Utang dan Nabung di Bank Jatim

0
665
Riko Abdiono - Wartawan / Pelaku Usaha

Nawacita – Sudah sejak 2010 saya menjadi nasabah Bank Jatim. Rekening saya dibukain salah satu direksi saat itu. Saya masih ingat isi saldonya 200.000 rupiah.

Lalu lamaa sekali saya ndak nabung. Sampai tahun 2018. Lama sekali. Sampai lupa kalau punya rekening di Bank Jatim.

Saya lebih sering menabung dan transaksi dari rekening BCA. Maklum buat dagang sejak tahun 2007. Alasanya simple, buyer dan tempat kulak saya pake bank yang sama. Itu terjadi di tahun 2009. Lumayan lama.

Sebenarnya agak kaget juga. Ketika saya bertemu petani desa di ujung selatan Jawa Timur. Pas saya beli beras hasil panennya dia bilang bayar pake BCA saja. Padahal di desanta nggak ada ATM BCA. Di kantor kecamatan terdekat dari desa itu hanya ada kantor kas BRI dan Bank Jatim. Tapi ya sudahlah, mungkin alasan petani itu sama dengan saya.

Nah sekarang sudah tahun 2021. Dunia perbankan tentu banyak perubahan. Bank Jatim semakin berkembang ke pelosok desa mengejar ketertinggalan. Kini banyak petani desa menggunakan rekening Bank Jatim. Beberapa kali saya tanya mereka, benar punya rekening bank jatim. Tapi sewaktu saya tanya apakah digunakan buat transaksi sehari – hari? Mereka yang rata rata punya usaha ini menjawab ‘kadang-kadang’.

Istilah kadang-kadang itu bagi orang Indonesia khususnya jawa, bermakna sangat jarang. Artinya meski punya rekening bank Jatim mereka jarang bertransaksi dengan bank jatim. Baik itu lewat Teller, atm ataupun mbanking.

Tapi bukan berarti tidak cinta dengan bank jatim. Para petani, pelaku umkm, wirausaha muda ataupun masyarakat umum dan apalagi PNS sangat bangga punya bank jatim. Minimal buat cari pinjaman atau utang.

Penulis : Riko Abdiono – pengusaha

LEAVE A REPLY