Resiliensi Aceh Terhadap Bencana dan Menyikapi Wabah Covid-19

0
140
Pesanan Vaksin Covid-19 Sputnik V Capai Satu Miliar Dosis.
Pesanan Vaksin Covid-19 Sputnik V Capai Satu Miliar Dosis.

Langsa, Nawacita – Kasus pertama COVID-19 di Indonesia diumumkan Presiden bersama Menteri Kesehatan RI di Istana Negara pada Senin 23 April 2020 lalu. Sejak saat itu, mulai terjadi kepanikan di masyarakat dan terjadi perubahan sosial secara menyeluruh di Indonesia.

Ketakutan masyarakat semakin bertambah saat kasus di Indonesia semakin hari meningkat signifikan. Lalu, lahirlah berbagai aturan seperti social distancing, physical distancing, wajib masker, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), serta larangan mudik.

Banyak tenaga kerja yang terkena dampak dari virus corona. Sekitar 54% tenaga kerja yang terkena dampak dari virus ini. Dan 35% pekerja di PHK serta 19% dirumahkan.

Sektor yang terdampak covid-19 antara lain seperti Hotel, Pariwisata, Tekstil, Makanan dan Minuman. Bisa kita lihat bahwa dunia usaha lebih terkena dampak dan imbas dari pandemi covid-19 ini. Apalagi bagi mereka para UMKM dan buruh pekeja.

Aceh dan pengalaman resiliensinya

Menurut Grotberg (1999) Resiliensi adalah pengembangan kemampuan diri untuk menghadapi, mengatasi, memperkuat, dan menstranformasikan pengalaman-pengalaman yang sulit menuju pencapaian adaptasi yang positif. Seseorang yang memiliki resiliensi yang baik dapat menjalani kehidupannya lebih bermakna, dapat melewati masa keterpurukan, percaya diri dan tidak mudah putus asa, dan memiliki hubungan yang baik dengan orang lain.

Masa sulit dan bencana merupakan sesuatu yang tidak asing lagi, terutama bagi masyarakat Aceh sendiri. Pada tahun 1873, penyakit kolera pernah menyerang Aceh saat perang melawan Belanda. Perang itu menyebabkan seorang Sultan Mahmud Syah meninggal di pengungsian setelah istananya dikuasai Belanda. Saat 1976-2005, Aceh juga sempat dilanda konflik antara masyarakat lokal yaitu Gerakan Aceh Merdeka dan Republik Indonesia. Konflik itu berlangsung kurang lebih 30 tahun. Selama itu, kehidupan sosial dan ekonomi di Aceh sangat tidak baik-baik saja. Titik terang muncul setelah adanya perdamaian yang ditandai dan dikenal sebagai perjanjian damai MoU Helsinki.

Lanjut, pada tahun 2004 Aceh dilanda Tsunami dahsyat yang membuat mata dunia tertuju ke Aceh. Tsunami dahsyat itu menyebabkan Aceh porak poranda serta merenggut lebih dari 168 ribu jiwa. Dimensi kerusakan yang disebabkan oleh Tsunami di Aceh sangat luas yang mencakup aspek fisik dan non-fisik. Aspek fisik (kerusakan infrastruktur diantaranya seperti bangunan perumahan, perkantoran, dan pusat kegiatan ekonomi). Aspek non fisik mencakup masalah kesehatan dan psikologi serta pendidikan.

Pada tahun 2005, Pemerintah Aceh membuat lembaga khusus yang akan menangani masalah pembangunan kembali Aceh pasca Tsunami yaitu Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nanggroe Aceh Darussalam. Dengan adanya lembaga ini maka percepatan pembangunan dan rekonstruksi Aceh diharapkan dapat terlaksana dengan baik.

Dari banyaknya bencana dan pengalaman pahit yang dialami, Aceh dinilai lebih sigap dalam menghadapi wabah Covid-19. Bisa kita lihat dari bagaimana sikap Pemerintah Aceh saat memantau dan memulangkan mahasiswanya dari Wuhan, China.

Aceh juga melakukan PSBB dengan meliburkan kegiatanbelajar mengajar menjadi daring, dan di era New Normal saat iniAceh sudah melakukan kegiatan belajar mengajar secara tatapmuka dengan tetap mematuhi protocol Kesehatan di setiapsekolah dan perguruan tinggi. Tidak hanya menerapkan protocol Kesehatan di sekolah dan Lembaga-lembaga Aceh juga menerapkan protocol Kesehatan disetiap tempat yang memungkinkan ataupun dapat memicu keramaian sepertimesjid, objek wisata, cafee, dan tempat-tempat lainnya di era new normal ini.

Dari sikap yang ditunjukkan Aceh dalam menghadapi Covid-19, mengisyaratkan bagaimana Aceh sudah banyak belajar dari pengalaman resiliensi dalam menghadapi bencana dan situasi sulit di masa lalu dan teraktualisasikan melalui sikap masyarakat dan pemerintahannya hari ini.

Semoga, kedepan Aceh menjadi provinsi yang tetap waspada dan sadar akan bahaya-bahaya bencana serta wabah yang menimpa. Dengan mengedepankan kemampuan dan pengalaman resiliensi serta menaruh empati terhadap orang lain dan saling membantu meringankan kesulitan sesama masyarakat dalam menghadapi bencana. Kita juga harus sama-sama berdoa agar pandemi Covid-19 ini cepat selesai dan keadaan semakin membaik.

Penulis : Megawati  IAIN LANGSA

LEAVE A REPLY