Gubernur Khofifah : Semua Pihak Harus Punya Komitmen, Jawa Timur Bisa Turunkan Angka Pernikahan Usia Dini

0
108
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat Penyerahan Penghargaan K3 (Pembina K3, Zero Accident, Sistem Manajemen K3 (Smk3), dan Pencegahan Dan Penanggulangan HIV/AIDS (P2HIV/AIDS) Tahun 2021  & Workshop Dan Penandatanganan Pakta Integritas Pencegahan Perkawinan Anak di Gedung Negara Grahadi, Selasa (6/4/2021)

Surabaya, nawacita – Gubernur Provinsi Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, ada nota kesepahaman yang sudah dilakukan, di Jatim kerjasama sudah terjalin dengan baik, terbukti ada government, privat center, partisipasi masyarakat, akademisi dan media, dalam hal ini media juga memiliki peranan yang sangat penting. Sehingga semua pihak berkomitmen bagaimana provinsi Jawa Timur ini bisa menurunkan angka pernikahan usia dini.

Hal itu disampaikan Gubernur Khofifah saat penyerahan penghargaan K3 (Pembina K3, Zero Accident, Sistem Manajemen K3 (SMK3), dan Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS (P2HIV/AIDS) Tahun 2021  & Workshop dan Penandatanganan Pakta Integritas Pencegahan Perkawinan Anak, Selasa (6/4/2021)

“Kabupaten Sampang adalah daerah dengan angka dispensasi nikah terendah di Jatim,” kata khofifah.

Khofifah menjelaskan, selama ini identifikasi kemiskinan itu tercermin dengan angka pernikahan dini tinggi, tetapi persepsi yang selama ini sudah melekat dapat dibantah oleh pengadilan agama kabupaten Sampang, sehingga kabupaten Sampang yang angka kemiskinan masih  tertinggi di Jawa Timur namun dispensasi nikah malah terendah.

Khofifah juga menceritakan semasa dirinya mengandung anak keempat,  Gus Dur yang saat itu sedang menjabat sebagai Presiden RI  memintanya untuk menjadi kepala BKKBN Pusat.

“Saya hamil anak8 keempat, Gus. Bagaimana saya menjelaskannya, saya ingat waktu itu Gus Dur menjawab sekarang yang penting adalah bagaimana membangun ketahanan keluarga,” kenangnya.

Gus Dur menjelaskan pasangan yang tidak memiliki keturunan atau pasangan dengan satu orang anak tidak dijamin bahwa mereka tidak bercerai. “Yang terpenting itu adalah menjaga ketahanan keluarga dan membentuk keluarga yang berkualitas,” ungkapnya.

Di Jatim, sambung Khofifah, kabupaten Pasuruan adalah kabupaten dengan ketahanan keluarga tertinggi. Untuk itu, diharapkan kabupeten Pasuruan bisa menjadi model di Jatim.

Sementara itu Kadisnakertrans Jatim, Himawan Estu Bagijo mengatakan maksud dan tujuan kegiatan penyerahan penghargaan K3 tahun 2021 merupakan salah satu upaya dari pemerintah pemerintah provinsi Jawa Timur untuk memberikan apresiasi atas keberhasilan pelaksanaan K3 di sektor usaha dan upaya mendorong pelaksanaan K3 secara terus menerus dan berkesinambungan melalui penguatan sumber daya manusia yang unggul dan berbudaya K3 pada semua sektor usaha.

Sedangkan maksud dan tujuan dilaksanakan kegiatan workshop dan penandatanganan pakta integritas pencegahan perkawinan anak adalah meningkatkan peran dan kapasitas mitra dan organisasi kemasyarakatan seluruh pemangku kepentingan dalam pencegahan perkawinan anak di Jatim.

Pada penyerahan penghargaan K3 tahun 2021, gubernur memberikan penghargaan kepada 536 penganugerahan apresiasi K3 kepada bupati/walikota dan perusahaan – perusahaan di wilayah Jawa Timur yaitu  bupati/ walikota pembina keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Jawa Timur  yaitu walikota Surabaya, Bupati Gresik, Bupati Pasuruan, Bupati Sidoarjo, Bupati Tuban, Bupati Lamongan, Bupati Mojokerto, Walikota Madiun, Bupati Malang dan Bupati Bojonegoro.

Penerima penghargaan zero accident tahun 2021 sejumlah 337 (tiga ratus tiga puluh tujuh) perusahaan, yang meliputi   48 perusahaan dari kab. Gresik, 40  perusahaan dari kota Surabaya, 40 perusahaan dari kab. Pasuruan, 32 perusahaan dari kab. Tuban, 32 perusahaan dari kab. Sidoarjo, 26 perusahaan dari kab. Lamongan, 21 perusahaan dari kota Madiun, 12 perusahaan kab Bojonegoro dan 12 perusahaan dari kab. Mojokerto.

LEAVE A REPLY