Masuk dari Jember, Keluar di Banyuwangi

0
60

Jember | Nawacita – Melintasi Terowongan Mrawan sepanjang 690 meter, pengguna jasa kereta api bakal merasakan kesan sejarah yang sangat kental. Pelaksana Harian (Pelakhar) Manajer Humas Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 9 Jember Radhitya Mardika Putra menjelaskan bahwa Terowongan Mrawan dibangun pada kurun waktu 1901-1902. Lalu, dilakukan penyempurnaan bangunan pada 1910 oleh Perusahaan Kereta Api Negara, Staatssporwegen (SS).

“Dulunya, pembangunan terowongan itu masuk ke dalam proyek pembangunan jalur kereta api Kalisat-Banyuwangi yang dipimpin oleh seorang hoofdingienieur alias kepala insinyur,” lanjutnya.

Untuk teknis pembangunan terowongan, Radith menerangkan, penggalian diawali di bagian sisi arah Kalisat, tepatnya di sebelah Gunung Botoh. Kemudian, dilakukan penggalian pada sisi arah Banyuwangi. Selanjutnya, dilakukan penggalian secara bersamaan. “Pada 5 Desember 1902, penggalian terowongan sudah mencapai 450 meter dengan drainase sepanjang 300 meter,” lanjutnya.

Pada awal pengoperasiannya, terowongan yang menghubungkan Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi tersebut digunakan sebagai sarana penumpang serta pengangkutan komoditas ekspor seperti kopi, gula, beras, serta pengangkutan hasil pertanian sehari-hari masyarakat di wilayah Banyuwangi dan sekitarnya.

Kini, lokasi tersebut kerap menjadi jujukan wisatawan yang hendak berswafoto di pintu masuk terowongan. Namun, karena masih menjadi terowongan yang aktif dilalui sejumlah relasi perjalanan kereta api, maka pengunjung tetap harus berhati-hati saat berada di sana.

Petugas jaga terowongan (PJTW), Budi Hartono menerangkan, selain mengamankan akses kereta, pria kelahiran Banyuwangi itu menjelaskan bahwa dirinya juga bertugas untuk mengamankan siapa pun yang mendekat ke Terowongan Mrawan. Baik pengunjung maupun warga sekitar. “Siapa pun hanya boleh berfoto-foto di luar terowongan. Jadi, tidak boleh masuk,” tegasnya.

radarjmbr

LEAVE A REPLY