Menpar Sandiaga Uno Tak Perlu Sensi Dikacangin DPR

0
300
Sandiaga Uno.
Sandiaga Uno.

Jakarta | Nawacita – Belum banyak kerja Menparekraf Sandiaga Uno sudah bikin berang koleganya di Senayan. Politisi PDIP Putra Nababan berkomentar keras atas postingan instagram Sandi yang menyinggung Komisi X DPR.

Persoalan dipicu oleh status Sandi di medsos yang mengeluhkan rendahnya minat lari pagi orang-orang Komisi X. Ajakannya untuk jogging di sekitar GBK hanya direspon oleh 2 orang dari 50 lebih anggota.

Annggota DPR yang enggan berkeringat lari pagi berjamaah mesti berhak ngomel atas ulah Sandi itu karena merasa bukan anak buah menteri. Justru sebaliknya, sebagai legislatif mereka bisa sewaktu-waktu memanggil eksekutif untuk minta klarifikasi satu perkara.

Ada selisih sudut pandang antara Sandi dengan DPR soal relasi kerja dan orientasi penggunaan medsos.

Baca : Sandiaga Uno akan Berkantor di Bali

Mestinya Sandi tak perlu menunggu DPR untuk berbuat. Kerja saja, dan satu waktu mungkin malah harus terpaksa mempersiapkan diri dicecar atas program-programnya. Belum apa-apa sudah mengusik legislatif itu jelas kekeliruan.

Kemudian soal medsos, Sandi juga harus lebih mampu baca situasi. Posisinya sebagai pembantu presiden tidak hanya mewakili diri sendiri saja tetapi membawa lembaga yang dipimpinnya yaitu Kemeterian Pariwisata dan lembaga kepresidenan.

Dalam kesempatan yang sama Putra Nababan mengeluhkan postingan mantan cawapres yang mengunggah aktivitasnya saat rapat dengan komisi sehari sebelumnya. Bahkan Sandi yang kerajinan update status medsos tak urung mendapat pengamatan serius dari DPR. Mereka minta agar menteri fokus kerja, bukan aktif di dunia maya.

Soal ajakan lari pagi di GBK itu mungkin akan berbuntut. Meski sudah dihapus Sandiaga diminta mengklarifikasi hal itu karena sudah terlajur sampai kepada publik. Undangan tersebut dianggap fiktif dan rekayasa oleh Komisi X dan membentuk framing negatif bagi pihaknya.

Jika menengok kembali ke belakang, Sandi Uno cukup menonjol dalam hal sikap spontannya. Pengelolaan atas kecenderungan itu dan kemampuannya untuk sedikit menahan gejolak kegalauan hati mutlak diperlukan sebagai pejabat publik.

Insiden yang cukup fenomenal dahulu adalah ketika menghilang beberapa waktu pada masa-masa Pilpres 2019 baru saja rampung. Ketika muncul di depan publik bersama Prabowo, Sandi memperlihatkan wajah murung sebagai ekspresi ketidakcocokkan dengan partnernya itu dalam menyikapi kekalahan mereka.

Dalam tataran idealita ekspresi Sandi tersebut tentu menyenangkan publik, terlebih-lebih kubu lawan politiknya. Tetapi dalam tataran realitas, sebagai pemuncak elit politik yang sedang disorot publik mestinya Sandi lebih mampu menenggang suasana komunitas di sekelilingnya saat itu dengan minimal menampilkan wajah datar atau netral.

Baca : Sandiaga Uno Optimis Teknologi Dorong Perubahan di Indonesia 2021

Belum banyak kerja Menparekraf Sandiaga Uno sudah bikin berang koleganya di Senayan. Politisi PDIP Putra Nababan berkomentar keras atas postingan instagram Sandi yang menyinggung Komisi X DPR.

Persoalan dipicu oleh status Sandi di medsos yang mengeluhkan rendahnya minat lari pagi orang-orang Komisi X. Ajakannya untuk jogging di sekitar GBK hanya direspon oleh 2 orang dari 50 lebih anggota.

Anggota DPR yang enggan berkeringat pagi-pagi mesti berhak ngomel atas ulah Sandi karena merasa bukan anak buah menteri. Justru sebaliknya, sebagai legislatif mereka bisa sewaktu-waktu memanggil eksekutif untuk minta klarifikasi satu perkara.

Ada selisih sudut pandang antara Sandi dengan DPR terkait relasi kerja dan orientasi penggunaan medsos.

Mestinya Sandi tak perlu menggantungkan diri atau menunggu apresiasi DPR untuk berbuat. Unjuk kerja saja dahulu, dan malah harus mempersiapkan diri untuk dicecar atas program-programnya. Belum apa-apa sudah mengusik legislatif itu jelas sebuah kekeliruan.

Kemudian soal medsos, Menpar Sandi harus mampu baca situasi. Posisinya sebagai pembantu presiden tidak hanya mewakili diri sendiri tetapi juga membawa nama Kementerian Pariwisata.

Selain tentang undangan lari pagi,  Putra Nababan mengeluhkan postingan mantan cawapres yang mengunggah aktivitasnya saat rapat dengan komisi sehari sebelumnya. Kerajinan mantan Wagub DKI update status medsos tak urung mendapat sorotan serius. Ia meminta agar menteri fokus kerja saja, bukan aktif di dunia maya.

Posting acara lari pagi yang gagal itu mungkin akan berbuntut. Meski sudah dihapus Sandiaga diminta mengklarifikasi karena sudah terlajur menjadi konsumsi publik. Undangan tersebut dianggap fiktif dan rekayasa oleh anggota Komisi X itu dan dapat membentuk framing negatif bagi pihaknya.

Jika menengok kembali ke belakang, Sandi Uno cukup menonjol dalam hal sikap spontannya. Pengelolaan atas kecenderungan itu dan kemampuannya untuk sedikit menahan gejolak kegalauan hati mutlak diperlukan sebagai pejabat publik.

Insiden yang cukup fenomenal dahulu adalah ketika menghilang beberapa waktu pada masa-masa Pilpres 2019 baru saja rampung. Ketika muncul di depan publik bersama Prabowo, Sandi memperlihatkan wajah murung sebagai ekspresi ketidakcocokkan dengan partnernya itu dalam menyikapi kekalahan mereka.

Dalam tataran idealita ekspresi Sandi tersebut tentu menyenangkan publik, terlebih-lebih kubu lawan politiknya. Tetapi dalam tataran realitas, sebagai pemuncak elit politik yang sedang disorot publik mestinya Sandi lebih mampu menenggang suasana komunitas di sekelilingnya saat itu dengan minimal menampilkan wajah datar atau netral.

Soal kecewa dikacangin DPR dengan cuma 2 dari 50 respon positif yang diharapkan jelas manusiawi. Namun mengekspresikannya secara spontan di depan publik tentu tidak tepat karena persoalan beda persepsi dan irama kerja bisa saja terjadi sehingga pihak lain dapat memberikan reaksi yang lebih buruk.

Lingkungan kerja seorang menteri sendiri sudah pasti lebih beragam dari berbagai strata, baik vertikal maupun horizontal. Ada DPR, presiden, menteri koordinator, sesama menteri, jajaran pejabat kementerian sendiri, dan pihak eksternal lain. Tanpa pengelolaan relasi yang baik harmoni kerja akan sulit tercapai.

Ketidaksinkronan frekuensi atau irama kerja pada gilirannya hanya akan menimbulkan ketidaknyamanan yang menggerogoti produktivitas. Waktu pun bisa habis hanya untuk mengurusi problem-problem turunan yang mestinya bisa dihindari sejak awal.

Langkah Sandi merekrut Dino Patti Jalal sebagai penasehat –atau sebagai mentor– bolehlah jadi katalis untuk beradaptasi dengan lingkungan eksekutif yang dinamis. Sementara menteri lain sudah setahun lebih belajar di kelas, Sandi masuk belakangan dan tertinggal banyak pelajaran.

Akan tetapi hal-hal yang sifatnya pembawaan tidak bisa tercover oleh bimbingan atau arahan dari seorang penasehat yang lebih menyangkut aspek teknis dan kognitif. Dorongan hasrat dari dalam, gejolak emosi, kecewa, dan muara ekspresinya yang ditampilkan sebagai wajah publik di sisi lain berada dalam kuasa otoritas pribadi yang tak tersentuh.

Sandi agaknya perlu menambah margin waktu respon dalam mengelola penampilan publiknya. Mengurangi bermain medsos dan tak terburu-buru mengharapkan hasil bisa menjadi awal yang baik. Pahami dulu situasinya dan baru kemudian membuat kesimpulan dan reaksi adaptif.

Kompasiana

LEAVE A REPLY