Mengintip Dampak UU Ciptaker untuk Jawa Timur Hari Ini

0
447
Riko Abdiono - Wartawan / Pelaku Usaha

Nawacita – Kwartal pertama tahun 2021 sudah lewat April kemarin. Ya, sekarang sudah bulan Mei 2021, tapi Kondisi ekonomi masih jauh dibanding kwartal pertama tahun 2020. Padahal di tahun 2020 lalu, pebisnis pengusaha dan pekerja auto closed di bulan April hingga Desember. Lalu coba bangkit lagi di Januari 2021, kemudian jatuh bangun dan jatuh lagi.

Kita semua tahu, akhir tahun 2020 lalu pemerintah dengan sigap ‘memaksa’ disahkannya UU Cipta Lapangan Kerja atau UU No 11 tahun 2020. Poin penting dalam UU tersebut yang saya catat betul adalah bertujuan untuk membangkitkan ekonomi Indonesia. Berpihak pada UMKM. Ada kemudahan-kemudahan dalam melakukan investasi serta kemudahan mendirikan usaha khususnya bagi Usaha Mikro Kecil Menengah. Bahkan untuk ijin usaha UMKM itu, hanya cukup modal KTP dan ijin Pak RT. Daftar lewat online di situs oss.go.id beres dan gampang.

Logikanya, bila UU Ciptaker berpihak untuk rakyat, harusnya pada kwartal pertama 2021 pertumbuhan Ekonomi melesat tinggi. Karena ada kemudahan ijin usaha Sehingga terjadi pertumbuhan jumlah wirausaha baru. Bila wirausaha baru tumbuh pesat maka terjadi turbulensi ekonomi dari tingkat kampung atau desa. Uang berputar sedemikian rupa dan memperkuat cengkeraman ekonomi dari bawah. Maka otomatis penyerapan pengangguran tinggi dan kesejahteraan masyarakat di bawah mengalami titik balik yang sangat cerah.

Provinsi Jawa Timur misalnya. Mau bicara apa saja ada. Mau bisnis apa saja ada. Mau kerja dimana saja bisa. Kecil besar tergantung selera. Tak perlu modal besar, step by step dari usaha kecil tidak masalah. Toh penduduknya 40 juta lebih. Pangsa Pasar yang luar biasa untuk digdaya di provinsi sendiri. Syukur-syukur bisa transaksi ke luar provinsi atau luar negeri sekalipun. Peluangnya banyak!

Namun.. Mengutip dari data Badan Pusat Statistik Jawa Timur, pertumbuhan ekonomi di triwulan pertama 2021 mungkin saja nggak begitu mengecewakan. Tapi nyatanya, BPS mencatat angka inflasi pada bulan Februari 2021 sebesar 0,22% lalu Inflasi Maret 0,11 %. Apa artinya? Kenaikan harga-harga baik itu kebutuhan pokok dan kebutuhan konsumen lainnya belum normal. Kenapa? Karena pada Agustus 2020 lalu, atau saat parah-parahnya kondisi ekonomi di Jatim, inflasi masih 0,04%. Berarti.. Masih bagus tahun 2020 lalu secara inflasi.

Baca juga : Utang dan Nabung di Bank Jatim

Disisi lain, BPS juga merilis 1 April 2021 lalu, Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur bulan Maret 2021 turun 1,19 persen dari 100,38 menjadi 99,19. Penurunan NTP ini disebabkan karena indeks harga yang diterima petani (It) turun sebesar 0,90 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik sebesar 0,29 persen.
Pada bulan Maret 2021, tiga subsektor pertanian mengalami penurunan NTP dan dua subsektor mengalami kenaikan. Subsektor yang mengalami penurunan NTP terbesar terjadi pada subsektor Tanaman Pangan yaitu 2,76 persen dari 101,00 menjadi 98,21, diikuti subsektor Perikanan sebesar 0,92 persen dari 100,08 menjadi 99,17 dan subsektor Peternakan sebesar 0,22 persen dari 98,33 menjadi 98,11. Subsektor yang mengalami kenaikan NTP adalah subsektor Hortikultura sebesar 3,17 persen dari 103,31 menjadi 106,59, diikuti subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,56 persen dari 98,46 menjadi 99,01.

Apa artinya? UU Ciptaker yang didalamnya mengatur banyak kemudahan usaha dan juga penguatan lahan abadi pertanian, belum mampu mendongkrak perekonomian di bawah. Termasuk di dalamnya belum diikuti dengan daya beli masyarakat seperti tahun tahun sebelumnya.

Maka tugas kita semua… eh salah.. tugas pemerintah, memikirkan skema apa yang paling tepat agar daya beli masyarakat tumbuh cepat. Tak cuma lewat jalur investasi PMA dan PMDN yang so pasti lama itu, tapi lewat bisnis baru terbarukan. Yaitu bisnis online, content creators, AI, digital marketing, co working space, ghost business hingga cryptocurrency. Kalau ini digarap betul, maka jangan kaget, banyak orang kaya baru dan Ekonomi Jatim mendadak bangkit.

Riko Abdiono – Pengusaha & Jurnalis
Surabaya – 1 Mei 2021 (catatan ke-2)

LEAVE A REPLY