Wanita dan Skill yang Mendatangkan Rezeki di Masa Pandemi

0
151

Aceh, Nawacita –

Di dalam Islam wanita adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling mulia, diciptakan dari tulang rusuk yang terletak disebelah hati diberi keistimewaan dan diberi gelar kehormatan tiga kali tingkat lebih tinggi derajatnya dari laki-laki, diberi kehormatan syahid ketika gugur dalam berjuang melahirkan, dilindungi dengan khimar agar tidak menjadi bahan khalwat laki-laki serta menjadi guru didalam suatu keluarga sungguh tidak ada sia-sia terlahir sebagai seorang wanita, wanita berhak memperoleh apa yang  di inginkan dan berhak memperolah kesetaraan dengan laki-laki namun tetap menghormati kedudukan laki-laki sebagai sang pemimpin.

 

Jika kita lihat pada zaman sekarang banyak sekali wanita bekerja, baik bekerja di luar rumah maupun bekerja di dalam rumah, pekerjaan yang digelutinya pun bermacam-macam bahkan ada beberapa wanita yang menggeluti pekerjaan laki-laki, jika kita lihat di daerah perkotaan tidak sedikit wanita yang bekerja sebagai tukang parkir, supir hingga kuli bangunan, kita sadar hal ini sangat menyalahi kodrat wanita yang seharusnya bekerja sesuai kemampuannya dan bekerja sesuai marwah nya sebagai wanita, pekerjaan seperti ini bukanlah pekerjaan yang diinginkan oleh beberapa wanita namun takdir ikut menjadi tulang punggung dalam rumah tanggalah yang membuat mereka harus bekerja keras hingga keluar dari zonanya.

 

Setiap pekerjaan yang dilakukan baik wanita maupun laki-laki tidak terlepas dari kemampuan disuatu bidang atau disebut juga dengan skill, apabila seseorang bekerja disuatu bidang dan ia tidak memiliki skill dibidang tersebut tentunya akan pekerjaan yang ia kerjakan tidak akan berjalan dengan lancar, hasil yang diproduksi juga akan kurang memuaskan untuk konsumen, berhasilnya suatu produksi ialah dilihat dari kemampuan produsen membuat konsumen puas dengan hasil produksinya, dari sesuai nya skill dan pekerjaan pekerja juga akan meningkatkankan keunggulan bagi perusahaan atau tempat pekerja bekerja. Apalagi pada masa pandemi Covid-19 ini lowongan pekerjaan sulit didapatkan bahkan banyak perusahaan yang memberhentikan pekerja karena omzet yang didapat tidak mampu untuk membayar para tenaga kerjanya.

 

Untuk membentuk skill yang dibutuhkan dunia kerja Desa Suka Makmur yang terletak di Kecamatan Kejuruan Muda Kabupaten Aceh Tamiang, membuat pelatihan menjahit untuk ibu-ibu yang membutuhkan pelatihan guna meningkatkan perekonomian keluarga, kegiatan ini berlangsung tiga bulanan sebelum masa pandemi Covid-19 ini terjadi, banyak yang merasakan dampak dari pelatihan menjahit salah satunya ibu sariyem “sebenarnya saya sudah bisa menjahit dari saya masih gadis dulu, tapi Alhamdulillah adanya pelatihan menjahit yang diadakan di Dusun Suka Damai Desa Suka Makmur ilmu dan skill saya bertambah yang awalnya saya tidak bisa merubah model baju sekarang saya sudah bisa merubah model baju dan membuat polanya”, dari tutur ibu Sariyem tersebut membuat kita makin sadar bahwa semakin diasah pensil maka semakin tajam pensil tersebut.

 

Pelatihan menjahit tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana cara menjahit, membuat pola juga memotong kain, namun didalam pelatihan ibu-ibu Desa Suka Makmur diajarkan cara jelujur atau menyatukan puring dengan bahan utama, selanjutnya diajarkan juga cara ngesumyaitu kegiatan merapikan bawahan baju yang sudah dijahit agar benang pada baju tidak berudulan atau benang baju yang berantakan , ngesum sendiri kegiatan yang jarang diajarkan pada pelatihan menjahit karena antara mesin jahit dengan mesin sum itu berbeda kebanyakan ibu-ibu penjahit apabila telah selesai menjahit jahitan mereka nantinya akan di bawa ke tukang sum, maka dari itu menariknya dalam pelatihan menjahit yang di adakan di Desa Suka Makmur mengajarkan apa yang tidak di ajarkan di pelatihan jahit lainnya.

 

Adanya pelatihan menjahit ini tidak semata-mata untuk meningkatkan perekonomian saja namun juga untuk menjadikan wanita yang berada di Desa Suka Makmur memiliki kemampuan yang akan dibutuhkan didunia kerja memiliki kemampuan yang tidak dimiliki wanita lain, dari adanya pelatihan menjahit membuat ibu-ibu di Desa Suka Makmur mampu mendirikan rumah jahit yang menyediakan jasa menjahit baju pria dan wanita, mengesum baju yang sudah dijahit serta mengecilkan ukuran baju yang konsumen beli baju jadi dipasar, bahkan mereka mengaku bahwa konsumen mereka tidak hanya berasal dari Desa Suka Makmur melainkan dari desa-desa lainnya.

 

Omzet yang diperoleh juga mampu membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka masing-masing, “dari menjahit saya memperoleh sekitar 500.000-2.000.000 dalam sebulan, satu baju seperti baju gamis biasa saya beri harga 100.000 perpotong, kalau baju sepotong wanita 70.000 baju laki-laki sepotong 100.000, kenapa lebih mahal karena menjahit baju laki-laki tingkat kesulitannya lebih tinggi, kalau rok 50.000, kalau cuma sum itu satu pasang baju 5.000, tapi ya kalau sekarang karena pandemi Covid-19 pendapatan saya menurun sebulan palingan Cuma 500.000 ribu karenakan gada orang pesta jadi tempahan baju juga berkurang” Ujar Ibu Sri.

 

Jika dilihat dari penuturan Ibu Sri menjahit bukanlah pekerjaan yang bisa di sepelekan, omzet yang didapatkan dari menjahit sangat cukup membantu suami untuk menghidupi keluarga lantas keadaan yang sulit tidak membuat kita, para penjahit bahkan pekerja lainnya menyerah, masa pandemi memang menyulitkan kita bergerak dan berkreasi tapi bukan berhenti mengasah skillyang kita miliki juga mempelajari hal-hal baru, bangkit untuk kehidupan yang kebih berharga!.

Penulis : Evi Dariani/ Putri Nursalsabila/ Zainul Muttaqin – IAIN Langsa

 

LEAVE A REPLY