Hari Terakhir Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana di Balai Kota

0
164

Surabaya | Nawacita – Pengabdian Whisnu Sakti Buana bagi Surabaya berakhir. Dia purnatugas kemarin (17/2). Namun, pria yang akrab disapa WS itu tak ingin cepat-cepat pensiun. Sebab, masih ada mimpi yang belum diwujudkan.

’’di akhir masa jabatan, saya mendapatkan kado yang sangat indah. Pak Fikser (kepala diskominfo) mengirimkan pesan lewat WhatsApp (WA). Kemarin (16/2) tidak ada penambahan kasus korona di Surabaya,’’ ucap mantan Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana pada momen serah terima jabatan.

Untaian kata itu menjadi ucapan perpisahan bagi Whisnu. Sebab, terhitung sejak 17 Februari, amanah yang dia emban selaku pemimpin daerah tuntas. Pengabdian selama enam tahun berakhir.

Acara serah terima jabatan kemarin terbilang sederhana. Tidak ada karangan bunga. Hanya pemberian cenderamata serta seremonial tanda tangan pergantian pimpinan. Berlanjut makan bersama.

Bagi Whisnu, prosesi sederhana itu sudah lebih dari cukup. Kerja bersama selama enam tahun tidak bisa tergantikan hanya dengan pemberian hadiah. ’’Kado dari Pak Fikser sangat berkesan,’’ ucapnya.

Jejak pengabdian WS di pemkot dimulai sejak 2014. Saat itu, dia mendapatkan tugas baru. Menjadi pengganti Wakil Wali Kota Bambang Dwi Hartono (Bambang D.H.) yang memutuskan untuk mundur.

Sejatinya, kala itu WS telah menjadi pejabat. Duduk sebagai wakil ketua DPRD Surabaya. Namun, panggilan tugas tersebut tidak bisa ditolak. Putra mantan Sekjen DPP PDIP Soetjipto itu menerima tugas baru. Sebagai wakil wali kota Surabaya.

Tidak butuh waktu lama bagi WS beradaptasi. Alumnus ITS itu langsung bahu-membahu bersama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Menata kota. Mempercepat pembangunan.

Pada periode selanjutnya, WS kembali mendampingi Risma. Keduanya maju dalam pemilihan wali kota (pilwali) 2016.

Baca Juga : Whisnu Sakti Buana Pamit sebagai Wali Kota Surabaya

Pasangan yang diusung PDIP itu menghadapi Rasiyo-Lucy Kurniasari.

Hasilnya, duet banteng itu mampu menjadi jawara pada kontestasi politik. Risma-WS menang telak. Persentase suara yang didapatkan 86,22 persen. Artinya, publik menaruh kepercayaan yang sangat tinggi. Keduanya mampu melanjutkan pembangunan.

Lewat kerja keras, satu per satu harapan warga itu diwujudkan. Pemkot terus menambah jumlah taman. Ruang terbuka hijau (RTH) tersebut menjadi peneduh Kota Pahlawan. Sekaligus memberikan tempat bagi warga beraktivitas.

Kini Surabaya telah berkembang pesat. Surabaya juga menjadi wilayah yang nyaman bagi warganya. Tentu capaian itu tidak terlepas dari buah kerja keras pemimpin daerah, Risma dan Whisnu. Sebab, cepat lambatnya pembangunan bertumpu pada kebijakan sang nakhoda.

Whisnu sempat memutar memori. Kembali mengingat masa ketika masih memegang kendali di pemkot. Suka dan duka memimpin ibu kota Jatim itu. Dia merasa bangga ketika turun ke warga. Memberikan penjelasan terkait dengan program pemkot. Juga menerima keluhan. Bagi Whisnu, sambatan tersebut menjadi evaluasi agar pemkot terus berbenah.

Nah, duka itu melanda awal tahun lalu. Ketika virus korona merebak di Surabaya, tidak sedikit warga yang terinfeksi virus mematikan tersebut. ’’Banyak yang tidak bisa bekerja ketika ada pembatasan,’’ jelasnya.

Namun, suami Dini Syafariah Endah itu memegang sebuah keyakinan. Tidak ada badai yang tak berujung. Pasti menemukan kedamaian. Pelan namun pasti, pemkot mampu mengendalikan persebaran Covid-19 lewat program tracing, testing, dan treatment yang masif. Surabaya kembali menghijau.

Peran alumnus ITS itu semakin terlihat ketika Risma dipinang Presiden Joko Widodo menjadi menteri sosial (Mensos). Akhir tahun lalu Whisnu naik menjadi Plt wali kota Surabaya. Sejumlah langkah dilakukan untuk menekan angka persebaran Covid-19. Sebab, saat itu virus korona kembali melonjak. Tingkat kedisiplinan warga menurun.

Menurut Whisnu, korona mampu dikalahkan dengan bantuan seluruh elemen warga. ’’Kami aktivasi kembali kampung tangguh yang mati suri,’’ paparnya.

Selang dua bulan, pria 46 tahun tersebut kembali naik jabatan. Pemerintahan menetapkan Whisnu sebagai wali kota Surabaya. Melanjutkan kepemimpinan Risma. Tak banyak waktu yang didapatkan Whisnu. Terhitung hanya tujuh hari dia menjabat. Namun, bukan berarti pada masa yang singkat itu, dia hanya berdiam diri.

Politikus PDIP itu membuat dua kebijakan anyar. Pertama, memberikan dana kampung tangguh untuk kali kedua. Dengan bantuan tersebut, dia berharap geliat kampung tangguh kembali ada. Bisa menekan persebaran Covid-19.

Langkah kedua, dia menyerap aspirasi penghuni surat ijo. Hasilnya, WS berkirim surat ke pemerintah pusat. Meminta persoalan itu segera dituntaskan. Dia meminta pemerintah memberikan lampu hijau agar aset tersebut bisa diserahkan kepada warga.

Kiprah WS di pemkot memang sudah berakhir. Namun, pengabdian bagi warga Surabaya belum tertutup. Masih ada ruang itu. ’’Pengabdian tidak harus mengemban jabatan,’’ paparnya.

Selepas menjabat wali kota, Whisnu bakal kembali ke rumah keduanya. Yaitu, di PDIP. Hingga saat ini dia menjabat wakil ketua DPD PDIP Jatim. Dia menjelaskan, tugas kepartaian belum berakhir. WS akan fokus bekerja untuk partai. ’’Kita kuatkan PDIP di Jatim. Pertahankan kemenangan pada 2024,’’ tegasnya.

Jp

LEAVE A REPLY