DPD RI Minta Gubernur Tolak Beras Impor Masuk Jatim

0
290
Ahmad Nawardi.

Surabaya, Nawacita – Polemik masuknya beras impor ke Indonesia membuat sejumlah pihak angkat bicara. Salah satunya Senator DPD RI asal Jawa Timur Ahmad Nawardi.

Dirinya khawatir jika sampai beras impor ini masuk ke Jawa Timur dipastikan akan merugikan masyarakat khususnya petani. Karena akan merusak harga beras di Jatim. Apalagi saat ini memasuki musim panen.

Karena itu, dirinya minta agar Gubernur Khofifah Indar Parawansa untuk menolak beras impor masuk Jatim.

“Beras impor masuk menjadikan semakin murah harga gabah, harga beras. Ini gubernur harus tegas menolak beras impor masuk Jatim. Kalau lewat ndak masalah, misalnya mau masuk ke wilayah Indonesia timur karena disana kekurangan beras silahkan. Tetapi untuk masuk jatim, gubernur harus melindungi agar tidak merusak harga!” tegasnya, Jumat (19/3/2021) di Surabaya.

Bahkan Nawardi berharap tidak ada bongkar muat beras impor di Wilayah Jatim, upaya ini untuk menjaga agat tidak terjadi rembesan.

“Kayak jamannya pakde Karwo dulu kan tegas menolak beras impor masuk atau merembes ke Jatim, akhirnya dialihkan pembongkarannya. Itu menurut saya cara melindungi petani di Jatim,” ungkap senator yang juga ketua HKTI Jatim ini.

Lanjut Nawardi, situasi pandemi sudah membuat masayarakat terpuruk, jangan sampai kedatangan beras impor membuat petani semakin berat. “Petani sudah susah gini (di masa pandemi), apalagi ditambah pas musim panen beras impor datang,” ungkapnya.

Untuk pengawasan, dirinya yakin satgas pangan di Jatim akan bekerja ekstra keras untuk menjaga masalah ini. Karena Jatim sebagai salah satu daerah dengan produksi beras terbesar di Indonesia tidak membutuhkan beras impor.

Sementara itu, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras di Jatim pada tahun 2020 mencapai 10,02 juta ton dengan total luas panen 1,76 juta hektare. Ini meningkat dibanding tahun 2019 yang total produksinya 9,58 juta ton beras. Jika dikurangi dengan kebutuhan konsumsi beras, maka Jatim masih mengalami surplus 1,50 juta ton beras di tahun 2020.

“Jika mengacu data BPS, jatim ini tidak butuh beras impor. Baik di masa panen maupun masa tanam padi,” tegas Nawardi. (*)

LEAVE A REPLY