran Yuanda Zara, istilah mudik pertama kali dipakai sebagai sebuah kata dalam ruang publik Indonesia baru terjadi pada 1983. Sebelumnya, masyarakat menggunakan berbagai istilah untuk menyebut kegiatan mudik tersebut. Mulai dari “pulang ke kampung halaman”, “bersilaturahmi dengan keluarga besar”, “halal bi halal dengan keluarga di daerah”, dan sebagainya.

Awal Mula Mudik dengan Pesawat Udara

Istilah mudik juga muncul berkenaan dengan kegiatan pulang kampung di Yogyakarta. Dalam sebuah surat kabar tahun 1983, menjelang lebaran, ada kisah tentang para pembantu yang berasal dari kawasan Jalan Kaliurang, dekat lereng Merapi di sebelah utara, bekerja di pusat kota Yogyakarta di sebelah selatan. Pada sebuah wawancara, mereka menggunakan kata “mudik” untuk menunjukkan kegiatan mereka kembali ke rumahnya di Kaliurang. Dari situlah kemudian kata mudik mulai banyak dipakai

“Jadi memang mudik itu pulang dari kota ke bagian hulunya (desa),” kata Yuanda Zara.

Sumber : Historia

LEAVE A REPLY