Apam, Cemilan Khas Kabupaten Pidie Sarat Makna dan Filosofi

0
239
Apam makanan Khas Pidie Aceh.

Nawacita | Pidie – Pidie merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Aceh, dengan ibukota kabupatennya adalah Sigli. Kabupaten Pidie juga menduduki kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di seantero Provinsi dengan julukan Serambi Mekkah ini setelah Kabupaten Aceh Utara diperingkat pertamanya. Sebanyak dua pertiga dari total penduduknya berada diperantauan dan mendominasi wilayah-wilayah pasar di Provinsi Aceh hingga pulau Sumatera umumnya dan bahkan ke negeri Jiran seperti Malaysia.

Salah satu yang menjadi daya tarik ketika berkunjung ke Kabupaten Pidie, tak lengkap rasanya jika tidak mencicipi cemilan khasnya yaitu Apam. Apam sendiri terbuat dari tepung beras yang dimasak dengan cetakan atau dikenal dengan ceureulop, berbentuk seperti wajan kecil khusus untuk memanggang apam. Penggunaan kayu bakar atau daun kelapa kering (on ‘ue tho) yang dipercayai untuk menjadikan Apam yang matang secara merata.

Membuat Apam sarat akan makna sabar dan terus mencoba. Sabar dalam hal ini adalah ketika menunggu perapian, mengaduk adonan Apam agar tidak keras serta sabar dalam memprediksikan waktu matang yang tepat. Jika menggunakan wadah memasak Apam untuk pertama kalinya, tentu hasilnya tidak sempurna dan bahkan hasilnya tidak jadi. Mesti diulang-ulang hingga menghasilkan Apam yang tepat dengan kematangan yang sempurna pula.

Menurut cerita orang-orang tua kampong, khanduri Apam ini dimulai saat seorang Sufi bernama Abdullah Rajab, seorang miskin melarat yang hidup di kota Mekkah. Ketika ia meninggal dunia dan pihak keluarga tidak ada kemampuan untuk menggelar kegiatan yang lazim dilaksanakan pada orang meninggal, keluarganya lantas megambil inisiatif untuk membuat Apam dengan bahan-bahan yang ada. Inilah yang agaknya menjadi cikal bakal tradisi Tet Apam yang setiap tahun pada bulan Rajab atau Sya’ban dilaksanakan atau dikenal juga dengan Buleun Apam dalam bahasa Aceh.

Sumber lainnya mengatakan bahwa Khanduri Apam ini berkaitan dengan perkara orang yang sudah meninggal. Seperti yang dinukilkan oleh Snouck Hurgnonje, ia menjelaskan bahwa dahulu ada salah seoran warga Aceh yang ingin mengetahui nasibnya di alam kubur hingga memiliki rencana untuk berpura-pura mati dan dikuburkan. Ketika dialam kubur, ia mendapatkan siksaan berupa pukulan dari sebuah pentungan yang terbuat dari besi. Namun ketika hendak mengenai dirinya, pentungan itu terbentur oleh sebuah benda menyerupai bulan setengah. Secara tiba-tiba ia mampu “bangkit” kembali dari kuburnya yang segera menemui keluarganya yang ternyata sedang mengadakan kenduri Apam untuk arwahnya.

Agaknya cerita inilah yang menginisiasi masyarakat membuat khanduri Apam dibulan Rajab. Bukan tanpa alasan, lebih kepada kepercayaan bahwa khanduri Apam ini adalah salah satu bentuk ritual untuk mengirimkan pahala sedekah kepada ahli keluarga yang telah mendahului agar terhindar dari siksaan kubur.

Sumber lain yang saya dapatkan adalah, Khanduri Tet Apam atau makan Apam ini dimulai pada kisah seorang remaja laki-laki yang telah akil baligh namun enggan melaksanakan shalat jumat. Akhirnya para tetua kampung memberikannya hukuman membuat Apam sebanyak seratus buah dan diantarkan ke masjid atau meunasah yang ada untuk memberikan efek jera agar ia tidak mengulanginya lagi.

Versi lainnya mengatakan bahwa, tradisi Tet Apam ini dimulai dan dikembangkan oleh pedagang India dimasa lampau. Dalam kebudayaan masyarakat India, ditemukan sebuah panganan yang menyerupai Apam dengan nama yang hampir sama pula, yaitu Kalappam, Egg Appam, Honey Appam, Achappam, Kuzhalappam, Neyyappam, Pesaha Appam, Kandarappam, Vattayappam dan Idiappam. Dalam sebuah literatur yang pernah saya baca, Apam ini berasal dari India namun berkembang di Indonesia yang kala itu masih berbentuk kerajaan-kerajaan. Seorang penjelajah bernama Xuan Zang (penjelajah China-India) menyatakan bahwa, sekitar Abad Ke-7 Masehin para orang-orang India tidak tau cara mengukus sebagai bagian dari pengolahan idiyappam, hingga mereka berinisiatif untuk membakarnya diatas tungku tanah.

Terlepas dari banyaknya sumber dan versi cerita mengenai Apam ini berasal darimana dan siapa pembuat pertamanya yang hingga kini masih simpang siur, tradisi Apam telah melekat pada diri masyarakat Kabupaten Pidie yang hingga kini masih banyak warga yang antusias untuk melaksanakannya. Walaupun awalnya tanpa dukungan modal dari pemerintah terkait hal ini, mereka tidak mempermasalahkannya sebab masyarakat meyakini orang yang senang bersedekah maka Allah SWT akan memudahkan segala urusannya, menjauhkan mereka dari bala dan pahalanya juga akan disampaikan kepada ruh arwah keluarga yang telah mendahului.

Tradisi Tet Apam ini telah ada sejak zaman kerajaan dahulu kala dan turun temurun dilaksanakan pada bulan rajab atau sya’ban. Pada bulan rajab dilaksanakan bertepatan dengan perayaan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW disertai dengan khanduri makan Apam bersama-sama. Apam biasanya dihidangkan dengan kelapa kukur yang telah diberi campuran gula.

Ada juga Apam terlebih dahulu direndam dalam kuah dan barulah dimakan. Kuah Apam merupakan kuah santan manis yang dicampur dengan potongan pisang Klat Barat(sejenis Pisang Raja) atau potongan buah nangka yang sudah matang. Kuah ini rasanya nikmat dan harus sekali karena dimasak dengan potongan on seuke pulot(daun pandan), memberikan aroma khas yang tentunya menggugah selera siapapun yang menghirup aromanya.

Merendam makanan kedalam kuah atau air sebelum dimakan adalah kebiasaan orang Aceh dimanapun ia berada. Hingga ia diperantauan pun tetap terbiasa memakan cemilan harus dicelupkan dahulu dalam kuah atau air the maupun kopi. Ketika ditanya sebabnya, para orang tua menjawab lebih enak jika dimakan dalam keadaan basah seperti itu. Selain mudah ditelan, juga ada tastetersendiri.

Ada pula sebagian masyarakat menghabiskan dulu kuahnya barulah Apam yang telah basah oleh kuah dimakan belakangan. Banyak cara menikmati Apam tergantung selera setiap orang. Apam biasa dihidangkan pada tetamu yang hadir atau diundang khusus untuk menikmati cemilan ini, tapi tidak disetiap bulannya. Jika rumah masyarakat berada dijalur lintas provinsi, para pengguna jalan juga diajak untuk mampir sekedar menikmati cemilan ini dan melepaskan penat, dan tentunya tidak dipungut biaya sama sekali. Para warga menghidangkan khanduri Apam dengan sukarela baik dirumah maupun diantarkan ke Masjid atau Meunasah (Mushalla).

Pada bulan sya’ban, bulan ini merupakan bulannya Apam kalau kata orang Pidie. Sebab, dibulan ini ummat Islam khususnya akan menyambut datangnya Bulan Ramadhan. Dengan diadakannya Khanduri Apam ini, masyarakat berharap dapat menjalani Puasa Ramadhan dengan hati yang bersih dan saling memaafkan.

Untuk membuat Apam pun, masyarakat Kabupaten Pidie memiliki cara tersendiri, yaitu saling bergotong royong. Misalnya, hari ini dirumah beberapa orang warga membuat Apam, esok harinya dirumah warga lain dan begitu seterusnya selama sebulan penuh. Namun, sangat disayangkan generasi muda banyak yang tidak memahami cara pembuatan Apam ini. Satu kondisi disebabkan mereka sejak usia sekolah telah berada diluar kampung atau ikut orang bekerja diluar provinsi. Faktor lainnya pula, untuk membuat Apam dibutuhkan kesabaran dan kehati-hatian yang ekstra. Sebab, seorang pembuat Apam harus paham seberapa panas wadah untuk memasak Apam, dan bagaimana mengatasi api yang tiba-tiba membesar dengan sendirinya. Dalam proses ini lah banyak orang yang tidak sabar, dan menghasilkan Apam yang kurang bagus.

Saat ini, masyarakat perlu berbangga hati karena pemerintah kabupaten bersama dinas terkait telah menjadikan tradisi Tet Apam ini sebagai agenda tahunan kabupaten tersebut hingga diadakannya Festival Khusus Apam sebulan penuh yaitu bulan Rajab, dan dikenal dengan nama Buleun Apam.

Tet Apam ini diharapkan menjadi kegiatan khanduri wajib menyambut Isra’ Mi’raj dan sebagai agenda khusus membersihkan jiwa menyambut Bulan Suci Ramadhan. Dalam pembuatannya, Tet Apam juga sarat akan nilai kebersamaan dalam perbedaan yakni sama-sama memasak Apam walaupun berbeda tingkat perekonomiannya. Tet Apam ini juga diharapkan mampu menjadi kuliner halal khas Aceh yang dikenal baik kancah regional, nasional maupun internasional sebagai kekayaan daerah yang sarat akan makna serta filosofi. Tet Apam wajib diajarkan kepada generasi muda saat ini agar mereka mampu mempertahankan tradisi leluhur dan mengembangkannya dengan kreatifitas yang dimiliki. Sebab, bukan tak mungkin bahwa para milenial saat ini memiliki gagasan baru dalam membuat Apam, baik dalam bentuk yang unik dan menarik maupun cara memasak tradisional menggunakan metode yang terkini.

Penulis: Putri Hardiyanti, Mahasiswi Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Langsa

LEAVE A REPLY