Jejak Langkah Usmar Ismail Rangsang Gairah Film Indonesia

0
413
Salah satu adegan bernyanyi dalam film Tiga Dara karya Usmar Ismail. (Foto: Dok. Perfini dan S.A Films)

Jakarta, Nawacita – Setiap tahunnya, bangsa Indonesia memperingati hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret.

Hari bersejarah bagi pelaku film Indonesia tersebut rupanya merupakan hari pertama pengambilan gambar film perdana dari bapak Film Nasional, Usmar Ismail yang berjudul Darah dan Doa (1950).

Mengutip dari laman kemendikbud, pria kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat pada 20 Maret 1921 ini diketahui memiliki darah seni yang mengalir dalam dirinya. Ia memiliki seorang kakak bernama Abu Hanifah, yakni seorang sastrawan yang dikenal dengan nama pena El Hakim.

Terlahir dari keluarga berpendidikan tinggi, Usmar Ismail tergolong siswa dengan latar belakang pendidikan yang baik

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di HIS (sekolah dasar) di Batusangkar, Usmar Ismail melanjutkan pendidikan ke MULO (setara dengan SMP) di Simpang Haru, Padang.

Jurnalis senior Rosihan Anwar, yang merupakan rekan Usmar Ismail semasa bersekolah di MULO menyebut Usmar Ismail sudah menunjukkan bakatnya sebagai pengarah adegan.

Pada saat itu Usmar Ismail dan teman-temannya, antara lain Rosihan Anwar, ditunjuk menjadi salah satu penampil dalam acara perayaan hari ulang tahun Putri Mahkota, Ratu Wilhelmina, di Pelabuhan Muara, Padang.

Dalam acara itu, Usmar bertindak sebagai sutradara untuk menyajikan suatu pertunjukan dengan penampilan yang gagah, unik, dan mengesankan.

Ia bersama teman-temannya hadir di perayaan tersebut dengan menyewa perahu dan pakaian bajak laut. Sayang, acara yang direncanakan itu gagal karena mereka hampir pingsan kelelahan setelah mengayuh perahu menuju Pelabuhan Muara.

Setelah dari MULO, Usmar kemudian hijrah ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Usmar semakin banyak terlibat dengan dunia sastra.

Ia bahkan aktif dalam kegiatan drama di sekolah dan mulai rajin mengirim karangannya ke berbagai majalah. Bakat menulisnya diasah di momen tersebut.

Setamatnya dari SMA, ia melanjutkan pendidikan ke University of California di Los Angeles, Amerika Serikat. Sepulang dari luar negeri, bakat seni Usmar Ismail termasuk sinema kian berkembang.

Karier dimulai saat ia bekerja di Keimin Bunka Sidosho ( Kantor Besar Pusat Kebudayaan Jepang). Di tempat itu, ia bersama Armijn Pane dan budayawan lainnya bekerja sama untuk mementaskan drama.

Tak lama, Usmar Ismail bersama kakaknya, El Hakim, dan beberapa temannya seperti Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, serta H.B. Jassin mendirikan kelompok sandiwara yang diberi nama Maya. Kelompok ini mementaskan sandiwara berdasarkan teknik teater Barat.

Hal itu kemudian dianggap sebagai tonggak lahirnya teater modern di Indonesia. Sandiwara yang dipentaskan Maya, antara lain, Taufan di Atas Asia, Mutiara dari Nusa Laut, Mekar Melati, dan Liburan Seniman.

Sesudah masa proklamasi kemerdekaan, Usmar yang terjun ke dunia jurnalistik sempat merasakan jeruji penjara oleh Belanda karena dituduh terlibat kegiatan subversi.

Setelah Belanda pergi dari Indonesia, Usmar Ismail kembali melanjutkan minatnya yang lebih serius pada perfilman.

Lewat bantuan Anjar Asmara, teman sekolahnya sewaktu di Yogyakarta, Usmar Ismail terjun ke dunia film sebagai asisten sutradara dalam film berjudul Gadis Desa.

Setelah itu, ia kembali terlibat pada penggarapan film berikutnya, seperti Harta Karun, dan Citra.

Tak lama kemudian, Usmar Ismail pun memberanikan diri menjadi sutradara yang ditunjukkan lewat karya perdananya berjudul Darah dan Doa (1950). Film ini bahkan dinobatkan sebagai film pertama Indonesia karena disutradarai oleh orang Indonesia.

Selain film itu, Usmar Ismail juga menyadari beberapa film lain diantaranya Enam Jam di Yogya (1951), Dosa Tak Berampun (1951), Krisis (1953), Kafedo (1953) Lewat Jam malam (1954), Tiga Dara (1955), dan Pejuang (1960).

Setelah malang melintang sebagai sutradara, Usmar Ismail meninggal dunia pada 2 Januari 1971 karena penyakit stroke dalam usia hampir genap lima puluh tahun.

Tak hanya menetapkan tanggal pengambilan gambar film Darah dan Doa sebagai hari Film Nasional, pemerintah Indonesia juga menobatkan namanya sebagai nama gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) yang terletak di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.

cnn

LEAVE A REPLY