Gubernur NTB Siapkan Karpet Merah untuk Pengusaha Jatim

0
124

Surabaya | Nawacita – Gubernur NTB H Zulkifliemansyah bertemu dengan para pengusaha Jawa Timur di Surabaya. Difasilitasi Yayasan Surabaya Peduli Bangsa (SPB), gubernur berdialog dengan 64 pengusaha skala besar dan sangat besar di ballroom Graha SPS, Surabaya, Selasa (2/2) lalu.

Pada kesempatan itu, Bang Zul, sapaan akrab gubernur NTB menjadi sales bagi daerah yang dipimpinnya. Segala potensi NTB mulai dari kelayakan jalan, pelabuhan, akses perizinan, dan sumber daya alamnya dikemukakan. Untuk sigap menindaklanjuti minat pengusaha, Zul membawa jajaran muspida.

“Investasi dari Jawa Timur yang masuk ke NTB cukup banyak. Mulai bidang properti, hotel, udang, dan lobster. Kali ini kita buka lagi, bahwa NTB masih punya banyak potensi untuk pengusaha dapat berinvestasi,” ungkapnya saat melayani wawancara wartawan.

Gubernur berjanji menyiapkan karpet merah bagi para pengusaha yang akan berinvestasi di Bumi Gora. Harapannya, ada banyak tenaga kerja yang diserap.

Pengusaha yang tergabung dalam Yayasan SPB menanggapi positif paparan Bang Zul. Dimana komitmen pemerintah dibutuhkan saat pengusaha berani berinvestasi ke daerahnya. Karena kendala yang kerap dihadapi adalah SDM yang kurang dan penolakan warga.

“Dalam forum seperti yang kita dengar banyak pengusaha curhat. Ini butuh ada solusi karena kalau tidak begitu, minat ada tapi realisasi masih banyak pertimbangan,” ungkap Halim Rusli, ketua umum Yayasan SPB. Yayasan ini menaungi 64 pengusaha besar di Surabaya.

 

Sampaikan Arahan Presiden untuk Produksi Lokal Kualitas Ekspor

Untuk mendalami kemungkinan kerja sama, di hari kedua kunjungan di Jatim, rombongan Pemprov NTB berkunjung ke kompleks industri SPS Corporate, Rabu (3/2). Diawali ke Synergi Power Source, pembangkit listrik yang menyuplai listrik ke grup SPS. Kemudian berkunjung ke pabrik Sun Paper Source, produsen tisu terbesar kedua di Asia Tenggara.

Tisu dari Sun Paper Source sebagian besar diekspor ke luar negeri. Sisanya dipasarkan di dalam negeri dengan berbagai merek. Di antaranya Montiss dan Pulpies.

Dalam sambutannya, Project Development Director SPS Corporate David Soekotjo mengungkapkan SPS masih punya banyak rencana ekspansi bisnis. Salah satu yang menjadi rencana adalah pembangunan pabrik pulp. Tahapannya masih berhitung nilai investasi. “Dan juga masih observasi lahan yang cocok,” imbuh David.

Di bidang lain, SPS Corporate juga memiliki produsen bata ringan yakni PT Superior Prima Sukses. Produk bata ringan ini dipasarkan dengan merek Blesscon, yang baru-baru ini mendapatkan penghargaan Top Brand Awards 2021 karena keberhasilannya mejadi top of mind share, top of market share serta top of commitment share di masyarakat.

Kapasitas produksi pabrik Blesscon di Ngoro, Mojokerto dan Lamongan sudah mencapai 1,1 juta meter kubik per tahun. Tahun ini Blesscon mengoperasikan pabrik di Sragen, Jawa Tengah. “Akan ada dua plant di Sragen. Satu sudah beroperasi per februari 2021 ini, satu lagi di bulan Novembertahun ini juga,” kata Henrianto, commercial director Superior Prima Sukses.

Dengan total 4 plant tersebut,Blesscon akan memiliki kapasitas produksi 2,7 juta m3 per tahun. Yang artinya, Blesscon adalah produsen bata ringan terbesar di Indonesia. Pandemi memang memukul semua sektor, baik industri tisu hingga batu bata ringan. Quarter 1 tahun 2020 lalu, penjualan memang merosot. Pengusaha tentu akan mencari jalan untuk tak terpuruk keadaan. “Setelahnya demand meningkat. Yearly growth kami tahun 2020 naik mencapai 9 persen dibanding 2019,” terang Henri.

Gubernur Zulkifliemansyah mengatakan belajar banyak dari kunjugnan ke kompleks industri SPS. Menurutnya pandemi membuat rugi banyak pihak, namun dapat juga menjadi blessing in disguise. “Ternyata selama pandemi, demand terhadap produk lokal kualitas ekspor dahsyat sekali. Oleh karena itu semangat ini bisa kami ikuti, syukur-syukur terwujud dalam bentuk investasi yang bisa menjadi legacy di Indonesia Timur,” ungkapnya.

Bang Zul juga mengatakan bahwa sejak periode pertama, presiden Jokowi telah menekankan untuk memberi nilai tambah pada produk lokal untuk mampu bersaing di pasar global. Produk dalam negeri yang beriorientasi lokal menjadi prioritas pemerintah. “Oleh karena itu aparat kemanan dan kebijakan pemerintah, bila ada orientasi ekspor (usaha tersebut, Red) harus diberi perhatian lebih,” tutupnya.

JP

LEAVE A REPLY