“Manten Pegon” Sebuah Prosesi Budaya Menikah Asal Surabaya

0
564

Surabaya | Nawacita – Sebuah prosesi nikah khas kota SurabayaYang lahir dari akulturasi budaya eropa (belanda),arab cina dan jawa

Upacara manten pegon terdiri dari dua bagian yakni upacara pranikah dan upacara nikahan

Upacara pranikah dimulai dari, njodokno/nelisik(menjodohkan) , ndelok /nontoni(melihat),  nakokno/ngelamar(melamar), pinengsetan malam manggulan (midodareni) dan upacara langkahan.

Sementara itu upacara nikahan terdiri dari ijab qabul dan temu pengantin

Ada beberapa komponen dari awal hingga akhir yang menjadi ciri khas “Manten Pegon” Berikut keterangan dari komponen tersebut

Rontek : tiruan bunga manggar yang dililiti kertas warna warni

Melambangkan keruwetan yang dialami dan keinginan untuk menjadi pengantin telah terlaksana/”udarung roso”

Payung kebesaran : memiliki makna untuk memberi pengantin

 

Jagoan loro pangkon : orang yang membawa ayam jago depan pengantin pria sebagai symbol pengantinyang gagah berani dan ulet dan pekerja keras

Lerok : Penari edan edanan yang berdandan menyerupai monyet/bedes dengan maksud seseorang tidak boleh memandang orang lain dari segi fisik/rupa saja

Adu parikan : adegan dimana jagoan loro pangkon dari kedua mempelai saling bersautan

Adu silat : kemudian dilanjut adu pencak silat untuk memperebutkan ayam jago Prosesi ini berlangsung hingga jagoan utama berhasil memenangkan adu silat dan mendapat ayam jago yang berisi uang dan perhiasan

Jodhang : merupakan nama lain dari upacara seserahan jodhang itu sendiri berisi jajan pasar,Makanan satu set pakaian untuk mempelai

Panggih : Adegan dimana dipertemukan pengantin pria dan wanitan kemudian dilanjut bersalaman dari kedua mempelai hingga adegan sungkem yaitu sebagai wujud kebaktian seorang istri kepada suami

Nah itulah Prosesi adat pernikahan ala Surabaya asli yang di daulat sudah perkembang sejak penjajahan belanda dan pedagang cina arab masuk ke wilayah kota pahlawan. Apakah kalian tertarik menikah dengan adat tersebut.

rdks/nwct

LEAVE A REPLY