Tradisi Makmeugang Masyarkat Aceh sambut Bulan Suci Ramadhan

0
99

Aceh, Nawacita – Bulan ramadhan merupakan bulan yang kehadirannya dinantikan oleh seluruh umat muslim, baik dalam negeri maupun luar negeri. Dalam penyambutannya, tentu setiapdaerah memiliki keunikan tersendiri untuk menyambut datangnya bulan suci  ramadhan ini. Salah satunya yaitu Aceh.Seperti yang kita ketahui, Aceh merupakan daerah yang kental dengan nuansa religinya, sehingga  Aceh sendiri dijuluki sebagai Serambi Mekkah.

Adapun tradisi unik masyarakat Aceh dalam menyambut datangnya bulan suci ramadhan yaitu tradisi meugang atau makmeugang. Meugang merupakan tradisi membeli danmengolah serta menyantap daging bersama keluarga untukmenyambut datangnya bulan suci ramadhan. Meugang atau juga dikenal dengan sebutan makmeugang, yang terdiri dari dua sukukata yaitumakmu” yang berarti sejahtera atau ramai, dan“gang” yang berarti pasar. Jadi, makmeugang memiliki makna yakni ramai sekali pasar pada saat itu.

Saat meugang, masyarakat Aceh beramai-ramai ke pasar untuk membeli daging. Banyaknya kerumunan manusia,mengakibatkan jalanan macet yang tak terelakkan lagi. Namun, dengan aktivitas jual-beli ketika meugang ini, membuat perekonomian pasar tradisional terasa begitu hidup. Mereka membeli banyak kebutuhan pokok dan larut dalam kemeriahan meugang. Adapun aktivitas perkantoran dan sekolah terasa sepi, karena ketika meugang aktivitas seperti itu diliburkan, agar semua orang dapat merasakan kemeriahan meugang bersama keluarga. Tradisi meugang ini sudah berlangsung turun-temurun sejak masa kesultanan Aceh beberapa abad lalu yang masih dilestarikan sampai saat ini.

Tradisi meugang di Aceh dimulai sejak awal masa Kerajaan Aceh Darussalam, yang mana dibawah kepemimpinanSultan Iskandar Muda pada tahun 1607-1636. Pada saat itusehari sebelum ramadhan, Kerajaan Aceh Darussalam melakukan penyembelihan sapi dalam jumlah yang banyak.Kemudian Sultan Iskandar Muda memerintahkan imam baitulmal untuk menyalurkan daging, beras, dan pakaian kepada fakir miskin.

Prosesi meugang ini diatur dalam Qanun (hukum) MeukutaAlam Al-Asyi atau undang-undang Kesultanan Aceh. Setelah Kerajaan Aceh direbut oleh Belanda, tradisi meugang ini pun tidak dilaksanakan lagi oleh raja. Akan tetapi, tradisi meugang tetap dilaksanakan oleh masyarakat Aceh, karena menurutmereka tradisi ini sebagai bentuk memuliakan datangnya perayaan hari besar islam. Tradisi yang sudah diwariskan inijuga akan membuat sebagian orang Aceh yang merantau diluar daerah, memilih pulang ke kampung halamannya untuk merayakan tradisi meugang bersama keluarga besar.

Sesuai dengan anjuran agama islam, untuk menyambut datangnya bulan suci ramadhan sebaiknya disambut dengan meriah, seperti halnya kita menyambut hari raya idul fitri danidul adha. Meskipun saat ini kita masih dihantui dengan adanya virus Corona, tetapi tidak menghalangi masyarakat Aceh untuk tetap merayakan tradisi meugang itu sendiri. Sebagaimana dapatkita lihat bahwa masyarakat Aceh sudah menjalani ramadhan tahun lalu dengan tetap melestarikan tradisi meugang ini, dimana situasi pandemi masih memuncak.

Jika pada hari-hari biasa, kita hanya melihat beberapa lapaksaja yang menjual daging sapi di pasar, namun berbeda halnya ketika meugang. Saat meugang, kita akan menjumpai banyak pasar dadakan yang menjual daging, dimana pasar dadakan iniakan ada banyak puluhan bahkan ratusan penjual daging nantinya. Dengan kebutuhan daging yang melonjak ketikameugang ini, mengakibatkan harga daging sapi akan naik duakali lipat dari biasanya. Hal ini disebabkan karena tingginya angka permintaan daging tersebut.

Bagi masyarakat Aceh, tidak sah rasanya ketika meugangtidak membeli daging untuk dijadikan santapan ketika sahur pertama dibulan ramadhan. Daging yang sudah dibeli, kemudian dimasak aneka macam masakan dengan rempah-rempah terbaik, yang akan disantap bersama keluarga. Setiap rumah dapat dipastikan memiliki menu makanan dengan bahan dasar yang sama. Dibeberapa daerah seperti di pesisir barat dan selatanAceh, warga yang menetap disana akan menyantap dagingbersama-sama di pinggiran pantai.

Biasanya setiap daerah mempunyai masakan khasdaerahnya sendiri saat meugang. Bahkan antara satu rumah dengan rumah lainnya menu masakannya juga berbeda  ketika meugang, namun dengan bahan dasar yang sama. Di perkotaan yang masyarakatnya kebanyakan merupakan pendatang dari berbagai daerah, sehingga mereka memasak sesuai dengan kebiasaan dari daerah asalnya masing-masing. Menurut mereka jenis masakan tidak lagi menjadi perhatian, beberapa ada yang memasak masakan modern seperti steak, semur, sate dan lain-lain. Namun pada dasarnya, mereka memuaskan diri dengan menu berbahan dasar  daging pada hari meugang.

Di Pidie, Bireun, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, bahkan Aceh Tamiang dan beberapa daerah lain yang ada di Aceh, daging sapi biasanya diolah menjadi rendang, kari, dan sop daging. Dimana jenis kari ini berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain. Seperti kari di Aceh yang memiliki perbedaan dengan kari India, meskipun  rasanya sama-sama enak. Selain itu ada beberapa menu yang sering disajikan sepertimasak merah, masak putih, tergantung sedikit banyaknya daging yang tersedia. Di Aceh Besar, saat meugang biasanya daging dimasak menjadi  daging asam keueung, sie reuboh (daging yang dimasak dengan cuka), rendang dan sop daging. Di Kabupaten Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan daging sapi  biasanya dimasak menjadi gulai merah dengan ciri khas rasa pedas menyerupai masakan khas Padang, Sumatera Barat. Hal ini tidak mengherankan, karena seperti yang diketahui bahwa sebagian besar masyarakat Aceh Selatan adalah keturunan dari Padang, sehingga bahasa mereka dikenaljuga dengan bahasa Jamee (tamu) yang sangat dekat dengan bahasa Padang.

Selain daging, juga terdapat beberapa makanan yang biasanya disediakan khusus pada hari meugang seperti tapai (makanan dari ketan yang telah difermentasikan), leumang(makanan dari ketan yang dimasukkan  dalam bambu, kemudian dimasak dengan cara dipanggang menggunakan api yang besar), serta timpan (makanan khas Aceh yang dibuat dari tepung ketan, dengan isi srikaya bisa juga kelapa kemudian dibalut daun pisang muda dan dikukus).

Meugang juga memiliki makna ganda yaitu selain sebagai ajang silaturahmi juga sebagai wujud gembira dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Untuk melestarikan dan menghargai adanya tradisi meugang di Aceh, pemerintah menetapkan tradisi meugang ini sebagai salah satubudaya tak benda nasional pada tahun 2016 silam.

Penulis : Tri Indah Damayanti IAIN Langsa

LEAVE A REPLY